
Aku masih kegirangan. Setelah menerima orderan dari Subandi kemarin, sekarang ada orderan lagi. Lumayan banyak. Orderannya dari guru-guru di sekolah aku.
Seiring dengan berjalannya waktu, semua berjalan seperti yang aku inginkan. Aku tetap bisa melaksanakan tugasku sebagai guru, dan aku tetap bisa menjalankan usahaku.
Tapi, belakangan Hira benar-benar cuek padaku. Bahkan, dia merasa tak diperhatikan sama sekali.
Aku mencoba memberi pengertian dia, kalau hasil dari usahaku itu, akan aku pergunakan untuk modal membuka usaha yang lebih besar lagi.
Ya. Sesuai impianku dan impian Subandi, kami sama-sama berkeinginan punya ruko sendiri, dari hasil jualan ikan segar.
Entah kapan impian itu tercapai, pastinya aku terus berharap. Begitu juga dengan Subandi.
Aku juga merasakan manfaatnya. Setelah memulai usaha kecil-kecilan, jualan ikan segar online, aku bisa menabung. Meski sepuluh ribu sehari, atau dua puluh ribu sehari, itu rasanya berharga banget.
"Mas, kamu sebenarnya lebih mementingkan usaha kamu apa anak kamu, dan aku?" protes Hira yang dibarengi dengan bibirnya yang monyong ke depan.
Bingung aku menjawab pertanyaan dia. Tapi, sebagai suami, aku harus tegas. Karena aku memang harus banting tulang mencari nafkah. Apalagi, aku yakin, hidup dengan satu anak, tak cukup biaya dua juta sebulan. Jadi aku harus mencari tambahan usaha.
"Sekarang, terserah apa mau kamu, Hira. Aku berjuang usaha seperti sekarang, semua demi anak kita yang akan lahir nanti. Kalau kamu nggak terima, ya aku mau bilang apa. Maaf, waktuku sekarang harus cari duit. Nanti kalau kamu lahiran, aku bisa biayai persalinan kamu," jelasku panjang lebar.
"Iya aku paham Mas. Aku tahu kamu jualan hasilnya untuk biayai persalinan aku. Tapi, belakangan ini, kamu nggak pedulikan aku dan anak kamu yang masih dalan kandunganku ini," jelas Hira sembari mengelus perutnya yang terlihat buncit itu.
"Bener-bener aku ngerasa, nggak punya suami. Karena kamu sekarang cuek banget sama aku," kata dia, mengeluh padaku.
Ya Allah rasanya aku bingung menghadapi masalah ini. Di sisi lain, aku harus berusaha cari duit dan juga dituntut tetap harus memperhatikan istri.
Daripada urusan panjang, aku langsung minta maaf ke Hira. Janji akan lebih perhatian lagi padanya.
Mungkin ada benarnya, aku mulai kurang perhatian lagi sama Hira dan calon bayiku, karena aku sibuk nyari uang.
***
__ADS_1
Sebagai ganti, aku mengajak Hira jalan-jalan ke mall. Menyenangkan dia seharian, melihat dia tertawa, membelikan makanan yang dia suka. "Semoga aku bisa selalu memberikan yang terbaik, untuk istri dan anak aku," doaku.
"Mas, kayaknya sekitar awal bulan aku lahiran. Kata dokter, kalau tak meleset, sekitar tanggal 2 Juni," kata Hira memberitahuku.
Aku langsung bahagia mendengar penjelasan Hira. Berarti tak lama lagi, aku bakal jadi ayah.
"Anak kita cowok kan, sayang?" tanyaku pada Hira. Karena, aku sengaja menyarankan Hira, agar tak di USG. Jadi, bisa dibilang, nanti kelahirannya adalah sebuah kejutan.
"Cewek, kayaknya Mas," sebut Hira seolah yakin kalau anak dalam kandungannya itu, cewek.
Aku menghela nafas panjang. Lalu kukatakan padanya, laki perempuan, sama saja.
"Satu hal yang terpenting, dia nanti lahir dalam keadaan selamat." celetukku.
"Mas, kita cari popok yuk, buat persiapan," ajak Hira dan aku jadi resah. Karena lagi nggak punya uang. Jadi, terpaksa harus pecah celengan di rumah.
"Sayang, aku lagi nggak bawa uang lebih. Gimana kalau cari popoknya, besok ya," kataku, minta toleransinya.
Tak terbayang, setelah punya anak nanti, aku bakal sibuk ngurusin anak dan juga ngurus bisnis. Aku harus bisa adil, antara bisnis dan keluarga.
***
Pulang jalan-jalan dari Mall. Malam saat aku tiba di rumah, waktu menunjukkan pukul 22.30 wib.
Hira langsung menuju kamarnya, karena dia merasa ngantuk. Sedangkan aku, masih terdiam, di ruang tamu.
Sampai detik ini aku masih berpikir dan mencari cara, bagaimana bisa membuka usaha, dan menghasilkan uang banyak. Karena, ke depan, kebutuhan hidupku pasti bakal meningkat seiring dengan hadirnya jabang bayi anak pertamaku.
Kupandang celengan bergambar kuda poni itu. Terpaksa harus aku gunting atasnya, untuk mengeluarkan uangnya.
Kuhitung-hitung. Lumayan. Hasil nabung selama jualan ikan segar. Sebenarnya aku belum berniat mengambil uang dalam celengan itu. Tapi, apa boleh buat, terpaksa aku bongkar karena aku memang lagi nggak punya uang untuk beli popok calon anak aku.
__ADS_1
"Alhamdulillah," ucapku. Ada delapan ratus ribuan dalamnya. "Selamat. Budiman. Kamu bisa manfaatkan hasil celenganmu itu untuk beli popok anakmu," kataku bicara dengan diri sendiri.
"Beli popok paling dua ratus ribuan. Sama perkakas lainnya. Bak mandi bayi sama botol susu." pikirku.
Semoga aja, uangnya nggak kurang. Kalau kurang, nggak tahu mau pakai uang siapa.
Kalau pakai uang Hira, aku merasa jadi suami dan calon bapak yang nggak ada guna. Sebab, tugas bapak adalah memberi nafkah anak istri.
"Sore kita jalan ke mall ya cari popok anak kita," kataku keesokan harinya. Kebetulan hari minggu. Sama-sama libur nggak masuk kantor.
Hira langsung senang kukasih tahu mau ke mall. Terus dia juga request minta dibelikan jamu orang habis melahirkan, satu paket. Harganya dua ratus ribuan.
Hmmmm.... ya sudahlah. Gimanapun aku harus memenuhi apa permintaan Hira. Karena, jamu habis melahirkan itu memang wajib diminum perempuan yang habis melahirkan.
Awalnya, aku niat menyimpannya lagi, sisa uang dari delapan ratus ribu hasil celengan aku itu. Ternyata, ada tambahan permintaan dari Hira.
Sepertinya impian beli ruko, harus dipending dulu nih. Gimana mau beli ruko, pengeluaran jelang istri melahirkan, membengkak dua kali lipat, dari pengeluaran biasanya.
Sabar....sabar....! Orang sabar disayang Tuhan.
Dengan meningkatnya pengeluaran ini, aku semakin bersemangat usaha. Usaha lebih giat lagi, jualan ikan segar. Makan untuk diri sendiri juga dihemat.
"Mas, nanti kalau lahiran, aku nggak mau di bidan Yuna. Aku mau di bidan Anggi. Disana, mahal dikit tapi kata orang, pelayanannya bagus," tiba-tiba Hira request tempat untuk melahirkan.
Oalah gusti, semakin berat, ujian aku jadi calon bapak. Demi menyenangkan hati istri aku pun bilang oke. Perkara biaya, bisa dicari.
Aku, intinya berusaha bisa menjadi suami siaga. Kucari info ke teman-teman kantor, soal referensi bidan paling bagus. Ternyata, rata-rata mereka menyarankan lahiran di bidan Anggi. Seperti kata Hira, di sana pelayanannya bagus. Tempatnya nyaman dan bersih.
Baiklah kalau begitu. Memang sudah jalannya, aku harus bekerja keras demi menyenangkan hati istri. Kebahagiaan istri, nomor satu.
Padahal, di sisi lain aku masih bingung, karena uang persiapan melahirkan, cuma pas-pasan. Semoga jelang menunggu hari H, aku punya rejeki dan keinginan Hira melahirkan di bidan Anggi terkabul.(bersambung)
__ADS_1