Maaf, Kita Tak Sejalan Lagi

Maaf, Kita Tak Sejalan Lagi
Acara Temu Keluarga


__ADS_3

Siang ini, Hira rapi banget. Padahal, dia biasanya pakai daster midi atau baju tidur sexy di rumah.


Katanya, dia mau siap-siap ke arisan keluarga.


"Mas, siap-siap dong, antarin aku ke arisan keluarga. Hari ini akan ada arisan keluarga perdana," katanya padaku.


"Siap! Tuan putri! Ayo kalau begitu. Aku mandi 5 menit ya," kataku bergegas ke kamar mandi.


"Jam berapa acaranya," tanyaku lagi, dari dalam kamar mandi.


"Jam empat sore sih, kumpulnya saudara-saudara aku," jawabnya.


"Oke oke. Ini kan baru jam tiga ya," sahutku lagi.


Benar-benar gembira aku, keluar ke acara arisan keluarga Hira. Setidaknya, aku bisa pedekate. Dulu, aku hanya bertemu sekedarnya. Belum terlalu dekat dengan keluarga-keluarga Hira.


"Mas kita bawa kue bolu gulung, sama buah-buahan ya," sebut Hira sembari berkaca di depan cermin, memakai make up.


"Hmm. Lemas aku. Keluar lagi, duit aku dari dompet." keluhku.


"Kalau kayak begini, bisa bangkrut bandarnya," kataku masih dalam hati.


"Mampir ke swalayan ya Mas, nanti!" pintanya.


"I iya iya," kataku ragu-ragu.


Dalam perjalanan aku nggak tenang. Selalu aja ada pengeluaran yang tak terduga. Padahal, pemasukan cuma ngarepin gaji. Gimana ini. Seharusnya, ada pemasukan lain.


Mengharap orderan lukisan, rasanya nggak mungkin. Hanya penikmat seni, yang biasanya order lukisan. Sementara ini, sabar. Nyari ide jualan apa, yang bisa menghasilkan rupiah.


***


Tiba di rumah mertua, aku bingung. Karena kakak-kakak dan adik Hira, memakai perhiasan mencolok. Gelang, kalung, cincin, anting-anting, jam tangan, serba berkilau.


Kupastikan, ini bakal memicu kecemburuan Hira. Bisa bisa nanti dia minta perhiasan, yang sama dengan perhiasan yang dimiliki saudara-saudaranya itu. Kalau memang itu terjadi, ya sudahlah, alamat bakal menguras uang tabungan aku di bank. Semoga saja, apa yang aku khawatirkan tidak menjadi kenyataan.


Lagi pula, Hira juga punya penghasilan sendiri. Tentu, dia akan memakai uangnya itu untuk membeli perhiasan yang dia mau.


Kulirik jam tanganku, jarum jam sudah bertengger di angka 6. Ini artinya waktu adzan maghrib segera dikumandangkan. Aku dan Hira, bisa cepat-cepat pamit dari rumah ini.

__ADS_1


Bahaya kalau Hira gabung lama-lama di acara arisan ini. Karena, pembahasan sudah mengalir terlalu jauh soal barang-barang branded. Terutama soal tas, sandal, dan pakaian. Mati anak ayam! Pekikku sendiri dalam hati.


Lain kali aku harus cari cara bagaimana menolak ajakan Hira ke acara arisan keluarga.


Mana arisannya besar banget, sampai satu juta rupiah, sebulan. Memang, dapatnya dua belas juta. Lumayan juga. Tapi, di sisi lain, efek samping arisan ini luar biasa. Bahaya. Ya. Bahaya buat kesehatan jantung suami.


Betapa tidak, sepulang arisan, ada saja hal-hal yang berbau materi, selalu dijadikan bahan perbincangan dengan aku.


***


Bisa pulang ke rumah, lega rasanya. Tapi, cerita-cerita Hira sepulang dari arisan tadi. Buat aku sesak nafas. Hahahahah!


"Mas, adikku hebat ya, baru beli mobil. Tahu kan, mobil Brio merah yang di depan itu, tadi," cerita Hira sambil merebahkan tubuhnya di sofa.


"Mas dengar, kan....kalau aku cerita?" kata Hira, meminta aku merespon ceritanya.


"Iya....dengerrrrrrlah," kataku, yang juga rebahan di sofa. Tapi, aku berusaha memejamkan mataku, supaya Hira tak mengajak aku ngobrol aneh-aneh. Biar dikiranya aku ngantuk.


Apalagi bahas soal mobil. Kan serem, baru nikah sebulan, terus dia minta mobil. Hii....kayak lihat kuntilanak bergelayutan di pohon sukun.


Kemarin, waktu dia minta beli rumah atas namanya, aku langsung puyeng. Langsung demam. Dunia rasanya kiamat. Gimana nggak kiamat. Aku sudah punya rumah. Terus minta rumah, atas nama dia.


"Mas, nanti beli dong mobil, masa kita kalah sama adikku. Dia itu, si Sinta, baru aja diterima jadi pegawai. Langsung beli mobil. Bukan mobil seken lho. Tapi, mobil baru." jelaa Hira panjang lebar.


*Deg*


Jantungku berdebar. Resah tak karuan.


Belum juga rasa khawatirku berlalu. Eh sudah kejadian. Hira minta aku beli mobil. Oalah gusti?!"


Pura-pura cuek aja kayaknya, biar lebih aman. Eh tapi dia malah mendesakku membahas soal mobil.


"Iya sayang, kita nabung dulu ya, baru kita beli mobilnya." kataku berusaha membujuknya.


Hahahaha. Kayak anak kecil aja dibujuk biar nggak merajuk.


Ya secara logika, sebagai guru SD yang statusku masih guru honor, jelas penghasilan aku nggak mencukupi, kalau harus kredit mobil.


Hira mengira, aku pasti punya banyak duit. Apalagi, sejak aku bilang uangnya aku masukkan ke tabungan deposito berjangka. Kuperhatikan dia semakin aneh-aneh permintaannya.

__ADS_1


"Mas, itu DP mobil Brio nya murah banget. Kata adikku, hanya Rp20 juta. Terus angsurannya tiga jutaan lebih," kata Hira, masih ingin memperjelas soal promosi mobil yang pernah didengar dari adiknya.


"Hmmm. Bisa sih kita ambil kreditan mobil. Tapi, bulanannya, berat banget sayang, tiga jutaan. Terus kalau dipakai bayar angsuran. Kita mau makan pakai apa coba?" jelasku dan lagi-lagi aku seperti sedang berusaha membujuk anak kecil. Hahahahaa!


Anehnya, dia malah cemberut. Karena aku tak menuruti permintaannya.


"Tunggu agak setahun ini, sayang. Kalau uangnya sudah terkumpul, kita beli mobilnya," jelasku lagi sembari berusaha mendekat ke dia.


"Ah masa sih kita kalah sama adikku," ulang Hira untuk kali kedua.


Dalam hati, biarlah kalah nggak apa. Hidup pas-pasan terus mau bergaya pakai mobil. Dimana letak etisnya coba?!


Sementara ini, pasti dia benci banget sama aku. Biarlah. Daripada aku yang pusing, gara-gara bayar angsuran. Mending aku tolak aja permintaannya.


Aku nggak mau menanggung resiko.


"Aku janji deh, akan usaha beli mobilnya. Tapi beri aku waktu," pintaku sekali lagi.


"Pelit," celetuknya lagi tapi pelan sambil buang muka tak ingin menatap aku.


Aku heran, kemarin dia nggak sematre sekarang ini, pas aku lihat waktu pacaran.


Dia nggak pernah minta apa-apa sama aku. Kulihat dia begitu sempurna di mataku. Tak ada cela.


Hmm. Setelah pernikahan, terbukalah topengnya satu per satu.


***


Merajuk. Dia mogok nggak mau ngerjain pekerjaan rumah tangga. Cuci piring, cuci baju, aku yang mengerjakan.


Pikirku, mungkin dia butuh istirahat.


"Ya sudah, istirahat sayang. Lagian besok kan sabtu-minggu. Jadi nggak apa banyak rebahan. Biar senin lebih fit kondisi tubuhnya." kataku sembari membela rambutnya dengan lembut.


Kusiapkan secangkir susu panas dan juga ada beberapa potong roti tawar, aku masukkan ke kotak. Siapa tahu dia lapar, tinggal buka kotaknya.


Hmmm. Hari itu aku benar-benar memanjakan dia. Aku nggak marah. Meski dia seperti itu. Mungkin, itu bentuk kekecewaannya karena tak berhasil mendapatkan apa yang dia mau.


Di sisi lain, aku selalu berdoa sama Allah SWT, agar diberi rejeki lebih untuk membahagiakan Hira dan keluarga kecilku nanti.(bersambung)

__ADS_1


__ADS_2