
Mungkin sudah jadi kebiasaan. Sepertinya, setiap makhluk bernama istri, tak pernah meninggalkan pakaian yang namanya daster.
Sebenarnya, sah-sah saja kalau pakai daster. Nggak ada masalah. Tapi, masa iya, saban hari para suami disuguhi penampilan daster.
Bukan nggak suka. Hanya saja, aku sebagai suami, sebenarnya pingin demo, mewakili suara hati suami-suami lainnya.
Meski di rumah, suami itu butuh penampilan istri yang sexy. Hahahaah!"
Kalau pakai daster, kesannya emak-emak banget. Padahal, Hira itu cantik. Masih muda. Tapi, dia tak pandai jaga penampilan.
Bangun tidur, siang jam 10.00 wib. Seharusnya, sebagai istri, dia bangun pagi, lebih awal .
Begini ternyata kebiasaan buruk Hira kalau libur.
Masih bau jigong. Padahal pengantin baru tiga bulan. Tapi, penampilan Hira sudah nggak asik.
"Sayang, nanti jalan yuk. Besok kan aku sudah masuk kantor. Kita abisin waktu hari ini shopping yuk," pintanya. Jelas saja, permintaan dia, buat aku pusing.
Aku masih diam, belum menjawab permintaan dia. Karena aku pikir, ajakan dia hanya akan menguras dompet dan atm aku.
"Ya sayang yuk. Besok udah nggak bisa kelayapan. Jadi, sekarang aku mau memanfaatkan waktu buat menyenangkan diri sendiri." katanya.
"Nggak ah. Kalau shopping, aku nggak hobby. Enakan di rumah aja. Bobok," kataku berusaha menolak.
"Duh ayo dong," desaknya.
"Sekali ini aja," rengeknya persis kayak bocah minta mainan.
"Gimana kalau Mas kasih uang aja. Kan katanya malas mau kemana-mana," katanya merayuku.
"Hmmm. Dasar para istri. Kerjanya nyusahin para suami saja," gumamku. Untung tak dengar. Kalau dia denger bisa perang dunia keempat.
"Gimana Mas, ikutan nggak. Kalau nggak ikutan, kasih uangnya ke aku aja. Hitung-hitung nyenengin istri," rayunya dengan segala kata.
Terpaksa aku serahin uang saja, daripada aku ikut. Karena aku nggak hobby shoping.
"Uh emang pandai istriku ini," kataku sembari menyerahkan lima lembar uang lima puluh ribuan. Tapi, sebenarnya aku yang protes dalam hati. Tapi, ya sudahlah biarkan saja.
__ADS_1
"Kurang dong sayang. Ini aja kalau dibelikan daster, cuma dapat 2 lembar," kata dia, merayuku lagi.
Kusodorkan dompetku. Kusuruh dia lihat sendiri.
"Nih, lihat sendiri isinya nggak ada lagi. Sudah aku serahin semua ke kamu, sayang," kataku coba meyakinkan Hira.
"Kalau nggak, sini ATM kamu aja, Mas. Aku nggak akan pakai semua kok. Jangan khawatir. Paling, harga daster kencana ungu, berapalah. Nggak mahal kok," kata dia lagi, dengan segala cara merayuku.
"ATM nya kan sama kamu, sayang. Sedangkan tabungan deposito aku kan mana ada ATM nya," jelasku serius.
"Bisa mati mendadak aku, kalau semua uangku diminta dia. Terus, aku hidup pakai apa? Masa iya mau beli apa-apa, minta sama istri. Kan lucu. Apa kata dunia," gumamku yang masih diselimuti rasa was-was.
"Hei Budiman. Jangan begok ya. Nanti ATM nya kamu serahkan. Bisa kacau duniamu," pekikku lagi, dalam hati.
***
Aku nggak tahu, sejak kapan dia hobby beli daster. Setiap gajian, dan awal bulan, pasti dia beli daster.
Jangan-jangan hobby dia itu, sejak dia di dalam kandungan.
"Cakep pakai banget, kayak yang order," kataku sambil memeluknya.
Lalu, aku ngeloyor masuk kamar meninggalkan Hira yang sepertinya lagi kasmaran sama daster-daster barunya itu.
"Ih sayang. Tunggu. Kok ditinggal tidur sih," celetuk Hira yang berusaha menghentikan langkahku, tapi aku tetap saja melanjutkan rebahan di ranjang.
Tak lama, dia juga ternyata mengekori aku. Lalu, dia manja-manjaan, dengan ikutan rebahan di samping aku.
"Sayang, kamu marah ya aku beli daster?" tanyanya sambil memelukku dari belakang. Sebab, posisi rebahanku, membelakangi dia.
"Nggak ah," jawabku masih dengan mata terpejam.
"Terus, kok aku ditinggal tidur? Nanti dulu dong tidurnya. Masih jam 21.00 wib nih," kata Hira menggoncang-goncangkan tubuhku dari belakang.
"Ngantuk nih, besok kan kita sama-sama harus bangun pagi. Ngantor hari pertama, setelah cuti. Nanti kalau telat kan nggak enak sama kepala sekolah," kataku lagi.
Mendengar pernyataanku itu, dia berusaha memahami apa keinginanku, untuk tidur. Dia bangkit, mematikan lampu. Memeriksa pintu dan jendela. Lalu, ikut rebahan lagi di sampingku.
__ADS_1
Suasana itu, membangkitkan jiwa lelakiku, yang ingin berpetualangan di atas ranjang, sebelas menit saja. Ya! petualangan pengantar tidur malamku.
Kuputar tubuhku. Kami pun berhadap-hadapan. Kulihat dia memejamkan matanya. Pelan-pelan kubelai pipi lembutnya. Kukecup bibirnya penuh gairah.
Tanganku, menelusuri "titik-titik" surga Hira, mulai dari betis, sampai ke zona segitiganya. Kusingkap daster baru yang melekat di tubuhnya itu.
Kutemukan titik segi tiga bercorak pink bunga-bunga itu. Kusingkap area segi tiga pink itu dengan bibirku. Disana, kutemukan pelataran yang basah, menguarkan aroma wangi sirih yang menggoda.
Hira mendesah. Seperti penari striptis yang memcoba membangkitkan gairah penontonnya. Tubuhnya meliuk-liuk dengan posisi rebahan itu.
Aku tak peduli itu, karena aku ingin menyapu pelataran basah itu, dengan sapu ajaibku.
"Mas, aghhhh! Aku suka sapu ajaibmu, terus sapu sayang, aku mau, lagi dan lagi! Jangan berhenti ya sayang, sampai bersih sapunya," kata Hira dengan manjanya.
Daster pengganggu itu, kulepas dari tubuh mungilnya. Ya! Dengan seperti itu, aku leluasa menyapu pelataran lainnya.
Kualihkan sasaran menyapuku ke zona dua tombol. Di zona ini, semakin membuat aku mabuk kepayang, menikmati dua pemandangan gunung kembar yang masih tertutup bra. Kulucuti bra yang menghalangi pandanganku tadi.
Setelah itu, aku bebas menyapu dua tombol itu dengan sapu ajaibku. Sedangkan posisi tanganku masih stay di zona segitiga. Karena tangan aku masih suka bermain di zona segi tiga pink itu.
Hira semakin mendesah dan tak ingin lepas dari cumbuanku. Tapi, lahar panas kelakian aku, serasa mau meletus.
Cepat-cepat kuarahkan dia memasuki gua kenikmatan itu, hingga akhirnya meletus beberapa kali.
Bersamaan dengan itu, Hira menjambak rambutku dan berbisik lembut di telingaku, katanya dia mau ada game lagi, untuk sesi kedua.
"Iya sayang, aku akan ciptakan game kedua, setelah beberapa menit lagi ya, karena aku juga sudah merancang game kedua, untuk kamu mainkan sampai tuntas ya sayang," kataku berbisik di telinganya.
Di game sesi kedua, Hira gantian menyerang gudang rudalku, habis-habisan. Dia memainkannya tanpa henti. Kulihat, malam ini Hira bahagia, dengan game sesi kedua.
Bahkan, dia mengarahkan rudalku, memasuki gua miliknya. Aku pun semakin bahagia dengan aksi erotisnya malam ini.
"Agh sayang. Kamu hebat. Perempuan paling menyenangkan. Kamu buat aku bangga! Kamu asik sayang, malam ini," pujiku setelah rudalku meletus untuk yang kedua kalinya.
Malam itu, rasanya aku puas dengan game dua sesi yang lebih didominasi sama Hira.
Setelah itu, kami pun rebah di atas ranjang, setelah kelelahan. Tapi, sebelum aku terlelap, kututupi tubuh Hira yang tanpa sehelai benang itu, dengan selimut.(bersambung)
__ADS_1