Maaf, Kita Tak Sejalan Lagi

Maaf, Kita Tak Sejalan Lagi
Jatuh Cinta yang Kedua


__ADS_3

Jujur, aku memang sedang berusaha melupakan Sabrina. Ya, dia satu-satunya perempuan yang berhasil memporak-porandakan hidupku.


Dia masa laluku. Sekarang, aku ingin menatap masa depan bersama cinta yang lain. Ya cinta itu dari Hira.


Kutemukan duniaku lagi, bersama dia. Cewek tengil yang berusaha mendekatiku dengan berbagai cara. Hahahahah. Dasar emang cewek tengil. Tapi, bikin rinduku membuncah!


Sejak pertemuanku dengan dia, hari-hariku jadi berbeda. Hidupku lebih berwarna. Ya. Aku mulai punya sandaran hati.


"Mas, jemput ya, motor Adek mogok nih di sekolah. Oh ya, Adek pulang ngajar jam 11.00 wib, kalau hari jumat."


*Dreeett*


Ponselku bergetar. Kubuka kiriman chat di whatsapp. Sudah sepekan ini, sejak kuberanikan diri datang ke rumah Hira, dia rajin kirim chat aku.


Hmmm. Hampir setiap saat, tanpa jeda. Ada saja yang dia perbincangkan lewat chat. Mulai dari hal sepele sampai tentang hal-hal kehidupan pribadinya.


"Oke, Mas jemput, pulang dari sekolah juga ya. Paling sama, jam 11.00 wib juga," kataku membalas chatnya.


"Iya, Mas Budiman sayang," balas Hira stembari membubuhkan emoticon bergambar hati.


Hmmmm....ini kali pertama dia memanggilku sayang, meski lewat chat. Jantungku berdebar tak karuan. Udah ke-GR-an aja aku. Rasanya, dia sudah jadi milikku.


***


*Dreet...*


Ponselku bergetar.


"Mas Bro. Makan siang yuk, sebelum jumatan," ajak Subandi lewat chat.


"Bro, maaf nih, aku janji jemput Hira di sekolahnya. Dia bilang motornya mogok," jawabku.


"Weeeeeeeee! Wowwwwww! Amazing. Luar biasa. Selamat menjemput belahan hati ya!" kata Subandi dengan emoticon jempolnya.


"Apaan sih. Belahan hati!" kataku protes.


"Ya iya lah Mas Bro. Kalau bukan belahan hati, apa coba?!" goda Subandi.


"Eh ayang Beb aja deh," katanya mengklarifikasi.


"Hahahahaha. Ayang Beb dari planet Mars, baru aku mau." balasku.


"Hahaha. Mas Bro ini bisa aja. Berarti lagi merindukan gadis dari planet Mars nih?" ujar Subandi lagi, bikin aku makin terkekeh.


"Yo wis ini sudah mau jam 11.00 wib. Aku siap-siap ya mau ke sekolah Hira," kataku minta mengakhiri percakapan.

__ADS_1


"Beuhh udah nggak sabaran. Baru juga jam 10.15 wib, Nih Mas Bro. Dia kan masih ngajar. Marah nanti kalau gurunya sedang ngajar, ada yang jemput. Hahahahaha!" celetuk Subandi lagi, nyindir aku.


"Dasar gemblung. Ya aku tunggu sampai selesailah," kataku mencari pembelaan diri.


"Yo yo....yo....baiklah kalau begitu," katanya, dan kami menyudahi percakapan Jumat pagi itu.


"Mas, Adek, udah siap ngajar. Tadi minta pulang cepet. Karena Adek lagi nggak enak badan," pesan Hira padaku.


"Ya ampun, ya udah. Mas ngebut nih ke sekolah Adek. Tunggu ya," kataku.


Dengan kecepatan 80 km/ jam, aku melaju menuju sekolah Hira. Dalam hitungan setengah jam aku, sudah tiba.


Kulihat, cewek tengil itu sudah menunggu di halte depan sekolah. Tanpa banyak tanya, saat melihatku, dia berdiri lalu, naik ke boncengan motorku.


"Makan siang dulu yuk, di rumah. Tadi Adek masak rawon, pasti Mas suka," katanya saat di perjalanan.


"Wah, rawon, mau dong," kataku.


"Oke. Tadi sudah disiapkan sama ibu, katanya," jelas Hira dengan gembira.


"Tiap hari masak ya, Dek?" tanyaku.


"Iya dong, harus. Kan calon ibu rumah tangga," kata Hira dengan meyakinkan.


"Hmmmmm....." kataku.


Sumpah! Tak karuan rasanya. Memang, ini kali pertama, berboncengan dengan dia.


***


Di rumah Hira, sudah terhidang makanan yang lengkap. Ada sayur, lauk pauk goreng tempe dan ikan. Ada rawon, seperti yang dikatakan Hira di perjalanan tadi.


"Ayo, Nak Budiman. Langsung makan. Tadi pasti lelah, pulang dari sekolah," kata ibunya Hira mempersilahkan aku makan di meja makan.


Tanpa berpikir panjang, selera makanku langsung naik sertus persen, karena melihat hidangan makanan yang super lezat.


Hira menyodorkan piring yang sudah ada nasinya.


"Mau cobain rawonnya nggak Mas. Ini Adek yang buat tadi pagi," kata Hira padaku.


Dia melayaniku sepenuh hati. Mungkin, dengan sepenuh cinta juga. Hahahaha!


Tapi, benar-benar nafsu makanku naik, siang itu. Apalagi, disuguhi rawon. Makanan ini, hanya bisa kutemukan saat pulang ke Jawa. Kalau di tanah Melayu, Kota Tanjungpinang, makanan khasnya asam pedas.


Tapi, aku juga jarang menikmati asam pedas. Itu pun kalau ada acara-acara kantor, saat kepala sekolah menjadwalkan acara makan bersama, di kelong.

__ADS_1


"Nanti, bawakan rawon Nak Budiman juga ya Hira. Biar nanti dipanaskan saja kalau mau makan. Gampang kan." kata ibunya yang siang itu ikutan makan, bertiga semeja.


Biasanya, dia ninggalin anak gadisnya, hanya berdua sama aku. Tapi, kali ini dia ikutan nimbrung.


Mendapat perintah itu, Hira hanya mengangguk. Tanda dia mengiyakan perintah ibunya.


Tak lama, ada kakaknya Hira. Dia datang mengucapkan salam. Lalu menggoda kami.


"Assallamuallaikum.Kapan nih diresmikan?" goda perempuan muda berhijab itu.


Perkataan dia, membuat kami cuma bisa cengir-cengir.


"Lho kok cuma cengir-cengir sih kalian. Ibu nunggu jawaban kalian nih," kata dia sembari melirik ke arah ibunya.


"Hehehehe. Nggak tahu, Bu. Mas Budiman yang bisa jawab!" kata Hira nyeletuk tiba-tiba, sambil melirikku.


Kaget aku dia bilang seperti itu.


"Ibu ke belakang dulu ya, kemas-kemas. Berantakan. Tadi mau buat empek-empek. Besok tinggal goreng. Nak Budiman besok ke rumah ya. Ibu buatkan empek-empek," kata ibunya padaku.


"Wah, nggak cuma jago buat rawon. Tapi juga buat empek-empek ya Bu," kataku memujinya.


"Iseng aja Nak Budiman, kemarin Hira minta, soalnya. Dia bilang pingin makan empek-empek. Ibu juga lihat resepnya di youtube. Hehehehhe," jelas Ibu Hira panjang lebar.


"Besok dah, ke rumah ya. Kan Sabtu. Libur ya nggak ngajar? tanyanya.


"Iya Bu, insya Allah," kataku.


"Awas kalau nggak datang. Ibu bisa marah nanti," katanya lagi.


"Iya Bu, insya Allah," ulangku.


Hira melihatku, cengir-cengir terus. Pasti dia bahagia, kalau aku datang makan ke rumahnya.


Hahahah! Itu kan tebakan aku saja sih. Tapi, pasti benar. Kulihat raut wajahnya berseri saat makan bersama aku siang itu.


Aku pamit, karena memang waktuny Jumatan. Hira seperti tak rela aku pergi meninggalkannya. Tapi, aku harus jaga imej. Kan ini waktunya jumatan. Kewajiban laki-laki itu, ya salat jumat.


"Ditunggu ya besok, pokoknya," kata ibunya, mengingatkan aku untuk yang kesekian kalinya aku harus datang lagi, besok, makan empek-empek buatannya.


Dalam hati, mampus aku kalau sering disuruh datang ke rumahnya hanya untuk urusan makan. Ya sudahlah, diundang makan siang, itu kan salah satu bentuk rejeki. Rejeki, mana boleh ditolak.


***


Malam ini, mataku tak bisa terpejam. Padahal waktu menunjukkan pukul 02.00 wib.

__ADS_1


Kucoba pejamkan. Tapi, dia sepertinya tak bisa diajak kompromi. Masih saja mataku terang benderang. Mungkin, ini salah satu efek orang lagi jatuh cinta kayaknya. Ya aku merasa, aku sudah jatuh cinta sama Hira. Tepatnya, jatuh cinta yang kedua. Ini cinta yang abadi atau cinta sesaat ya, aku aku sudah tergoda dengan pesona cewek tengil itu. Entahlah.....aku tak tahu. (bersambung)


__ADS_2