MAFIA SI CASANOVA

MAFIA SI CASANOVA
Kemarahan Kirana


__ADS_3

Sekhu kembali ke kamar Kirana dan melihat kamar itu kosong.


" Apa dia tidak kembali, apa mau nya wanita itu?". Sekhu memijit pelipisnya.


Naima sudah bangun sejak tadi dan kini sedang asik berbincang dengan Maryam di bawa pohon pinus depan rumah nya, mereka benar benar sudah seperti adik dan kakak yang sesungguhnya.


" Masak sih, terus gimana?" Gumam Naima tertawa.


" Ya gituu deh, pokoknya aku tuh suka sama dia tapi dia nya takut sama kak Sekhu dan papa."


" Semangat dong, dulu aku juga mencintai seorang laki-laki tapi sayang.." Naima mengingat kembali Adam yang entah bagaimana keadaannya sekarang.


" Kenapa kak?" Maryam menatap Naima yang sedih.


" Mungkin dia sudah tiada, sudah lah." Naima tersenyum menatap Maryam.


" Maafin kak Sekhu ya kak, walaupun dia terlihat begitu jahat tapi dia orang yang baik kok."


Naima tersenyum mendegar ucapan Maryam tentang Sekhu.


" Seandainya dia orang baik, mungkin dia tidak akan pernah melenyapkan seseorang Maryam." Batin Naima.


" Nanti sore kita ke mall yuk, nanti aku yang minta izin sama kak Sekhu."


" Boleh, sudah 2 bukan lebih aku tidak keluar dari rumah ini." Naima antusias dengan ucapan Maryam.


" Ok siap, aku mandi dulu yak sekalian nanti mau kekampus sebentar setelah itu kita ngemall."


" Ok siap, aku juga mau masuk nanti kakak mu itu mau makan."


Mereka tertawa kemudian saling pergi ke tempat masing-masing, sedangkan Sekhu sudah siap dengan pakaian kantor nya dan duduk di meja makan menunggu Naima.


" Kamu sudah di sini, kenapa tidak memanggil ku?" Naima nampak gugup mendapatkan tatapan tajam dari Sekhu.


" Ambil akan nasi goreng, aku lapar." Ucap Sekhu datar.


Naima langsung dengan sigap mengambil kan nasi goreng yang di inginkan oleh Sekhu tak lupa menuangkan minum untuk nya.


" Duduk lah, temani aku makan."


Naima duduk dikursi dimana Kirana selalu mendampingi Sekhu saat makan dengan ragu.

__ADS_1


" Kau.." Pekik Kirana marah saat Naima duduk di kursi nya.


Sekhu yang hendak menyendok nasi kemulut nya menjadi kesal dengan teriakan Kirana yang begitu keras.


" Apa yang kau lakukan disana, menyingkirkan.." Kirana mendorong keras tubuh Naima hingga terjatuh.


" Aw..." Pekik Naima.


" Kau ingin merebut semua milik ku dasar ****** sialan.." Kira hendak menampar Naima namun di tahan oleh Sekhu.


" Kau.." Kirana menatap Sekhu dengan marah karena menghentikan tangannya yang hendak menampar Naima.


" Apa yang kau lakukan, sudah cukup Kirana." Bentak Sekhu marah menghempaskan tangan Kirana dengan begitu keras.


" Aw..Sekhu, kamu membentak ku karena dia?" Kirana mulai berekting menangis.


" Ingat Naima, urusan kita belum selesai." Kirana meninggalkan mereka yang diam.


Sekhu menghembus nafas dengan kasar kemudian beralih menatap Naima yang menunduk menahan sakit di pinggul nya.


Sekhu membantu Naima berdiri dan menatap mata berair wanita itu.


" Aku memberi kebebasan untuk membalas apa yang di lakukan oleh Kirana, jika nanti dia berbuat kasar padamu saat aku tidak ada." Gumam Sekhu.


" Aku pergi, jaga dirimu." Ucap Sekhu meninggalkan Naima.


" Mama...kenapa mama membuat hidup ku menderita, kenapa mama begitu jahat melakukan semua ini pada ku. Lihat hidup ku begitu menderita ma.." Gumam Naima menangis.


Maryam yang baru turun terkejut melihat Naima yang menangis di meja makan dengan sigap menghampiri nya.


" Kak Naima, kenapa?" Ucap Maryam panik.


" Gak papa kok." Naima langsung menghapus air matanya dengan cepat.


" Bohong, kakak nangis kan. Kenapa apa kak Sekhu berlaku kasar padamu?"


Naima menggeleng.


" Atau nenek sihir itu yang membuat kakak nangis?"


Naima diam kemudian tersenyum pada Maryam.

__ADS_1


" Sudah dana pergi, ini udah jam 08.30 loh nanti kamu telat. Inget nanti mau ngemall kan?"


" Ah iya..ya sudah aku pergi dulu, inget jika ada apa apa kakak hubungi aku langsung ok."


Naima tersenyum mengikuti langkah Maryam yang keluar dan masuk kedalam mobil yang sudah menunggu nya itu.


" Dah..." Maryam melambaikan tangannya menatap Naima.


Naima hanya tersenyum.


" Aw..." Pekik Naima keras saat sebuah tangan dengan keras menarik rambut nya.


" Dasar wanita sialan." Pekik Kirana tidak suka saat Naima bisa merebut hati adik ipar nya itu.


" Sakit nyonya Kirana, lepaskan rambut ku." Pekik Naima memohon pada Kirana yang tersenyum sinis.


Kirana mendorong tubuh Naima membentur meja makan dengan keras kemudian beberapa kali menampar wanita itu dengan keras.


" Kau pantas mendapat semua itu." Ucap Kirana.


" Sakit.." Pekik Naima.


" Nyonya, hentikan nyonya.." Seorang pelayan datang memohon pada Kirana.


" Diam kamu Dewi, minggir aku akan membuat perhitungan pada wanita ini".


" Jangan nyonya, kasian nona Naima."


Kirana menatap tajam mata gadis bernama Dewi itu kemudian menampar nya dengan keras.


Plak


Dewi diam menahan panas dan sakit di pipi kanan nya akibat tamparan Kirana, beberapa pelayan hanya diam menatap Kirana takut.


" Nyonya Kirana, jangan lakukan itu pada Dewi. Dia tidak bermaksud membantah mu." Gumam Naima menatap Kirana.


" Diam kamu."


Kirana pergi meninggalkan mereka semua yang menatapnya dengan takut.


" Harusnya kamu gak bantu aku, maaf karena aku kamu di tampar oleh Kirana."

__ADS_1


" Gak papa non, saya hanya pembantu disini jangan khawatir kan saya nona."


Naima menatap Dewi yang pergi meninggalkan nya dengan perasaan yang bersalah.


__ADS_2