
Entah kebaranian dari mana, aku tiba-tiba ingin main ke rumah Hira, seorang diri. Tanpa ditemani Subandi.
Begitu juga dengan Hira. Aku sengaja nggak ada memberi kabar terlebih dahulu.
Dengan pede aku datang ke rumah Hira. Ibunya, menyambut kedatanganku.
Hira, yang dalam kondisi masih berpakaian daster, kulihat buru-buru masuk ke kamar. Cantik juga dia kulihat, tanpa hijab. Tak lama, ia muncul dan sudah mengganti bajunya dengan baju rok setelan.
"Hira, ini ada Nak Budiman," panggil ibu Hira. Hira tak menyahut panggilan itu.
Tapi dia langsung duduk di sofa ruang tamu. Posisinya berhadap-hadapan dengan aku.
Sementara itu, ibunya pergi meninggalkan aku dan Hira, berdua di ruang tamu.
Sepertinya dia paham, anaknya sedang di apelin laki-laki. Hehehehehe. Tapi, ini bukan waktu yang tepat buat apel ke rumah cewek. Karena ini Senin, yang tak lain adalah hari kerja.
Sudahlah, mau hari apa, kayaknya nggak penting bagiku. Sekarang, aku mau datang ke rumah Hira saja, rasanya satu keajaiban bagi aku sendiri. Biasanya, aku sok jual mahal sama Hira. Kali ini, mulai detik ini, esok, lusa dan seterusnya kucoba turunkan egoku.
Aku baru sadar, egoku yang tinggi, membuat hidupku terasa hampa, tanpa kehadiran seorang sandaran hati.
"Hira, buatkan minuman dong, Nak Budiman. Yang hangat-hangat. Ini kan musim hujan." celetuk ibunya dari kejauhan. Tepatnya, dari dapur.
Tanpa suara, Hira bangkit dari tempat duduknya, dan langsung ngeloyor ke belakang.
Segelas teh hangat, dibawa Hira dari dapur. Kuseruput teh itu, karena aku memang butuh yang hangat-hangat.
Suguhan teh dari Hira itu, benar-benar menghangatkan tubuhku. Bertemu dengan Hira, aku tak banyak bicara.
Ibunya, tiba-tiba datang ikutan duduk nimbrung.
"Nak Budiman kalau di rumah malas masak, ke sini saja. Hira tiap hari masak, rajin dia," kata perempuan sepuh itu, memuji anak gadisnya.
Aku hanya mengangguk, dan tersenyum, mendengrnya. Tapi, kapan-kapan aku pingin cobain apa yang menjadi tawaran dari ibunya Hira ini.
"Jangan manggut-manggut aja lho Nak Budiman. Ditunggu. Biar disiapkan sama Hira," jelas ibunya, seperti ngasih kode ke aku, biar bisa dekat sama anak gadisnya.
"Inggih Bu," kataku dengan logat jawa.
Hira cuma melirikku. Tanpa kata. Beberapa menit kemudian, ibunya ngeloyor lagi entah kemana.
"Ya sudah, dilanjut ngobrolnya sama Hira," kata ibunya. Lalu kembali meninggalkan aku dan Hira, berdua.
Kusapukan pandanganku ke seluruh ruangan. Di salah satu sudut ruang tamu, kulihat ada foto Hira, dan dua orang perempuan. Ada ibu bapaknya juga.
__ADS_1
Kutanya. Bapaknya dimana nggak pernah kelihatan. Dia bilang, bapaknya
sudah nggak ada, sejak dia masih sekolah SMP.
"Oh maaf ya, aku sudah buat kamu sedih,"
"Iya Mas, nggak apa."
Tak terasa, waktu menunjukkan pukul 17.00 wib.
Aku minta undur diri. Tapi, ibunya malah menahanku.
"Ini mau maghrib lho Nak Budiman. Nanti saja. Jangan di jalan waktu maghrib," katanya menasehati aku.
Maklum, orang tua masih mempercayai hal-hal tentang aturan zaman kuno, dilarang berjalan di luar saat adzan maghrib.
Akhirnya aku manut apa kata ibunya Hira. Kutunggu sampai waktu adzan, baru aku beranjak dari rumah Hira.
***
Kuputar memoriku siang tadi. Ternyata aku punya keberanian datang ke rumah Hira. Awalnya, kupikir minta antar sama Subandi, lebih baik. Tapi, aku berpikir ulang. Sampai kapan, aku harus tergantung sama Subandi. Dia juga punya kehidupan sendiri yang harus diurus. Dengan bismillah, aku awali hidup. Semoga Gusti Allah merestui apa yang aku inginkan.
"Bro. Jangan diejek ya. Aku mau cerita soal hidup dan matiku, ini." kataku pada Subandi, lewat chat whatsapp.
*Dreettt* ponselku bergetar. Buru-buru aku buka.
Hmmm. Bukan dari Subandi. Tapi, dari cewek tengil yang bikin aku rindu itu. Hahahahaha! Kok bisa sih aku baru juga sebulan lebih kenal dia, sekarang pakai muncul rasa rindu segala!
Senang bercampur deg-degan jantungku. Saat dia bertanya, "Mas udah tidur belum?"
Kalimat itu, baru pertama, kudapat dari seorang perempuan, setelah sekian tahun.
Bingung mau jawab apa. Karena aku terlalu bahagia malam ini.
Kalau aku jawab belum bisa tidur karena masih rindu, gimana ya. Ah. Aku lebai. Nanti apa kata dia, kok aku cepet banget bilang rindu. Nggak. Aku nggak balas aja.
"Ping!" kata dia, chat aku lagi.
Aku jawab saja, dengan balasan emoticon orang tertawa.
Eh dia balik bertanya. "Kok ketawa sih, Mas," kata Hira.
"Jadi aku harus gimana," balasku.
__ADS_1
Untuk kesekian kalinya dia ingin membahas soal belajar melukis. Tadi, pas ketemu, dia nggak banyak bicara. Eh ini orangnya sudah di rumah, baru dichat.
"Gimana kalau nanti aku kabari lagi, bisa apa nggak mau les privatnya," jelasku.
"Oke, Mas ditunggu kabarnya ya," kata Hira lagi. Setelah itu, kami nggak ada berkomunikasi lagi.
*Dreet*
Ponselku bergetar lagi. Kulihat Subandi membalas chat aku.
"Cerita apa Mas Bro?" tanya dia lewat chat.
Aku langsung to the point mengatakan apa yang tadi ingin aku ceritakan padanya.
"Aku tadi main ke rumah Hira," jelasku.
"Wowww. Amazing!" balas Subandi.
"Kamu jangan bully aku ya. Beneran ini rahasia kita berdua," pintaku, memohon pada Subandi.
"Aman Mas Bro. Selama ini aku nggak pernah cerita siapa-siapa. Percayalah," balas Subandi, berjanji padaku.
"Oke. Thansk ya aku percaya padamu," jawabku lagi.
"Tapi, beneran, jujur. Malam ini aku jadi nggak bisa tidur, setelah pulang dari rumah Hira," kataku pada Subandi.
"Wah si Mas Bro mulai jatuh hati sama si cewek tengil itu," kata Subandi mengejek aku.
***
Mungkin benar apa kata Subandi. Aku lagi jatuh hati sama cewek tengil itu. Buktinya, aku ingin ke rumahnya lagi, dan lagi. Gimana caranya mau ngomong sama dia ya, kalau aku suka dia.
Ups. Tunggu. Kalau baru sebulan kenal, terus menyatakan suka padanya, apa nggak konyol sih. Nanti kalau ditolak dia gimana?
Terus aku ini kan sudah terlanjur suka sama dia. Sementara ini, kayaknya tahan dulu. Aku nggak boleh gegabah.
Nanti, kalau situasinya memungkinkan. Baru aku akan bicara padanya, tentang isi hati aku.
Soal dia mau les privat melukis, aku nggak mau terima dia. Aku harus pura-pura jual mahal, kayak kemarin-kemarin.
Aku ingin tahu, seberapa jauh dia berjuang untuk mendekati aku. Sebenarnya aku yakin dengan perasaanku, bahwa aku mulai suka sama dia. Merindukan kehadirannya di hadapan aku.
Aku juga yakin, dia punya perasaan yang sama, ke aku. "Tapi, tunggulah Budiman, permainan ini baru akan dimulai. Harus sabar, memainkan peran sesuai arahan dari sutradara! Jangan gegabah!" batinku.(bersambung)
__ADS_1