
Sore itu aku dan Hira, sama-sama pulang kerja. Aku lelah, dan Hira kupastikan juga lelah.
Tak ada apa-apa di meja makan. Aku hanya bisa menelan salivaku. Padahal, lapar berat.
Jadi, aku putuskan beli nasi padang saja, kenyang. Hira, kutawari juga makan nasi padang.
"Lauk perkedel sama dendeng batokok," katanya.
"Oke. Aku juga ah lauk dendeng batokok," kataku padanya.
Tak lama, aku melaju dengan mobil combetku menuju warung nasi padang langganan. Sebenarnya aku kurang suka nasi padang karena porsinya banyak banget.
Nah, yang suka dan paling doyan nasi padang itu, Hira. Kata dia, makanan nasi padang itu paling mengggugah selera.
"Sayang, kalau ada perkedelnya, mau ya. Bilangin sama penjualnya," kata Hira, lewat chat. Beberapa saat setelah aku meluncur ke jalan.
"Oke," jawabku singkat. Fokus pada tujuan, menuju warung nasi padang langganan.
"Perkedelnya habis, Hira," kataku, saat sudah tiba di warung nasi padang langganan.
"Ya udah, nggak apa-apa, yang ada aja. Dendeng batokok," jawab Hira.
Setengah jam kemudian, aku sampai rumah dengan menenteng dua bungkus nasi padang.
***
"Mas, pakai pembantu dong kita. Nggak mungkin kita terus-terusan beli nasi bungkus atau makan di luar. Nanti nggak sehat bayi aku yang ada di dalam kandungan ini," kata Hira, tiba-tiba dan buat aku sedikit keselek.
"Huk...huk!" cepat-cepat aku meraih termos air putih, supaya aku nggak sakit berlanjut, setelah keselek makanan.
"Gaji aku berapa, sayang. Pakai pembantu segala," kataku menahan rasa kesel. Karena, permintaan dia buat aku pusing kepala.
"Kita aja suka makan di luar, habis berapa. Masa kita nggak sanggup bayar pembantu," katanya bernegosiasi.
"Kalau ada pembantu, pulang kerja kan ada makanan di rumah. Karena, jujur, aku memang nggak sempat masak untuk sarapan pagi, Mas," imbuhnya berusaha mendesakku.
"Sekarang, gini aja. Aku nggak sanggup kalau bayar pembantu. Kalau misalnya kamu aja gimana. Kan yang mau ada pembantu, kamu. Jujur juga, aku nggak punya uang lebih buat bayar pembantu. Kita bisa hidup kayak sekarang aja, alhmdulillah. Apalagi, nanti persiapan jelang kamu lahiran. Jadi, aku harus nabung lebih," kataku berusaha santai.
Dia diam. Tak berkata-kata lagi. Bahkan, dia cepat-cepat menghabiskan makanan nasi padangnya. Cuci tangan lalu masuk ke kamar.
__ADS_1
Dia memang suka tidur cepat. Padahal, jam dinding masih menunjukkan pukul 19.30 wib. Adzan isya juga baru selesai dikumangkan.
"Ya ampun, aku jadi sebel lihat dia. Sejauh ini, baru setahun menikah, kulihat baru kali ini Hira bermalas-malasan. Tepatnya setelah dia hamil muda.
***
Esok pagi, Hira masih tak mau ngomong sama aku. Semua bisa ditebak, pasti gara-gara kemauannya tak aku turuti.
Ya. Secara logika aja. Gaji kecil. Mau pakai pembantu. Terus, bayar gaji pembantu, pakai uang apa?
Memang rumah aku berantakan, kalau nggak ada pembantu. Sebab, aku dan Hira, sama-sama ke sekolah. Mengajar. Berangkat pagi jam 07.00 wib, sampai sore jam 17.00 wib. Jadi, maklum, nggak ada yang memperhatikan kondisi rumah.
Tapi, meski seperti itu, aku bersyukur. Masih bisa menikmati hidup. Dulu, waktu lajang, aku nggak peduli rumah mau berantakan atau nggak.
Sudah makan apa belum. Semua berjalan biasa-biasa saja. Nggak butuh orang lain, untuk memenuhi apa yang kurang dari kehidupan aku.
Sekarang, aku baru merasakan, betapa berat, orang yang berumah tangga. Banyak ujian, banyak godaan. Keduanya datang secara tiba-tiba, di hadapan aku. "Heheheheh kok aku jadi mengeluh," kata batinku, merintih.
Seharusnya, sebagai kepala rumah tangga, aku nggak boleh ngeluh. Harus tegar hadapi semua yang tiba-tiba terjadi dalam kehidupan kita.
***
Gantian aku yang diam, tak menanggapinya.
"Mas, gimana menurutmu?" desak Hira supaya aku memberi persetujuan atas usulnya tadi.
"Terserah," kataku sembari berlalu meninggalkan Hira.
Kami sama-sama diam, hingga akhirnya tiba-tiba datang Subandi, bertamu ke rumah aku.
Suasana pun mencair dengan hadirnya dia di rumah. Dia bawa oleh-oleh jagung muda. Katanya dikasih mertua.
"Bisa disayur bening dicampur pakai bayam nih, jagung mudanya," kataku di depan Subandi.
"Iya Mas Bro, jos gandos, kalau disayur. Dibakar juga enak, dikasih mentega. Buat malam mingguan sama Hira," kata Subandi memberi usul.
"Hmmm. Iya bagus juga ide kamu," kataku, spontan
"Ya udah, besok malam minggu kita bakar-bakar jagung aja. Aku tunggu ya. kamu sama Ratna harus datang," kataku lagi, penuh semangat.
__ADS_1
Subandi bilang oke. Malahan, dia senang kalau diundang.
"Makan ya Bro, aku beli nasi padang," kataku menawari Subandi.
"Eh nggak ah aku sudah maem, Mas Bro. Aku cuma pingin nganter jagung ini aja. Dikasih mertua, banyak banget. Aku sama Ratna, nggak sanggup kalau disuruh makan semua. Ada sekitar sepuluh kilogram," jelas Subandi serius.
"Ha. Banyak banget. Panen ya?" tanyaku.
"Iya Mas Bro," jawabnya.
"Kenapa nggak ajak aku kalau panen, kan aku bisa bantu petiknya," kataku sok-sok mau membantu.
"Oalah, Mas Bro. Nggak banyak kok. Cuma berapa puluh kilo saja," katanya merendah.
"Hmmm. Banyaklah kalau puluhan kilo," protesku.
"Heheheh," Subandi malah cekikikan.
"Yang penting kan aman, Mas Bro, sudah aku bawakan ke rumah. Jadi Mas Bro nggak perlu repot ke kebun," sebut Subandi.
"Lho nggak dijual toh hasil panen jagungnya. Ini kok malah dibagi-bagi ke aku." kataku.
"Ya nggaklah Mas Bro. Dibagikan aja. Biar berkah," kata Subandi memberi alasan.
Tiba-tiba Hira nyeletuk dan ikut nimbrung di ruang tamu. Tanya-tanya soal pembantu rumah tangga.
"Subandi, tahu nggak ya, orang yang mau disuruh kerja jadi pembantu. Datang pagi, pulang sore," kata Hira.
Hmmm. Dia merusak suasana hati aku. Padahal, sudah lupa bahas soal pembantu. Eh ini tanya-tanya sama Subandi.
"Hmmm. Siapa, ya. Hari gini susah cari pembantu jujur. Aku pernah punya pembantu, tapi dia suka mencuri barang-barang di rumah, dibawa dia pulang," jelas Subandi.
Sejenak, Hira diam. Berusaha merenungi apa yang menjadi penjelasan Subandi soal keberadaan pembantu.
"Setelah tahu mencuri, aku berhentikan saja, dia. Daripada buat susah. Mending nggak pakai pembantu. Memang, sejak ada pembantu, kerjaan Ratna beres.
"Pulang kerja, rumah rapi. Tapi, siapa sangka, dengan pembantu, jadi hidup makin rumit. Aku sama Ratna suka berkelahi gara-gara suka kehilangan uang. Awalnya nggak nyangka aja, kalau pencurinya adalah pembantuku itu. Hingga suatu hari, waktu kehilangan uang, Ratna menggeledah kamar pembantuku itu. Dia meletakkan uang di bawah kasur tempat tidurnya. Waktu aku desak, dia nggak mau ngaku. Waktu aku ancam dia mau aku laporkan polisi, dia langsung ngaku. Selesai urusan. Dia kusuruh pulang. Terus uang curiannya itu, kusuruh bawa aja." jelas Subandi bercerita detail soal pembantunya yang ketahuan mencuri.
"Tapi, kan nggak semua toh, pembantu itu bakal mencuri." Hira mencari pembelaan.(bersambung)
__ADS_1