
Waduh, sejak Hira hamil muda, kenyamanan aku merokok, bakal terancam. Gimana nggak terancam. Asal ketahuan merokok di dalam rumah, Hira pasti ngomel-ngomel sepanjang jalan kenangan.
Bukan aku nggak bersyukur dengan rencana Allah hadirkan sang jabang bayi itu. Tapi, semua berubah drastis.
Hira mulai tak merawat diri. Terkadang dia bisa tidur seharian, nggak mandi-mandi. Nyesek lihat istri seperti itu. Bukannya aku nggak bisa memaklumi kondisinya. Tapi, aku bosan dan ilfil melihat Hira seperti itu.
Seperti hari ini, dari pagi sampai siang, Hira nggak keluar dari kamar. Kutanya, dia katanya agak lemes. Terus kepalanya pusing.
Ya Allah, kalau terus-terusan seperti itu, aku jadi benar-benar ilfil melihatnya. Apa perempuan yang hamil itu rata-rata seperti itu ya? Malas-malasan, sakit-sakitan, lesu-lesuan dan sejenis malas lainnya yang menyertai.
Bahkan, untuk dirinya sendiri saja, tak peduli. Mau mandi apa nggak mandi, tak lagi jadi keinginan. Wah bahaya. Anaknya belum lahir saja, sudah berantakan penampilan Hira. Gimana kalau anaknya sudah lahir. Mungkin lebih kacau lagi, kali ya?
Karena kulihat Hira nggak keluar-keluar kamar sejak pagi, aku mencoba merokok, menghilangkan rasa suntuk yang menyerangku selama beberapa hari ini.
Baru hendak kuhisap sebatang rokok, tiba-tiba Hira muncul di depan pintu kamar. Kata dia, dia lapar. Minta dibelikan bubur ayam. Tapi, setelah itu dia ngomel-ngomel.
Dia memintaku keluar dari rumah karena dia melihatku hendak merokok.
"Mas, kamu nggak kasian sama aku dan anak kamu ini ya, kok kamu suguhi asap rokok, hari-hari. Kamu pingin aku pingsan, dengan asap rokokmu itu?" celetuknya panjang lebar.
Mendengar itu, aku hanya memilih diam. Karena, kalau aku timpali, pasti dia bakal nyolot dan terjadilah perang dunia ke lima. Hahahahahah!
"Ya, baiklah, Tuan Putri, aku keluar rumah. Tapi, jangan dicari ya, kalau nggak pulang," kataku. Entah kenapa aku mengatakan itu.
Benar. Langsung Hira marah dibakar emosi.
"Iya nggak usah pulang sekalian. Biar kamu bebas merokok di luar sana." celetuk Hira dengan nada emosi yang meninggi.
"Ya sudahlah......diam aja lah aku. Ngomong ini salah, ngomong itu juga salah," kataku terus ngeloyor keluar meninggalkan Hira.
Kucari orang jual bubur ayam. Entah mengapa, satu pun dari tiga orang penjual bubur ayam yang aku tahu, ketiga-tiganya tutup.
Seperti kompakan tutup bareng. Padahal, setahu aku, mereka bukan satu keluarga. Tapi, mengapa barengan tutup di hari itu.
Kuingat-ingat lagi. Ya karena di hari itu, memang hari Minggu. Pantas saja, mereka libur. Tapi, baru kali ini tumben mereka kompak libur.
Memang susah untuk urusan yang satu ini. Kalau dikasih pilihan, suruh memilih bini atau rokok, jelas aku bakal pilih rokok. Bini, nomor dua. Ups! Untung Hira nggak dengar. Kalau dengar, bisa kena penggal leher aku. Hiii. Serem kan?! Hahahahaha!
__ADS_1
Sebenarnya, antara bini dan rokok itu sama-sama penting. Hidup tanpa keduanya, serasa dunia kiamat.
***
Ya Allah, aku muter-muter nyari bubur ayam pesanan Hira. Tapi, nasib lagi apes. Nggak satu pun nemu penjual bubur ayam.
Apa aku buatin bubur ayam sendiri, kali ya?! Semoga saja aku bisa buat. Paling, lihat youtube. Beres.
Ya sudah. Kuputuskan balik kanan saja. Karena memang penjual bubur ayam yang aku cari, tak ada.
Setengah jam kemudian aku tiba di rumah. Kusediakan bahan-bahan bubur ayamnya. Kebetulan, Hira masih tertidur di kamar. Sengaja aku tak mengatakan padanya, kalau bubur ayam pesanannya, tidak satu pun kutemukan.
Syukur, satu jam lebih proses masak buburnya sudah beres. Maklum, baru pertama masak bubur ayam. Tidak terlalu enak. Tapi, nggak masalah, yang penting bubur ayam.
Bersamaan dengan bubur ayamnya yang sudah tersaji di meja makan, Hira terbangun.
"Kok nggak dibangunin sih, Mas, kan aku sudah lapar. Nungguin bubur ayamnya dari tadi." protes Hira.
"Maaf sayang, tadi kan aku cari bubur ayamnya keliling. Tiga-tiganya penjual bubur ayam itu nggak ada yang buka. Mereka seperti kompak, janjian tutup bareng," jelasku.
"Bubur ayam Budiman,"sebutku.
"Maksudnya, gimana Mas. Kok bubur ayam Budiman?" Hira tambah bingung meresponnya.
"Ya ampun sayang. Masa sih nggak paham, kalau bubur ayam ini, adalah bubur ayam masakan aku," jelasku pada Hira.
"Mas, aku kan mau yang bubur ayam langganan aku," kata Hira.
"Nggak buka, sayang. Ketiga-tiganya kompak tutup bareng," jelasku menahan emosi.
Sudah capek-capek aku masak bubur ayamnya, sama sekali tak ada apresiasi dari Hira.
"Bilang makasih, apa salahnya? Ini malah protes masih ingin yang bubur buatan orang lain." celetukku dalam hati menggerutu sendiri.
"Sabar ya Allah. Punya istri sebiji aja susah kayak begini. Gimana orang yang punya istri empat? Ups!" gerutuku lagi.
"Ya sudah kalau nggak mau, aku makan saja sendiri," kataku sedih. Serasa tak dihargai jerih payahku.
__ADS_1
***
Keesokan harinya, aku diam saja. Nggak mau ngomong apa pun sama Hira. Aku ingin memberinya pelajaran. Supaya dia bisa berubah.
"Mas, aku mau martabak Kang Abik," kata Hira sambil mendekati aku. Dia rebahkan kepalanya di pangkuan aku.
Aku langsung berusaha menghindar. Meninggalkannya sendiri di ruang tamu.
Dia berusaha mengekoriku dari belakang, menuju ke kamar tidur. Aku masih cuek. Kurebahkan tubuhku di ranjang dengan posisi membelakanginya.
Dia coba memelukku dari belakang. Tapi, tangannya aku tepis. Aku bangkit dan meninggalkannya di kamar sendirian.
Aku tidur di depan TV. Ternyata dia juga mengekori aku lagi, Hira ikut rebahan di depan tv.
"Sayang. Beliin aku martabak Kang Abik dong," kata Hira merengek lagi, padaku.
"Beli aja sana, sendiri!" kataku dengan nada ketus.
"Aku nggak mungkin malam-malam begini, keluar sendiri. Temani dong, kalau memang kamu nggak mau membelikan martabaknya." pintanya.
"Malas. Kamu beli aja sana sendiri. Aku lagi capek," jawabku lagi masih berusaha cuek.
"Ini udah jam 23.00 wib. Mas. Nggak mungkin aku keluar sendiri, nyari martabak. Nanti, aku keluar sendiri, kamu marah, Mas! Anterin dong sayang!" kata Hira masih memohon padaku.
"Terserah kamu. Aku capek, mau tidur," sahutku. Lalu aku berusaha memejamkan mata, dan tak mempedulikan dia lagi.
"Sayang, marah sama aku ya?" tanya Hira.
Aku diam saja, sembari pura-pura tidur.
"Mas, apa salah aku. Kumohon jangan marah sama aku," kata Hira.
"Kan kamu bisa naik motor. Manja banget jadi orang. Memangnya aku pembantu kamu, kamu suruh antar kemana kamu pergi," kataku dengan nada santai, tapi aku menyimpan emosi.
"Aku kan lagi hamil, Mas. Apa salahnya antarkan aku sebentar saja. Aku kepingin maem martabaknya Kang Abik, sebut Hira sekali lagi.
Tapi, aku masih cuek. Aku ingin memberinya pelajaran. Supaya dia bisa menghargai aku, sebagai suaminya.(bersambung)
__ADS_1