
Malam minggu, malam yang aku tunggu-tunggu. Sudah sebulan, sejak Sora lahir, aku nggak melaut.
Padahal, setiap malam minggu, Subandi, ngajak mancing. Tapi aku tolak. Soalnya, Hira nggak ikhlas kalau aku mau izin mancing.
Padahal, priorotasku di hari Sabtu-Minggu, aku melaut, bareng Subandi. Semua itu aku lakukan, semata-mata demi mencari tambahan, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Sekarang, tak hanya sekedar mencari tambahan untuk kebutuhan sehari-hari. Daftar pengeluaranku bertambah. Beli susu Sora, dua minggu sekali. Belum lagi kebutuhan pempes.
***
Harus cari cara biar bisa keluar rumah. Kalau nggak bisa keluar rumah, artinya melewatkan kesempatan.
Menurut Subandi, kalau mancingnya ditelateni, bisa lumayan hasilnya.
"Mas, kita mancing nggak hari ini?" tanya Subandi lewat chat.
Aku bingung mau jawab apa. Karena aku harus kompromi lebih dulu sama Hira. Bisa nggak dia ditinggal sampai Minggu.
"Nanti tengah malam, Sora nangis gimana. Susah nanti kalau sendiri." kata Hira mencari alasan. Tapi, apa yang dia katakan benar. Sora suka menangis tengah malam. Itu pun kalau sudah menangis susah didiamkan.
Harus dibujuk berkali-kali, baru Sora bisa diam.
Hingga akhirnya aku putuskan untuk tidak melaut.
Tunggu minggu depan, semoga Hira memberiku kesempatan untuk menyalurkan hobby baru, sekaligus mencari tambahan uang.
***
Pulang dari ngajar di sekolah. Janjian sama Subandi, ngopi di warung Pak Dollah langganan kedai kopi favorit.
Sekitar setengah jam menuju ke sana. Di sana, kulihat Subandi sudah duluan sampai.
Kuparkir mobilku di pinggir jalan. Berderet dengan parkiran motor. Maklum parkirnya tidak terlalu luas.
Jadi, orang parkir pun seenaknya asal ada tempat. Apalagi, juru parkirnya juga nggak ada. Jelas parkir pengunjung di kedai kopi ini pun seenaknya. Seperti halnya aku.
Buru-buru aku mengejar tempat dimana Subandi mojok dengan segelas kopinya.
Subandi kulihat melambaikan tangannya ke arahku, sebagai tanda dia memberitahu posisi duduknya.
__ADS_1
Kuseret kursi di depannya dan aku duduk di sana. Seorang pelayan lelaki muda mendekatiku, menyodorkan buku menu makanan dan minuman yang tersedia di kedai kopi itu.
Tanpa melihat buku menu itu, aku langsung menyebutkan pesan kopi susu dan mie goreng, pakai telor ceplok.
Tak lama, pelayan itu mengantarkan pesanan aku. Kuseruput sedikit demi sedikit kopi susunya.
Baru sepuluh menit aku menikmati waktu sore selepas mengajar di sekolah. Hira meneleponku. Dia minta aku pulang cepet-cepet, karena Sora menangis terus.
Dalam hati, aku kesel. Apa iya, sejak lahir Sora, hidupku tak punya waktu untuk bersantai? Harus ngurus anak. Bukankah itu tugas istri?
Ada seribu pertanyaan yang sampai detik ini tak bisa kutemukan jawabannya.
"Bro, aku minta maaf ya. Orang rumah telepon. Katanya aku disuruh balik cepat. Karena anak aku nangis terus, menunggu aku pulang," kataku beralasan pada Subandi.
Untung Subandi nggak ambil pusing dan dia paham dan nggak banyak tanya.
"Waduh. Oke oke oke Mas Bro, monggo nggak opo-opo. Saya masih disini aja dulu, menikmati sore," katanya dan aku segera berlalu dari hadapannya.
Di perjalanan aku benar-benar kesal. Ternyata berat, ujiannya kalau jadi bapak. Tapi, nggak apa, aku berusaha menerima. Mungkin, aku kesal karena belum bisa menyesuaikan diri dengan keadaan. Aku belum terbiasa mengurus anak.
***
"Ya ampun, nggak bolehkah sejenak aku melepas penat, nongkrong di kedai kopi bareng teman?" kataku mulai emosi menghadapi sikap Hira yang terkesan lebih banyak mengandalkan aku.
"Teman? Siapa Mas teman kamu? Tumben, pulang sekolah kamu lambat? Penting nongkrong sama teman ya ketimbang pulang memperhatikan anak?" katanya dengan nada ketus.
Mendapat ocehan seperti itu, aku lebih memilih diam. Karena, kalau aku jawab, pasti urusannya panjang dan berhari-hari nggak bakal selesai.
"Iya maaf tadi lambat," kataku, dan langsung mendekati ranjang Sora yang tertidur pulas.
Tadi kata Hira, bocah kecil itu menangis. Ternyata waktu aku pulang, bocah itu tertidur pulas. Maksudnya, aku nggak boleh nyantai sejenak. Padahal, apa salahnya, memberiku waktu sebentar saja. Paling hanya sejam dua jam. Maghrib aku balik ke rumah.
Tanpa aku tanya, Hira mencoba memberi penjelasan. Katanya Sora tadi menangis tak henti. Terus, pelan-pelan akhirnya tertidur.
Malamnya aku mencoba pamit mau mancing sama Subandi. Tapi, ditentang Hira.
"Lho. Ini kan nggak Sabtu malam Minggu. Nanti Hira nangis tengah malam gimana. Jangan mancing!" katanya protes, melarangku pergi.
Karena aku emosi, langsung aku juga protes.
__ADS_1
"Kamu nggak bisa ya menghargai aku? Sebentar aja. Aku mau santai sebentar saja kamu protes. Mau nyari tambahan, kamu juga nggak mendukung. Sementara, kamu bilang aku harus punya usaha. Buat mencukupi kebutuhan keluarga kita. Terus apa mau kamu, sekarang?! Aku mulai bingung menghadapi sikap kamu yang nggak jelas kayak sekarang ini!?" kataku dengan nada meninggi.
Parahnya, dia diam membisu tak berkata-kata.
Bahkan, aku ditinggal dia tidur. Kalau sikapnya seperti itu, aku mulai tak respek lagi sama dia.
Hanya karena sudah ada ikatan, makanya dia seenaknya sama aku. Kesannya, dia yang mendominasi di rumah tangga.
Karena masih tak puas. Dia kupaksa bangun dan bersuara.
"Hira. Kamu harus dengarkan aku ngomong. Sekarang apa mau kamu!" kataku semakin emosi.
Dia bangun dari rebahannya. Lalu, dia bilang terserah. Jawabannya semakin membuat aku emosi.
"Gini aja Mas, beri aku uang belanja setiap bulan Rp5 juta, aku pasti tenang." kata Hira.
Aku tambah emosi dan langsung kubentak dia.
"Kamu mikir nggak sih. Penghasilan aku berapa gaji aku berapa? Atm sudah sama kamu. Aku nggak pernah minta uang gajiku. Semua aku serahkan bulat-bulat, sama Atmnya. Kurang?" tanyaku emosi.
"Mas, hidup sebulan dikasih uang dua juta, nggak cukup. Kebutuhan susu dan pempes Sora berapa coba, kamu hitung!" kata Hira mulai nyolot.
"Jadi, kamu mau berapa?" tanyaku kesal.
"Kan tadi aku dah bilang. Minimal lima juta sebulan itu dari kamu. Uang gajiku, untuk kebutuhan aku dong," katanya sinis.
Jawaban dia semakin memunculkan emosiku.
"Cari aja anggota dewan yang kaya raya sana. Maaf aku nggak sanggup kalau kamu minta uang bulanan sampai lima juta," tegasku.
"Jadi, kamu nggak mau tanggung jawab dengan anak kamu?" tanyanya seakan memojokkan aku.
"Terserah apa kata kamu. Kalau kamu nggak mau, sini serahkan atmnya sama aku, sekarang juga," bentak aku.
Dia malah diam. Lalu berangsur meninggalkan aku sendiri di kamar sama Sora.
Tapi, karena aku emosi juga, aku pergi dari rumah. Aku stater motor. Melaju menuju rumah Subandi.
Sampai di rumah Subandi, eh kata istrinya, dia pergi mancing. Jadinya, aku balik kanan. Pulang ke rumah dan ambil pancing, lalu nyusul Subandi ke tempat mancing biasanya.(bersambung)
__ADS_1