
Aku sengaja pulang cepat dari sekolah. Karena Hira bilang kalau si dedek nangis terus. Badannya panas.
Jadinya aku nggak tenang karena dikabari seperti itu. Izin pulang cepat sama kepala sekolah, alasan mau bawa anak ke dokter, karena demam.
Alhamdulillah diberi izin sama Kepala Sekolah.
Sampai di rumah, kuletakkan tas kerjaku, di atas sofa, begitu saja.
"Sayang, aku pulang," pekikku. Karena, rumah sepi banget.
"Stt...jangan teriak-teriak, nanti tuan putri bangun," kata Hira mencoba memintaku pelan-pelan bicara.
"Eh Bun. Kita kasih nama siapa dia ya?" setengah berbisik ke telinga Hira.
"Aku udah punya nama. Sora Putri Budiman. Bagus kan...?" kata Hira menyodorkan nama yang sudah dia persiapkan dari jauh-jauh hari.
"Hmmm....apa artinya Sora itu?" tanyaku penasaran, sembari membelai pipi lembut bocah mungil di atas ranjang bayi itu.
Kata Hira, Sora itu artinya langit. Setuju nggak setuju, aku setuju aja setelah mengetahui arti nama Sora.
"Semoga, dia punya hati yang cantiknya selangit. Hidupnya bahagia selangit. Pokoknya semuanya serba selangit," sebut Hira penuh antusias.
"Ooooooo begitu. Kalau begitu baiklah. Tuan putri kecil kita ini beri nama Sora," kataku lirih di telinga bocah yang masih terlelap di ranjangnya itu.
Aku protes pada Hira. Seharusnya dia nggak ditidurkan kalau masih sore jam 15.00 wib.
"Emang kenapa?" tanya Hira.
"Soalnya, kalau ditidurkan, nanti malam, aku yang begadang. Karena dia pasti nggak tidur kalau jam segini tidur. Berarti nanti malam, bangun. Apa nggak kliyengan, aku Bun. Jagain dia?" keluhku pasrah.
Hira malah terkekeh mendengar pernyataanku. Lagi pula, bingung juga aku.
"Pagi dia tidur. Siang tidur. Malam, dia terjaga. Aduh, Nak.....," seruku.
"Gantian ya nanti, Bun. Ayah yang tidur. Bunda yang jaga dia kalau bangun," kataku minta pengertian Hira.
Dia nggak jawab malah cuek, dan aku ditinggal rebahan.
"Ya sudahlah. Sementara aku yang jadi security kalau malam." gumamku terus ikut rebahan juga di samping Hira.
Sambil posisi rebahan Hira tanya soal aqikahan.
__ADS_1
"Hmmm.....gimana ini. Duit lagi. Tapi, mau gimana. Sudah jadi kewajiban aku, sebagai suami." kataku membatin lagi.
"Eh tabungan Bunda ada berapa coba?" tanyaku pelan.
"Berapa ya. Tinggal dua jutaan gitu," sebutnya.
"Kurang sih. Makanya tambahin ya, Yah!" pintanya padaku.
"Tambahinnya berapa. Ayah lagi nggak pegang duit. Gimana ya," sahutku resah.
"Ya sudahlah. Nggak usah pakai aqikahan," katanya langsung sewot.
"Bukan begitu sayang. Kita kumpulin duit dulu. Baru merancang acara aqikah." kataku mencoba memberi pengertian.
"Terserahlah. Mau aqikah mau nggak. Nggak usah dipikir deh. Abaikan aja percakapan kita ini," celetuknya tiba-tiba cuek.
"Begini aja. Ayah minta waktu 5 bulan ini ya. Buat ngumpulin uang, modal aqikah Sora." kataku bernegosiasi.
Dia diam saja. Entahlah. Aku memang lagi nggak pegang uang. Ada uang tapi di deposito. Jangka waktu bisa diambil, 5 tahun.
"Bingung aku. Serba salah, sekarang ngomong sama dia." batinku merintih. Aku merasa Hira sekarang nggak asik lagi kalau diajak membahas soal keuangan. Meski tak terkatakan olehnya. Dia seperti menuntutku harus bisa memenuhi segala keinginannya.
Memang, aqikah itu untuk kepentingan anak. Tapi, selama orang tua belum mampu untuk mengadakan aqikah. Tentu hal itu tak diwajibkan.
Hasil dari sekolah juga belum bisa diandalkan. Apalagi, statusku hanya seorang guru honor. Jadi apalah dayaku. Aku hanya bisa pasrah.
Bukan aku tak bersyukur. Tapi, memang beginilah keadaannya. Berapalah pendapatan seorang guru honor?
***
"Mas, kita usaha dong. Usaha apa gitu. Pokoknya menghasilkan dan halal." katanya tiba-tiba membahas soal usaha sampingan.
Mendengar pernyataan dari Hira, aku bingung. Usaha apa?
"Teman-teman Mas kan udah banyak yang sukses tuh, buka kafe," kata Hira memberi gambaran.
"Usaha kafe? Aduh itu modalnya gede. Nggak mungkin, Bun." protesku.
Tapi, Hira masih bersikukuh. Katanya aku disuruh cari pinjaman ke bank.
"Hmm. Pinjam ke Bank? Bank mana nih. Bank Subandi?" kataku berseloroh.
__ADS_1
"Aku serius ini Mas. Kita buka usaha dong. Kebutuhan dari hari ke hari, berapa Mas. Beli ini itu, terus sekarang seminggu dua kali harus beli pempes, dan susu. Kita nggak bisa Mas bertahan seperti ini." desaknya padaku.
"Bun. Bisa aku tidur sebentar nggak. Pusing Bun kepala aku. Semalam kan aku begadang," kataku mengalihkan pembicaraan.
"Tunggu dulu Mas. Kita jualan apalah, yang pakai modal kecil. Nanti pasti ada jalan kalau kita mau berusaha." katanya lagi sok bijak.
Terserahlah dia mau ngomong apa. Aku sudah pusing dengan tuntutan dia yang aneh-aneh. Buka kafe? Ngarang aja. Emangnya aku punya mesin pencetak uang. Bisa usaha kafe!
***
Curhat ke Subandi. Aku lebih terbuka sama Subandi sekarang. Sama Hira, lama-lama kenapa nggak bisa nyambung ya. Dia ingin ke kiri, aku ke kanan.
"Bro. Menurutmu usaha yang tanpa modal, tapi hasilnya lumayan. Ada nggak?" tanyaku minta pendapat Subandi.
Siang ini, aku sengaja mengajaknya ke kafe. Pingin ngobrol santai sejenak.
Mendapat pertanyaan dari aku,l seperti itu, Subandi langsung semangat menjawab.
"Ada Bos Mas Bro. Kita usaha pelihara tuyul!" kata dia sembari melepas tawa.
"Dasar orang gila!" kataku sambil menendang kakinya di bawah meja.
"Aduh!" Dia mengaduh tapi masih cengar-cengir.
Tapi, kata dia, dia juga lagi bingung mencari tambahan soalnya, di sekolah nggak ada lagi uang bonus sampingan. Biasanya, kata dia dapat bonus uang perjalanan dinas keluar kota.
Sekarang, lagi pandemi. Nggak ada lagi tugas keluar kota. Subandi pun jadi bingung. Dia saja sudah jadi PNS, masih bingung. Apalagi, aku yang masih status honorer. Pusing tujuh keliling.
Makanya, waktu ada penghasilan dari hasil memancing, lumayan. Ada saja yang order.
"Yo wis kalau begitu kita usaha jadi toke ikan aja Mas Bro. Mancing. Kan nggak pakai modal." katanya.
"Gundulmu nggak pakai modal. Beli umpannya tu, udang kecil-kecil kan sepuluh ribu." kataku memprotes kata-katanya.
Subandi malah tertawa.
"Hahahahha iya sih. Anggap aja modal sepuluh ribu. Eh bensin kita on the way ke lokasi mancing? Kan kita pakai motor ke sananya. Masa iya nggak dihitung! Terus kalau kita lapar. Kan maem pecel lele dulu, baru mancing." katanya merinci modal saat pergi memancing.
"Halah. Kamu ini. Tapi, kadang itu nggak masuk hitungan. Kita tahunya mancing. Dapat ikan banyak. Dibawa pulang. Terus difoto-foto dishare di Facebook. Kalau ada yang mau order, alhamdulillah. Kalau nggak ada, ya digoreng sendiri. Simpel kan, Bro," jelasku panjang lebar.
Seharusnya, hidup juga bisa sesimpel itu. Nggak harus ribet ini dan itu. Kalau nggak punya duit, ya tidur. Hahahaha!
__ADS_1
Itu mau aku sih. Tapi, masalahnya aku sekarang ini sudah jadi suami.(bersambung)