Maaf, Kita Tak Sejalan Lagi

Maaf, Kita Tak Sejalan Lagi
Pecah Ketuban


__ADS_3

Menghitung hari. Tak lama lagi, Hira lahiran. Aku bahagia tak terkira. Karena di rumah ini bakal hadir seorang malaikat kecil yang lucu.


Di lemari pakaian, sekarang tak hanya tersimpan bajuku dan baju Hira. Tapi, ada banyak popok bayi tersimpan di sana.


Di rak bedak Hira, bukan hanya perlengkapan Hira. Tapi, ada sabun dan lotion serta baby oil.


Semua keperluan malaikat kecilku, sudah tersedia di lemari kecil khusus yang aku beli tiga bulan yang enak-enak main game, Hira tiba-tiba mengeluh. Perutnya sakit.


Buru kupapah dia menuju ke mobil dan kularikan ke bidan terdekat. Tapi kuurungkan niatku itu karena sebelumnya Hira minta melahirkan di bidan Anggi.


Kata dia, disana pelayanannya bagus dan tempatnya nyaman, serta bersih. Akhirnya kucari dimana bidan Anggi buka praktek.


Aku mengalah meski sebenarnya aku nggak punya cukup uang untuk lahiran di sana. Perkara nanti kurang, entahlah pasrah aja. Sekarang yang penting Hira bisa sampai dulu di bidan Anggi.


"Mas....aku mau di bidan Anggi ya," katanya lirih sambil menahan rasa sakit perutnya.


Aku semakin panik saat melihat ada darah mengalir, melewati betisnya.


"Sabar, sayang ya sebentar lagi sampai," kataku sembari terus melajukan mobilku menuju tempat praktek bidan Anggi.


Tak lama, kuparkir mobil sedapatnya. Lalu kupapah Hira masuk ke ruangan lobi tempat bidan Anggi menerima pasien yang akan melahirkan.


Ada asistennya yang pertama menerima kedatangan aku dan Hira. Perempuan muda usia dua puluh limaan itu langsung mengarahkan langkahku ke ruangan pasien.


Ada 10 ruangan di tempat praktek bidan Anggi. Boleh dibilang, selain nyaman, bersih, di bidan Anggilah tempat persalinan yang paling bagus di kota ini.


Baru pertama aku masuk ke sini. Pilihan Hira memang tepat. Pantas saja, biaya bersalin di tempat bidan Anggi, terkenal mahal.


Setelah kurebahkan tubuh Hira di ranjang pasien, tak lama bidan Anggi datang. Setelah dicek, bidan Anggi bilang, untung cepat dibawa kemari. Karena Hira memang mau melahirkan. "Ketubannya sudah pecah, Pak. Bapak siap-siap tunggu di luar ya. Biar kami yang menangani." sebut bidan Anggi setelah memeriksa kondisi Hira.


"Tapi, Pak ini masih bukaan ketujuh," sebutnya lagi.


"Kalau bapak masih mau menunggui istrinya ya nggak apa-apa Pak," kata bidan Anggi, masih memperbolehkan aku berada di ruang persalinan itu.


Aku bingung. Nggak paham apa maksud bukaan yang disebutkan bidan Anggi tadi. Jadinya, aku manut aja apa arahan dia. Aku tetap menemani Hira.


Kubuka-buka di internet. Tanya Mbah Google. Apa maksud bukaan yang disebutkan bidan Anggi.

__ADS_1


Hmmmm. Ternyata bukaan itu, proses jelang melahirkan. Dimana, kata Mbah google. Proses pembukaan persalinan biasa dihitung dengan angka 1-10. Namun, jangka waktu dari terbukanya serviks hingga tiba waktunya melahirkan, dapat berbeda pada setiap ibu hamil. Ada ibu hamil yang serviksnya masih tertutup, tetapi secara cepat pembukaan berkembang dari 1 hingga 10 dan siap melahirkan dalam hitungan jam.


Ya sudah aku tungguin saja Hira. Dari tadi dia minta dipijitin pinggangnya karena dari tadi dia mengeluh sakit.


"Mas. Masih lama lagi nggak ya bayinya keluar," tanya Hira masih mengaduh kesakitan.


"Sabar ya Buk, masih bukaan ketujuh. Kalau sudah bukaan ke sepuluh, baru nanti dedeknya lahir, Buk," sebut bidan Anggi memberi pengertian pada Hira.


"Berapa jam itu ya menuju bukaan sepuluh," tanya Hira penasaran. Ia tak sabaran karena sudah dua jam lebih menahan sakit perutnya.


"Minum madu ya, sayang. Biar kamu kuat," kataku menawarkan madu pemberian Subandi yang kebetulan dia juga ikut menemani aku.


"Aku tadi nggak lihat kamu datang, eh tiba-tiba disini," kataku.


Kata Subandi, dia tahu aku mengantar Hira ke bidan Anggi, setelah lihat status aku di whatsapp.


"Makasih ya Bro, sudah menemani. Maaf ya merepotkan kamu, jadinya." kataku.


"Nggak Mas Bro. Ini aku pulang sekolah, langsung pingin mampir," sebutnya.


"Tadi, sebenarnya ada rapat bareng kepala sekolah. Tapi, aku minta izin dulu, urgent. Aku bilang kalau ada kakak yang mau melahirkan," jelasnya.


Kurasa, nggak ada sahabat sebaik Subandi.


***


Saatnya sudah tiba, aku dan Subandi diminta keluar ruangan.


"Maaf ya bapak-bapak, tunggu di luar. Sepertinya si dedek sudah nggak sabaran mau keluar," kata bidan Anggi padaku dan Subandi.


Gelisah aku menunggunya di luar. Dalam hitungan setengah jam kemudian, seorang bocah mungil itu kudengar tangisnya memecah keheningan siang itu.


"Selamat ya buk. Anaknya cewek. Lahir dengan selamat." kudengar bidan Anggi mengatakan itu pada Hira.


Spontan, Subandi langsung memelukku. Tanda memberi ucapan selamat padaku.


Siang itu, aku bahagia tak terkira. Rasanya, kini duniaku berbeda. Ada cahaya penerang hidupku dan Hira.

__ADS_1


"Yess aku jadi bapak!" pekikku dan Subandi melepaskan pelukannya dari aku.


"Semoga kamu menyusul ya Bro," kataku. Tapi tak kusangka perkataan itu membuat Subandi terdiam. Dia pasti sedih.


Aku langsung minta maaf padanya. Aku nggak ada maksud apa-apa, saat mengucapkan itu.


Aku cuma ingin mendoakan dia, yang sudah menikah bertahun-tahun tapi tak dikaruniai anak.


Gantian aku memeluknya. Sembari kuucapkan kata maaf.


"Maafkan aku ya Bro, aku khilaf," kataku.


Subandi seperti berusaha biasa-biasa saja. Tapi, kulihat dia sedih dengan perkataan aku tadi.


"Nggak apa Mas Bro. Sudah biasa kok itu. Terimaksih sudah mendoakan aku." katanya sembari berusaha tersenyum. Kutahu, senyumnya itu dipaksakan.


Setelah suasana tenang. Bidan Anggi keluar dari ruang persalinan Hira itu. Masih dengan sarung tangan dan baju APD nya.


"Selamat ya Pak, anak bapak cewek. Dia lahir dengan selamat. Begitu juga ibunya, selamat," kata bidan Anggi dan berlalu dari hadapanku.


Aku dan Subandi langsung menerobos masuk. Melihat keadaan Hira dan ingin memastikan bahwa kondisinya baik-baik saja.


Aku tak sabaran mendekat ke ranjang mungil berisi bayi perempuan itu. Matanya masih terpejam, dibalik balutan kain pembedong.


"Ya Allah, terimakasih. Ini adalah anugerah terindah yang pernah Kau titipkan padaku." ucapku lirih sembari telunjuk tangan kananku membelai pipinya yang mungil memerah itu.


Subandi, awalnya hanya mengamati dari jarak jauh. Tapi, karena penasaran, dia ikut mendekat ke ranjang bayi.


Kata dia, wajahnya mirip Hira. Spontan aku langsung berseloroh.


"Kalau kamu bilang mirip tetangga sebelah, artinya kamu ngajak duel aku?!" sebutku, agak menurunkan nada bicaraku. Sebab, Hira marah kalau aku bicara kuat-kuat.


"Mas, pelan sedikit dong bicaranya, Hira juniormu itu pasti kaget nanti kalau ngomongnya kuat-kuat," protes Hira.


"Kita langsung pulang kan ya Bun?" kataku pada Hira.


"Eh siapa, Bun itu?" tanya Hira bercanda.

__ADS_1


"Ya kamu lah sayang. Aku harus panggil kamu Bun. Mulai sekarang. Kalau aku panggil Hira, bisa kacau dunia persilatan. Anak gadis comel ini pasti meniru aku, kalau panggil Hira. Hehehehe," jelasku lalu mencubit mesra pipinya.(bersambung)


__ADS_2