Maaf, Kita Tak Sejalan Lagi

Maaf, Kita Tak Sejalan Lagi
Ngidam Aneh


__ADS_3

Satu pertanyaan yang tak pernah bisa kudapatkan jawabannya yang tepat. Kenapa orang hamil, selalu ngidam yang aneh-aneh.


Konon, katanya, yang ngidam itu, bukan ibunya. Tapi, sebenarnya yang ngidam itu, jabang bayi dalam perut si ibunya.


"Mas, nanti kalau anak kita lahir, aku pengen jalan ke Bali ya, " kata Hira.


Aku yang siang itu menikmati makan soto, langsung keselek. Hug Hug!


''Ih kenapa. Biasa aja dong Mas,'' celetuk Hira spontan.


''Iya kamu aneh-aneh sih. Jadi keselek aku denger kamu mau ke Bali setelah lahiran,'' kataku protes.


Dalam hati, aku nggak bakal ngasih uang saku, kalau dia mau ke Bali. Biar aja dia pergi pakai uang dia sendiri, kalau punya. Jaman lagi susah, dia malah mau pelesiran ke Bali. Nggak mikir apa, susah nyari duit, di zaman pandemi ini. Mana gaji honorer dikurangi. Kalau PNS, masih lumayan, ada tunjangan ini, dan itu. Nah aku, cuma honorer. Gajian tepat waktu aja, syukur. Kadang suka telat gajian.


''Beliin tiket pesawat waktu berangkatnya aja ya. Nanti pulangnya beli tiket sendiri,'' katanya, berusaha melobi aku.


''Hm....insya Allah kalau ada rejeki. Kalau nggak ada rejeki, ya beli sendiri aja ya,'' kataku pasrah.


''Pokoknya beliin tiket aku waktu berangkatnya ya.'' kata Hira, ngotot. Dia mengulang permintaannya.


''Iya....iya....diusahain. Kalau nggak bisa ya nanti aku hutang ke orang.'' kataku. Tapi, pernyataanku itu sama sekali bukan yang ingin aku katakan ke Hira.


''Doain nanti ada rejeki lebih. Jadi, bisa beliin tiket berangkat ke Balinya,'' kataku berjanji ke HIra.


Tak kusangka dia menghambur ke aku dan satu kecupan mendarat di pipi kananku.


Pura-pura kuhapus bekas kecupan Hira. Langsung dia protes, dan mendaratkan satu kecupan lagi di pipi kananku.


''Ih coba tiap hari kayak gini. Bisa semangat kerja nih,'' kataku menggodanya.


''Hahahahahah,'' Hira tertawa lepas.


***


Tak ada hari selain mengutarakan keinginannya pergi ke Bali. Jadinya, aku sekarang yang pusing, harus menyisihkan uangku untuk persiapan beli tiket ke Bali.

__ADS_1


''Mas, aku kok pengen martabak jumboooooooo,'' kata Hira dengan bibirnya dimonyongkan ke depan sampai 1 meter. Hahahahahaha!


''Biasa aja, kalii,'' kataku dengan nada nyinyir.


''Iya nih seriusan aku pengen martabak jumbooooooooooo. Nanti kalau nggak dituruti, anak kita bisa ngiler tiap hari. Kan aku malu, sebagai ibu yang baik,'' katanya lagi, panjang lebar.


Terus terang, sejak Hira hamil ke dua ini, kelakuan dia yang aneh-aneh saja dan bikin aku pusing kepala tujuh keliling. Ke Bali. Itu tempat pelesiran orang-orang kaya.


Tapi, ya sudahlah. Menyenangkan istri sesekali, apa salahnya.


''Mas, beliin aku cincin emas putih bentuk love. Ini, yang pengen anakmu. Bukan aku lho,'' katanya sambil mengelus-elus perutnya yang mulai kelihatan buncit.


''Duh. Ngidam apa lagi sih ini. Nyusahin aja, kalau istri lagi hamil. Beri aku kesabaran ya Allah,'' gumamku.


''Mas. Kok diam aja sih. Beli in aku cincin emas putih yang kecil-kecil aja. Paling nggak, yang muat di jari kelingking aku ya,'' katanya sambil menunjukkan kelingkingnya.


''Beli emas imitasi aja ya,'' bujukku, bernegosiasi dengan Hira.


''Nanti kan mau nabung buat beli tiket ke Bali. Jadi, beli emas imitasi aja ya. Yang penting ada bentuk lovenya, kan sama aja, sayang,'' kataku lagi meyakinkan.


***


Kulihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 10.00 wib. Tumben, si gadis mungil Sora nggak aku dengar suaranya. Apa jangan-jangan dia juga ikutan bangun siang. Pelan-pelan kudekati kamar tidurnya. Kuintip dia dari celah-celah pintu kamarnya yang aku buka pelan-pelan.


Masya Allah, anak gadisku juga belum bangun jam segini. Hmmm....nggak anak, bapak sama ibunya bangun siang, hari ini. Maklum, ini hari minggu.


Kuputuskan untuk mengajak Hira ke toko emas. Kucoba memenuhi apa yang jadi keinginan Hira. Dia ingin dibelikan cincin emas putih berbentuk love. Oalah.....apa semua perempuan hamil itu selalu ngidam yang aneh-aneh seperti Hira, ya?


''Nggak apa. Ikhlas ya Allah...ikhlas, demi anak istri. Semua yang aku punya, memang kuniatkan untuk mereka.


Aku balik ke kamarku. Pelan-pelan kukecup kening Hira. Matanya terbuka dan menggeliat manja di dekat aku.


''Mandi sana,'' kataku lirih di telinganya.


''Nggak,'' elaknya saat aku ingin memegang miliknya yang paling sensitif itu.

__ADS_1


Aku pun mengurungkan hasratku.


''Nggak mau ya udah, nggak apa. Mandi sana, katanya mau beli cincin emas putih bentuk love,'' kataku pelan di telinganya. Tapi, aku masih tak bergeming. Aku masih menunggu kode, siapa tahu dia mengizinkan aku bermain sebentar di miliknya yang sensitif itu. Hahahahahah. Pagi-pagi, bawaannya pengen bermain.


Soalnya, secara nggak langsung, Hira selalu menggodaku dengan baju tidurnya yang sexy itu.


''Udah berapa bulan sih ini, sayang,'' tanyaku sambi menciumi tempat pusarnya.


Dia menggeliat keenakan. Hingga akhirnya dia mengizinkan aku bermain sebentar di zona segitiga itu. Hahahahaha. Pasti, dia mengizinkan aku bermain di sana, lantaran mau dibelikan cincin emasnya. Coba, kalau aku nggak bilang mau dibelikan cincin, pasti aku nggak dikasih bermain di zona segitiga itu. Hmmmmm. Dasar istriku ini memang matre banget sekarang. Ya sejak dia hamil kedua, dia suka minta aneh-aneh dan harganya selangit.


Ya....seperti minta tiket pergi ke Bali. Apa nggak modar, aku mikirin ngumpulin uangnya. Ke Bali, paling nggak harus bawa uang sepuluh juta, untuk akomodasi pulang-pergi.


Hmmmm....kalau dipikir-pikir, bisa puyeng aku. Mendingan mikir lainnya saja, sambil berusaha menabung.


Tak lama, aku bermain paling sebelas menit. Setelah itu, kami sama-sama membersihkan diri dan bersiap menuju ke toko emas.


''Beneran ini aku mau dibelikan cincin emas putih berbentuk love,'' tanya Hira ragu.


''Iya, sayang. Tapi yang imitasi aja ya,'' bujukku.


''Eh apa pula. Nggak mau. Aku nggak mau yang palsu. Aku mau yang asli. Kalau mau beli yang emas palsu. Mendingan nggak usah beli aja,'' celetuknya tanpa jeda.


''Hahahahahah!'' spontan aku melepas tawa paling lebar pagi itu.


''Ih gitu aja udah marah. Aku belikan cincin emas putih asli, sayang. Seasli cintaku sama kamu. Makanya aku nggak jadi beli yang palsu,'' kataku lebai.


''Ih baru tahu, ternyata suamiku ini pandai menggombal ya. Selama ini punya bakat terpendam toh!' katanya dengan manja.


''Eh tapi nanti beli cincinnya yang kecil kan.....? Untuk kelingking kan?'' tanyaku minta kepastian.


''Keliatan banget sih, Mas. Kamu ngasihnya nggak ikhlas,'' katanya dengan nada emosi.


''Bukan begitu sayang. Kan nanti mau nabung juga, buat beli tiket ke Balinya. Jadi, kita beli cincinnya yang kecil aja ya sayang,'' kataku lagi.


''Terserah. Belilah sesuai keinginanmu!'' katanya masih emosi.

__ADS_1


''Ya Allah, beri kesabaran aku,'' gumamku.(bersambung)


__ADS_2