Maaf, Kita Tak Sejalan Lagi

Maaf, Kita Tak Sejalan Lagi
Persiapan Nikah


__ADS_3

Sesuai rencana, hari ini, aku mau ketemu ibunya Hira.


Lama aku berdiri di kamar mandi. Kupandangi sendiri wajahku lekat-lekat, di depan cermin.


Terkadang nggak habis pikir, aku nggak ganteng tapi kenapa aku sukses mempermainkan banyak perasaan perempuan.


Ah! Itu kan masa lalu! Sekarang kan aku sudah tobat! Kataku berdebat dengan diri sendiri.


Ya sudah! Kalau tobat. Awas, kalau kamu ingkar!? kataku lagi masih berdebat dengan bayangan wajahku di cermin.


Aku berkomitmen, dengan sepenuh hati, aku akan mencintai Hira. Mulai kemarin, sejak dia kupinang, sampai maut memisahkan.


"Hahahahaha! Ya itu kan janji manis seorang lelaki yang sedang berjuang mendapatkan pujaannya. Coba kalau sudah dapat, apa iya masih pegang komitmen?" gumamku lagi masih perang batin.


Ya. Akan aku coba semampuku! Mencintai Hira. Karena, aku memang sudah jatuh hati padanya.


"Ah, yang bener," sisi batinku masih meragukannya.


Ponselku berdering. Nada panggilan masuk, dari Hira.


Untuk pertama kali, dia meneleponku. Selama ini, berkomunikasi dengan Hira, hanya sebatas chat lewat whatsapp.


"Mas dimana?" tanya dia dari balik ponsel genggamku.


"Di hatimu, sayang," jawabku. Mendengar itu dia langsung protes.


"Serius nih. Aku nanyak!" kata dia lagi.


"Ya sudah. Mau nanyak apa?" jawabku, berusaha serius menanggapinya.


"Dimana. Jawab dulu!" kata Hira.


"Di rumah nih," jawabku singkat.


"Mas, aku mau kamu melamarku di depan orang tua aku." pinta Hira.


"Oh nggak masalah sayang. Tenang-tenang. Aku nggak bakal menolak permintaanmu. Dan.....Itu memang sudah kujadwalkan hari ini, mau datang ke rumah Hira, jumpa ibu." terangku panjang lebar.


"Ih. Menyebalkan. Kenapa nggak ngasih info ke aku sih. Nggak sopan dia ni," celetuk Hira.


"Kejutan," kilahku.


"Kan lebih oke kalau dikasih kejutan." kataku menggodanya.


"Hmmm. Mulai nakal ya, awas aja!" ancam Hira.


"Ya sudah. Ditunggu." kata Hira mengakhiri percakapannya.


***


Berangkat dari rumah, pakai baju kemeja rapi. Bawa oleh-oleh aneka buah-buahan. Aku beli dari toko buah.


Aku menghentikan langkahku. Karena ada ragu yang menggelayut di benak.


"Apa sebaiknya aku minta ditemani sama Subandi," gumamku.


Ketelepon langsung dia. Janji aku jemput.

__ADS_1


"Bro sejam lagi aku ada acara lamaran. Temani ya!" kataku memohon.


"Hah.....apa lamaran?" kujauhkan ponsel androidku dari telinga. Karena, suara dia sangat kuat, hingga memekakkan telingaku.


"Iya. Aku mau kawin, Bro!" jawabku juga kuat-kuat. Hahahahaha!


"Serius?!"


Sumpah aku masih belum percaya, apa yang aku putuskan kali ini. Kenapa aku bisa jatuh hati sama perempuan tengil itu, dan sekarang menjadikannya sebagai istri. Ya ini takdirku. Hira dan Budiman harus bersatu.


Untung ada Subandi. Kalau nggak ada dia, bisa mati kutu aku di depan orang tua Hira.


"Bu. Izinkan saya untuk melamar anak Ibu," kataku, penuh percaya diri. Tapi,


aslinya, bersamaan dengan itu, jantungku deg-degan.


Apalagi, ibu Hira hanya diam awalnya. Dia melirik Hira, minta jawaban anak gadisnya itu.


Hira juga diam. Tak memberi jawaban.


"Gimana Hira. Kamu bersedia jadi istrinya Nak Budiman?" tanya ibunya.


Hira masih diam. "Sekarang, tergantung Ibu, merestui kami atau nggak," sebut Hira, hati-hati.


"Ya intinya ibu menerima apa yang jadi keinginan kalian berdua. Hanya satu, pesan ibu buat kalian. Tolong berusahalah hidup rukun. Saling menyayangi, menghargai satu sama lain." kata ibunya Hira mewanti-wanti.


"Ini saya serahin uang Rp50 juta, untuk biaya dan keperluan nikah." kataku menyerahkan uang dalam amplop coklat besar.


Spontan wajah ibu Hira sumringah, dapat sodoran uang lamaran anaknya.


"Jadi, saya mau, persiapannya seminggu ini. Jadi, saya mau, cukup nggak cukup, uang Rp50 juta itu untuk persiapan acara pernikahan." kataku penuh semangat.


Perlahan, deg-degan aku agak hilang.


Hira, kulihat tak banyak bicara. Tapi, dia juga aku perhatikan, diam-diam curi-curi pandang padaku.


"Maaf saya permisi," kata Hira setelah mendengar adzan isya'


***


Di pembaringan ini, aku tak bisa memejamkan mata. Tak sabaran aku menunggu hari H itu.


Sepekan lagi, aku jadi suami. Andai mama masih ada, pasti beliau bahagia, bertemu Hira.


Aku yakin, Hira itu bakal jadi menantu idaman mama.


"Hira, makasih ya, kamu sudah mau menerima aku apa adanya," kataku penuh haru, pada Hira, lewat chat whatsapp.


Dalam hitungan detik, Hira membalas chatku.


"Iya sayang, aku juga bahagia, kamu sudah memilih aku jadi pendampingmu." katanya mesra.


"Besok temani Mas ya buat cari seserahan. Hira pilih ya apa aja isi seserahannya," kataku.


"Iya sayang, oke. Oke. Oke pakai banget," jawab Hira lagi.


"Yang pasti kosmetik make up , sepatu, tas, mukena, handuk, daster, baju tidur, under wear, dan peralatan untuk spa," sebut Hira merinci kebutuhan seserahannya.

__ADS_1


"Baiklah tuan putri," kataku.


"Hira, nanti kamu mau nggak, kalau punya anak 12 orang?" tanyaku bergurau.


"Nggak mau ah! Ntar aku pingsan, banyak-banyak melahirkan anak," protes Hira.


"Hahahaha!" aku terkekeh mentertawakan dia.


"Satu aja ya," jawab dia lagi.


"Jangan dong, kasihan kalau hanya 1 dia nggak punya teman," kataku memberi saran.


"Satu pokoknya. Titik!" kata Hira, ngotot.


"Dua ya," pintaku.


"Eh nikahnya aja belum, udah request anak. Hmmmm," kata Hira.


"Hmmm juga. Kan rencana boleh, sayang," kataku serius.


***


Esoknya, dengan semangat aku pergi dengan Hira. Harus dikebut nih, karena waktu terus berlalu. Tak terasa, kurang lima hari lagi, acara naik pelaminan.


"Udah lancar belum belajar ngucapin ijab qabulnya," tanya Hira mengujiku.


"Udah dong, sayang." kataku dengan mantap.


"Terus baju nikahannya, gimana? Kita besok ke Griya Pernikahan yuk. Fitting baju pengantin," ajak Hira.


"Tapi, aku mau pakai baju yang beda dari pengantin lainnya," kataku.


"Baju model beda dari yang lain gimana maksudnya?" tanya Hira penasaran.


"Pakai sarung, baju koko, dan peci," kataku.


"Hahahaha. Emang mau sunatan. Pakai sarung! Ngacau tahu. Ada-ada aja sih kamu, Mas!" celetuk Hira, masih lewat chat whatsapp.


"Hahahahaha!" kataku terkekeh.


"Besok pokoknya jemput aku. Titik. Kalau nggak dijemput, aku merajuk!" kata Hira mendesakku.


"Oalah. Calon pengantin perempuan kok merajuk. Bahaya nih!" kataku.


***


Di Griya Perkawinan, aku dan Hira, asik memilih baju. Kuputuskan, baju pengantinnya bernuansa putih. Sama halnya juga, nuansa pelaminannya, dominan warna putih.


Ini permintaan Hira. Aku sih oke saja. Warna pelaminan, atau baju dan segala yang berkaitan dengan acara pesta perkawinan, bernuansa putih.


"Sayang aku mau semuanya nuansa putih ya. Boleh kan?" kata Hira lagi.


"Itu semua terserah kamu, sayang. Aku ikut aja apa yang jadi selera kamu. Yang penting kan, akad nikahnya berjalan lancar. Ya nggak sih?!" kataku penuh semangat, meyakinkan Hira.


"Oke sayang, makasih ya, udah percaya sepenuhnya sama aku. Mari sama-sama berdoa semoga semuanya lancar sampai akhir," pungkas Hira.


Akupun berusaha mengaminkan apa kata Hira.(bersambung)

__ADS_1


__ADS_2