Maaf, Kita Tak Sejalan Lagi

Maaf, Kita Tak Sejalan Lagi
Pedekate


__ADS_3

"Coba, punya uang banyak. Bisa beli mobil. Jadi nggak pakai rental segala," gumamku.


Ya. Aku pusing. Keluarga Hira mengajakku ke pantai Trikora. Terus ke sana pakai motor? Gila! Jauh banget. Jaraknya sekitar 40 km dari rumah Hira.


Terpaksa, aku harus mengeluarkan uang lebih dari kocek, untuk rental/sewa mobil.


Aku janji, bakal mulai rajin nabung dari sekarang. Aku ingin buat keluarga kecilku bahagia. Ya. Bahagiain Hira dan anak-anakku.


Satu setengah jam lagi, acara pedekate sama keluarga Hira, dimulai. Liburan ke pantai sama keluarga besarnya.


"Bismillah. Permainan baru dimulai," gumamku.


"Bro, ikutan dong. Kita mau ke pantai nih, sama keluarga Hira," kataku, pada Subandi lewat chat whatsapp.


Tapi, Subandi menolak. Alasan dia, lagi ada acara dengan orang rumahnya. Ya sudahlah. Mau gimana lagi, aku nggak bisa memaksa dia. Dia kan punya keluarga sendiri.


"Maaf ya Mas Bro, lagi ada acara juga di rumah keluarga Ratna. Kalau nggak ada acara, mau sih aku ikutan gabung," kata Subandi padaku.


"Selamat berlibur ke pantai, ya Mas Bro," imbuhnya.


"Oke. Siap. Terimakasih ya Bro," kataku membalas chat Subandi.


***


Tiba di rumah Hira, aku sedikit grogi. Mana sendirian, lagi. Kalau ada Subandi, aku nggak terlalu canggung.


"Nak Subandi jadi sopirnya ya!" seru ibunya Hira.


Ternyata Hira punya saudara banyak. Sampai 2 mobil Kijang Innova disewa.


Satu mobil, aku yang kemudikan.


Satu mobil lagi, dikemudikan paman Hira. Setelah semua bersiap dengan segala bekal untuk bersantai di pantai, kami melaju membelah jalanan.


Hira tepat duduk di belakang aku. Awalnya aku berharap dia duduk di samping kiri aku. Tapi, ternyata ibunya Hira yang ambil posisi di samping kiri.


"Nak jangan ngebut ya. Ibu takut kalau ngebut. Mau ambil posisi duduk di belakang, ibu takut mabuk, Nak," kata Ibu Hira.


Sesekali aku melirik Hira ke belakang, lewat kaca spion dalam mobil yang menempel di platfon mobil (Rear – Vision Mirror ).


Pandangan kami bertemu. Tapi, dia terlihat malu-malu kucing, lalu mengalihkan pandangannya ke kaca jendela sebelah kanannya.


Tak lama, kulihat dia memejamkan matanya. Pasti dia masih ngantuk. Kata dia, untuk persiapan ke pantai hari ini, dia dan ibunya sudah bangun dari jam 04.00 wib subuh.

__ADS_1


Bisa dipastikan nyawanya belum genap seratus persen.


Tapi, sesekali dia kulihat menukar posisi kepalanya. Semula dia menyandarkan kepala ke kanan, lalu tak lama, mengubah sandaran kepalanya ke arah kiri.


Satu jam kemudian, tiba di pantai yang dituju. Di sana, kami menyewa pondok. Kulihat, Hira masih terlihat lemas geraknya.


Beberapa orang kakaknya, langsung sibuk dengan keluarganya masing-masing. Maklum, kakak-kakak Hira sudah berkeluarga. Tinggal Hira, seorang diri yang belum naik ke pelaminan.


"Makan dulu kita, biar semangat. Nanti kalau selesai makan, main ke pantai," kata ibunya.


Hira, terlihat ambil posisi rebahan. Benar-benar dia mengantuk, sepertinya.


Kudekati dia. Lalu, kubisikkan. "Lemes banget sih Non," kataku. Dia pun berusaha bangkit, dari rebahannya itu.


"Maaf, aku lemes banget. Tadi bangunnya pagi banget. Jam 04.00 wib subuh," katanya masih dengan nada bicara yang lemah.


"Oh ya deh maaf. Kalau begitu rebahan lagi sana," kataku berbisik padanya.


Hira hanya mengerdipkan matanya. Tanda dia tak sanggup lagi menahan ngantuk.


Sedangkan ibu dan saudara-saudara Hira, sedang asik menyantap bekal yang dibawa dari rumah. Anak-anak kecil, langsung main ke pantai. Mereka tak peduli, teriknya mentari yang menyinari pantai.


Tak terasa, waktu menunjukkan pukul 15.00 wib. Rasanya aku nggak ingin pulang, karena memandangi Hira yang sedang rebahan.


Karena nggak ada tanda-tanda bersiap-siap pulang. Jadinya, kucari posisi untuk rebahan sejenak. Aku agak menjauh dari keluarga Hira. Pikirku, kalau bawa mobil dalam kondisi ngantuk, pasti bahaya.


***


"Sayang, kalau mau rebahan, di rumah," kata Hira padaku.


Tapi, aku tetap ngotot rebahan di dekat pondok yang disewa keluarga Hira.


"Ayo, dong. Jangan rebahan di pantai. Kita rebahan di rumah aja," kata Hira lagi.


Tapi, tiba-tiba aku terbangun. Ternyata tadi aku bermimpi. Hira mengajak rebahan di rumah? Hahahahahaha! Mimpinya indah banget, tapi konyol.


Kan dia belum jadi istriku.


Lumayan, tadi, bisa sedikit fresh otakku setelah rebahan sebentar. Karena kalau nggak kurefres dengan rebahan sebentar, kepalaku rasanya berat. Seperti bawa batu kali. Berat banget.


Hira, kulihat masih rebahan di pondok- pondok yang disewa tadi. Dia benar-benar cantik. Anggun. Tapi, tengil. Hahahahaha!


Kulihat, ibu dan kakak-kakak Hira, terlihat berkemas. Mereka pasti bersiap pulang. Aku pun mendekati mereka.

__ADS_1


Tapi, malahan, aku diminta makan dulu. Sebab, mereka tahu aku belum kelihatan makan. Jadinya batal berkemas.


"Eh kemana saja tadi, Nak Budiman. Kan tadi belum maem. Ini maem dulu, kan lapar. Mana bawa mobil. Nanti kan nggak lucu kalau sopirnya ngantuk." celetuk ibunya.


Aku pun nggak menolak saat ibunya memintaku makan nasi bekal yang dibawa dari rumah tadi.


Tanpa malu aku makan sendiri. Kata ibunya Hira, semua sudah makan.


"Lauknya habisin ya Nak Budiman, biar Hira senang. Soalnya dia masak dari subuh tadi," ungkap ibunya bercerita padaku.


Hira, tiba-tiba tegak. Lalu ikutan makan.


"Wuih tuan putri bangun tidur, lapar," kataku berbisik padanya.


Kali ini, kulihat matanya yang sedari tadi pinginnya merem, sudah terang benderang. Tak lemes lagi.


"Iya nih, Mas. Ngantuk berat tadi. Sekarang udah sadar. Udah nggak ngantuk lagi sekarang," jelas Hira padaku.


"Coba, tiap hari ke pantai kayak gini. Enak pasti, maem gratis masakan ibu mertua," selorohku dengan nada guyon, lalu membekap mulut aku sendiri.


"Ups?! Keceplosan." kataku mengklarifikasi kalimatku tadi.


"Boleh," sahut Hira. "Tapi, ada syaratnya." imbuhnya lagi.


"Apa emang syaratnya. Pakai syarat segala kayak mau kredit barang aja," kataku.


Spontan, dia tertawa lepas. Aku suka gaya Hira tertawa. Mungkin, itu yang buat aku jadi kesengsem sama dia.


"Syaratnya, harus.....," kata dia tapi tak dilanjutkannya kalimat itu.


"Harus apa nih?" tanyaku penasaran.


"Harus.....apa ya," celetuk Hira hingga buat aku penasaran.


"Sudahlah nanti saja syaratnya aku kasih tahu lewat chat ya." janji Hira.


"Hmm. Buat orang penasaran aja sih," sahutku.


"Gampang syaratnya. Nanti dah aku infokan di grup," katanya.


"Infokan di grup? Grup mana nih. Mulai nakal ya dia!" kataku menggodanya.


"Hahahaha. Ya nanti aku buat grup ya. Anggotanya kita berdua aja. Hahahahah!" katanya lagi.

__ADS_1


"Dasar cewek tengil, emang ya. Ya kayak gitu deh. Suka buat penasaran orang," gumamku.(bersambung)


__ADS_2