
Sudah 2 hari, Hira tidur di rumah orang tuanya. Rindu juga sama dia. Seharian ini dia nggak ada hubungi aku.
"Hmmm. Dia cuek sama aku, hari ini. Padahal, aku kan suaminya. Masa iya nggak nanya sudah makan apa belum?" gerutuku kesel.
Tapi, mau gimana lagi. Mungkin dia lagi bahagia, sama ibu dan saudara-saudaranya. Aku, terpaksa menikmati masa bujangku lagi.
Pagi ini, bikin indomie goreng. Sarapan andalan, saat masih bujang dan setelah nikah.
Padahal, waktu sebelum nikah, selalu berkhayal, pagi-pagi sebelum berangkat mengajar ke sekolah, ada sarapan nasi goreng terhidang di meja makan.
Khayalan yang entah kapan benar-benar jadi kenyataan. Atau....mungkin aku harus berlapang dada, ketika khayalanku tadi, nggak akan pernah jadi kenyataan.
"Budiman, jangan jadi suami manja. Jadilah suami mandiri," kata batinku, mentertawakan diri sendiri.
"Oalah. Tuan Budiman. Jangan berkhayal jadi raja ya. Hahahahah!" kataku lagi.
Berangkat ke sekolah dengan perut lapar, sesuatu banget. Padahal, sudah punya istri. Lalu, apa gunanya istri. Hmmm....lagi-lagi merutuki nasib sendiri, yang jadi suami tak beruntung.
Aku selalu berdoa, semoga suatu hari Hira berubah. Padahal, aku dan dia, jadi pasangan suami istri satu tahun lebih.
Kenapa setelah nikah jadi begini. Tak sesuai ekspektasi. Ya sudahlah. Astagfirullah. Kenapa dengan aku? Dari tadi asik mengeluh.
Hari ini aku sengaja nggak mau jemput Hira di rumah orang tuanya. Padahal, seperti biasa. Pagi-pagi harus jemput dia, dan mengantarkannya ke sekolah..
Tapi tidak dengan hari ini. Aku ingin tahu, apa respon dia, saat aku juga nggak berkabar sama dia.
***
Sial. Sampai tengah malam, Hira nggak ada berkabar padaku. Lihat aja, nanti. Aku nggak mau berkabar ke dia juga.
Memangnya cuma dia yang bisa cuek. Aku, sebagai suami, juga bisa cuek. Lihat saja!
Aku niat chat ke Subandi. Minta pendapat dia kalau istri cuek, gimana solusinya.
Siapa lagi, sahabatku yang bisa diajak curhat, kalau bukan Subandi. Dia itu tahu jelek dan buruknya aku seperti apa.
Separah apa pun masalah yang aku ceritakan ke dia, dia selalu punya solusi untukku. Bagiku, dia sahabat sejati. Tak pernah menyalahkan aku, meski sejatinya terkadang aku berada di posisi yang salah.
Dia sahabat terbaik yang pernah aku punya. Orangnya sederhana. Nggak pernah macem-macem.
__ADS_1
***
"Jangan saingan cuek-cuekan dong Mas Bro. Kan mau jadi calon bapak," katanya menasehati aku.
"Iya maunya begitu. Tapi, dia cuek sama aku. Kalau kamu pernah nggak kayak aku. Istri kamu cuek! Hahahah." kataku sembari melepas tawa.
"Hehehehhe. Pernah, Mas Bro. Tapi aku yang nggak tahan. Terus aku menyapa Ratna dulu. Hahahahahah!" jawab Subandi, jujur.
"Terus, aku kamu suruh ngikut jejak kamu, begitu ya?" kataku.
"Hehehehehe. Ya nggak begitu sih Mas Bro," jawabnya.
"Tapi iya sih, aku merasa masih egois meski sudah setahun lebih menikah sama Hira," kataku lagi, curhat sama Subandi.
"Sama, Mas Bro. Aku juga terkadang masih egois," kata Subandi.
"Memang susah ya, menyatukan dua isi kepala. Masing-masing masih pingin menang sendiri," kataku.
"Siapa yang begitu, Mas Bro?" tanyanya, merasa jadi orang tertuduh.
"Hahahaha. Ya aku sendirilah. Siapa lagi kalau bukan aku?" kataku cepat-cepat mengklarifikasinya.
"Mas Bro. Malam ini nongkrong lagi, kita?" ajaknya.
"Siap. Aku ke rumah Mas Bro ya," katanya berjanji padaku.
"Oke!" kataku mengakhiri percakapan di whatsapp.
***
Subandi datang. Aku sudah stay di teras rumah. Tanpa banyak omong, aku langsung naik ke boncengan motor Subandi.
Sebelum melaju, Subandi kutawari naik mobil combetku. Tapi dia menolak. Katanya enak naik motor. Lebih gesit.
"Malu ya naik mobil bututku?" kataku iseng.
Subandi terkekeh mendengar pernyataanku tadi.
"Nggak gitu Mas Bro. Motor aku juga jelek," katanya merendah.
__ADS_1
"Yang pasti, enak pakai motor, lebih gesit," kata dia lagi.
"Yo wis. Sak karepmu," kataku.
(ya sudah, terserah kamu).
"Aku juga sebenarnya lebih suka pakai motor. Kemarin itu, kalau bukan karena Hira yang minta beli mobil, aku nggak bakal beli mobil," kataku saat di perjalanan.
"Eh sudah dibelikan, Hira malah protes. Kata dia, mobil combet. Butut. Kenapa nggak sekalian beli mobil baru, yang bagus." ceritaku, curhat sama Subandi.
"Ya sabar aja Mas Bro. Gampang nanti kalau ada uang kan bisa tukar tambah sama mobil yang baru," kata Subandi menenangkan aku.
Kubilang padanya," tukar tambah,
uangnya dari Hongkong?"
"Sekarang aja gara-gara tabungan menipis, aku harus berhemat. Makan seadanya." jelasku lagi.
"Ya sama, Mas Bro sama aku. Hidupku selalu berhemat, karena gaji aku juga pas-pasan," cerita Subandi, malah curhat ke aku juga.
"Sabar. Kita ini korban perempuan-perempuan......," kataku tapi tak kulanjutkan.
Subandi terkekeh mendengar kalimat aku itu. "Kayaknya kita senasib ya Mas Bro," imbuhnya.
"Maksudnya?" tanya dia, seolah tak paham apa maksud aku.
"Senasib punya istri yang maunya semua keinginan dia, dituruti." jelasku blak-blakan.
"Ya mau gimana lagi Mas Bro. Palingan, kita cuma bisa menerima keadaan. Nanti kalau pakai protes-protes segala, bisa jadi bakal perang dunia ke tujuh." ujarnya lagi.
Gantian aku yang terkekeh mendengar perkataannya. Dalam hati, dia memang laki-laki bijaksana. Mengalah sama istri.
"Eh kalau kamu nih, di posisi aku. Gajimu pas-pasan. Terus istrimu minta. beli mobil. Katanya meski seken nggak apa. Lalu apa responmu? Kamu turuti atau cuek?" tanyaku.
"Nanti kalau aku jawab, dapat hadiah nggak Mas Bro," tanya dia mengujiku balik.
"Hahahaahha. Nggak. Ngapain ngasih-ngasih hadiah. Emang kamu anak SD, yang ditanya presiden Jokowi, terus kalau pertanyaannya bener, dapat hadiah sepeda?" selorohku.
"Mau nya begitu," sahutnya.
__ADS_1
"Tapi, Mas Bro, gimana mau beli mobil, gajiku pas-pasan. Emangnya mau, bisa bayar DP nya aja, terus beberapa bulan kemudian, mobil ditarik dealer karena nggak bisa bayar angsuran. Apa kata dunia, kalau seperti itu? Malu dong sama tetangga. Nanti, bisa-bisa diketawain mereka," jelas Subandi panjang lebar, seperti kuliah 3 SKS.
"Kamu emang paten mikirnya. Jauh ke depan. Aku sih kemarin nggak pakai mikir kayak begitu. Karena aku emang nggak niat kredit mobil bagus. Mending mobil biasa-biasa aja, asal beli cash. Jadi nggak ada utang. Eh tak tahunya mobilnya dibilang jelek sama istri aku. Awalnya dia ngamuk. Kata dia, aku habis-habiskan uang, beli mobil seken. Mana casingnya kelihatan jelek banget. Kata dia lagi, pakai mobil combet itu, kelihatan miskin. Dalam hati, aku mau emosi. Tapi, aku mikir. Mau nggak mau, ya ikut aturan aku. Aku cuma punya uang untuk beli mobil seken. Kalau dia nggak mau naik mobilnya, ya terserah. Masa bodo. Yang penting aku sudah menuruti permintaan dia, beli mobil. Perkara dia suka apa nggak, ya aku nggak mau ambil pusing. (bersambung)