Maaf, Kita Tak Sejalan Lagi

Maaf, Kita Tak Sejalan Lagi
Pulang Kampung Dadakan


__ADS_3

Aku izin pulang kampung, sendirian. Tapi, Hira protes. Dia mau ikutan juga. Sementara aku, nggak punya ongkos lebih untuk beli tiket tiga orang.


Sekarang, kalau pulang kampung, harus sedia tiket tiga orang. Aku, Hira, dan Sora. Usia Sora, tak terasa sudah satu tahunan.


***


"Aku ikut juga. Masa pulang kampung sendiri." protes Hira.


"Lagian, ada apa sih, pakai pulang kampung tiba-tiba?" tanya Hira lagi, masih dengan nada protes.


Kujelaskan sama dia, kalau aku ada urusan keluarga. Kakak tertua aku, sakit. Sudah sepekan dirawat di rumah sakit.


Dengan penjelasan itu, Hira berusaha menerima alasan aku pulang kampung. Hingga akhirnya dia mengizinkan aku balik kampung sendiri.


"Tapi, nanti gimana kalau Sora rewel." sebut Hira lagi, seolah masih belum ikhlas mengizinkan aku pulang kampung.


"Ya ampun. Tolong jaga dia sebentar saja kenapa. Kan kamu ibunya. Masa iya jaga anaknya nggak bisa. Aku cuma dua minggu aja pulang kampung." kataku kesal.


Hira diam. Dia malah sewot. Sebagai konsekwensinya, dia minta dibelikan oleh-oleh perhiasan gelang emas asli dari jawa.


"Kamu mikir sedikit aja dong. Aku pulang kampung bukan untuk jalan-jalan. Aku pulang kampung, untuk silaturahmi sama saudara-saudara aku yang di jawa." jelasku lagi dengan nada tinggi.


Akhirnya dia masuk kamar, meninggalkan aku sendiri di ruang tamu. Sejak nikah, aku merasa kebebasannya terkekang. Padahal, aku nggak pernah membatasi ruang gerak Hira. Kemanapun dia pergi dan apa apapun yang dia inginkan, aku berusaha memenuhinya, selama aku sanggup.


***


Dengan wajah cemberut, Hira melepas kepergianku. Padahal, aku berharap dia ikhlas, aku balik kampung.


Aku sengaja, tak mengatakan yang sebenarnya, soal tujuan aku balik kampung.


Aku minta tolong Subandi, mengantarkan aku ke bandara. Karena hanya dia satu-satunya teman yang selalu membantuku dalam suka dan duka. Subandi menjemputku di rumah.


"Maaf ya Bro, aku selalu merepotkan kamu. Karena, aku cuma punya satu teman, yaitu kamu," kataku pada Subandi.


Bagiku, Subandi itu teman yang tulus. Nggak pernah mengharap balasan, atas semua yang dia lakukan, ketika berbuat baik pada orang lain.


"Ah. Mas Bro ini. Biasa aja lagi. Saya berusaha baik sama semua orang. Apalagi, kita kan kenal lama. Jadi, kita wajib saling tolong menolong, karena sudah seperti saudara sendiri." sebut Subandi dengan supel.


Aku juga sempat curhat, kalau pulang ke Jawa, akan ada pembagian harta warisan dari orang tua.

__ADS_1


Mendengar penjelasanku, Subandi mengaku ikut bahagia. Katanya, semoga kalau memang sudah dapat pembagian harta warisan, aku bisa hidup lebih baik.


"Bro, nanti setelah aku pulang kampung, kita ketemuan ya. Ada hal penting yang akan aku bicarakan sama kamu," kataku pada Subandi, setelah berpisah di bandara.


"Oke. Siap.Mas Bro. Aku akan selalu berusaha ada untuk Mas Bro. Karena Mas Bro juga baik banget sama aku," katanya memujiku.


"Salam sama keluarga di jawa ya Mas Bro. Insya Allah kalau ada rejeki, pingin jalan-jalan ke Jawa, mampir ke rumah Mas Bro di sana. Boleh kan?" kata Subandi, berangan-angan.


"Hmmm.... iya kudoakan kamu punya rejeki lancar, biar apa yang kamu impikan itu terkabul," kataku mendoakan.


Kami berpisah, dan aku boarding pass, masuk ke pesawat. Di pesawat, aku tak henti berdoa, semoga perjalananku lancar, selamat sampai tujuan.


Dibalas atau nggak dibalas, aku kabari Hira, kalau aku sudah di pesawat dan siap terbang. Kumatikan ponselku dan aku berusaha duduk manis.


***


Tiba di bandar udara Juanda, aku bahagia. Rasanya tak sabaran sampai di kota kelahiranku, Semarang.


Sintia, adik perempuanku menjemputku, di bandara.


Sudah lima tahun lebih, nggak ketemu sama Sintia, adik bontotku.


"Piye kabare Mas?" tanyanya penuh ceria.


"Biasa. Lagi nggak bahagia. Hahahahahaha!" kataku dengan nada bergurau.


"Jangan ngomong begitu. Nggak boleh. Nanti nggak bahagia beneran, baru tahu," katanya protes padaku..


"Hahahha. Apa bedanya aku bilang bahagia atau nggak bahagia?" sebutku.


Sintia nggak berkomentar lagi. Dia fokus nyetir di balik kemudi. Pandangannya lurus ke depan.


"Makan rawon dulu yuk, Mas," katanya menawari aku.


Aku mau saja, karena Sintia tahu kalau aku memang paling suka makan rawon, waktu jamannya masih kuliah.


Rawon masakan ibu, paling aku doyan. Karena bumbunya memang oke banget. Berbeda sama rawon yang beli di warung-warung makan. Kadang, kuah rawonnya kurang hitam.


Aku sering protes kalau diajak makan rawon. Terus aku pasti request sama ibu, minta dimasakin rawon sendiri.

__ADS_1


Sintia suka protes kalau aku cerewet. Kata dia, "makan aja sudah. Jangan banyak protes."


Tapi, aku nggak peduli. Aku suka merengek, kayak anak kecil. Selama belum dimasakin sama ibu, pasti aku terus menagihnya.


Aku ingat, ibu suka protes kalau aku merengek.


"Nanti ibu masak kalau sempat ya." kata ibu waktu itu.


Meski belum tahu kapan waktunya ibu mau masak, aku sudah bahagia. Uniknya, selama ibu belum masak rawonnya, selalu aku tagih janjinya setiap hari.


Sebenarnya, ada langganan warung nasi rawon yang enak meriah muntah. Hahahahahah!


Tapi, penjualnya agak judes. Meski begitu, aku nggak peduli. Kalau kepingin rawon, aku beli disana. Terkadang, sampai tambah lagi, untuk makan sesi yang keduanya.


Teman-teman bilang, aku rakus. Makan rawonnya sampai dua piring. Aku nggak peduli apa kata mereka. Pokoknya aku kenyang, makan rawonnya.


Selain rawon, aku juga suka makanan yang namanya tahu campur. Bagiku, tahu campur itu, makanan terlezat sejagad raya.


Pernah, harus menahan rasa ingin beli tahu campur, karena belum dikasih uang jajan. Waktu itu, kalau nggak salah, aku masih kelas 1 SMP.


Bicara buah, aku suka buah kesemek. Rasanya, buah kesemek ini juga buah yang paling lezat. Hanya di jawa, buah ini bisa aku temukan. Sedangkan di kota perantauanku, aku belum pernah menemukannya.


Selain buah kesemek. Jeruk bali, itu yang paling aku cari saat pulang kampung.


Besar buah jeruk balinya, segede bola volly. Hahahaha! Lebai! Sebenarnya nggak gede banget sih. Tapi, gampangnya, kusebut saja sebesar bola volly.


Kalau aku pulang, pokoknya semua makanan kesukaanku, ditawarin sama Sintia.


"Mas, kabar Hira gimana?" tanya Sintia. "Alhamdulillah baik-baik saja." jawabku.


Sintia pingin lihat anak aku, Sora. Katanya dia penasaran. Belum pernah melihatnya sejak lahir.


Jadi, aku inisiatif, untuk video call sama Hira. Kusampaikan ke dia, kalau Sintia rindu, pingin lihat Hira dan juga anakku.


Tak lama, hanya beberapa menit.


"Ayu anakmu ya Mas," kata Sintia memujinya.


"Iya, siapa dulu emaknya," kataku sok percaya diri.

__ADS_1


Sintia pun melepas tawa ketika aku katakan seperti itu.(bersambung)


__ADS_2