
Sekhu kini sedang sibuk dengan tumpukan berkas yang harus dia periksa dan tanda tangani saat itu, wajah memarnya juga belum terlihat menghilang namun tidak membuat ketampanan nya berkurang.
CLEK
Pintu ruangan Sekhu terbuka dan nampak dia sahabat nya Eldho dan Indra masuk dengan cengegesan menarap bos sekaligus sahabat baik mereka itu.
" Napa loo?" Ucap Indra duduk di atas meja Sekhu sembari mematikan rokok yang di bawa.
" Ada urusan kalian datang ke sini, gue lagi pusing." Ucap Sekhu datar.
" Makanya punya bini satu aja bang, biar kagak pusing pusing amat dah..ha ha ha..untung lo kaya kalau kagak dah kek mane lagi.." Celetuk Indra dengan wajahnya yang nampak babak belur itu.
Sekhu hanya menghela nafas sesaat kemudian langsung menutup laptop nya dengan kesal mendegar ocehan dari kedua sahabat nya itu.
" Bos, gue lihat Kirana lagi di cafe bareng doinya." Indra mendekati Sekhu.
" Urus laki-laki gila itu, gue pengen ke ketemu Naima dulu." Sekhu berdiri dan meninggal kan dua sahabat baiknya itu yang tersenyum sinis.
" Bisa di atur bos, berangkat." Eldho langsung tersenyum dan bergegas pergi bersama dengan Indra melaksanakan tugas dari Sekhu.
Sepanjang koridor kantor tak henti mereka tertawa mengejek Sekhu yang terlalu bodoh masih saja menerima wanita murah seperti Kirana itu.
Eldho dan Indra sudah berada di dalam mobil mereka sendiri dan melaju menuju cafe di mana Kirana dan Leo berada, sedangkan Sekhu sudah meninggalkan kantor beberapa menit lalu menuju rumah Naima.
" Apa aku benar-benar sudah jatuh cinta pada wanita itu, bagaimana bisa secara itu sedangkan aku begitu mencintai Kirana." Gumam Sekhu.
Sekhu menggeleng dengan keras saat mengingat perbuatan Kirana padanya selama ini, bagaimana dirinya terus memaafkan wanita itu yang sering berselingkuh dan mengecewakan dirinya terus.
Tapi Sekhu masih memiliki cinta untuk nya dan maaf yang besar selalu ada untuk setiap perbuatan Kirana yang keterlaluan padanya, namun dia juga diam diam memiliki perasaan terhadap Naima.
Hubungan mereka kini sudah berjalan selama 6 bulan meski Naima sendiri masih belum menyadari perasaan nya padanya Sekhu.
" Ah...kepala terasa pusing jika terus memikirkan semua ini, entah siap yang benar-benar cocok bersanding dengan ku." Pekik Sekhu kesal.
***
__ADS_1
" Ahk..." Pekik Maryam dengan keras membuat Naima berlari menuju kamar mandi dengan panik.
" Maryam...Maryam ada apa buka pintu nya, Maryam.." Naima mengedor pintu kamar mandi dengan keras.
Clek
Maryam membuka pintu lalu berlari keluar membuat Naima bingung.
" Kenapa ?" Ucap Naima panik.
" Itu ada kecowa di sana, ihhh jijik banget kak..." Ucap Maryam sembari begidik ngeri.
Naima tertawa melihat tingkah adik ipar nya itu yang begitu lucu, tentu saja Maryam akan jijik dan takut saat melihat binatang terbang itu karena di rumah megah nya tentu saja tidak ada kecowa.
" Itu cuma kecowa Maryam, aku kira ada ular.." Naima menatap Maryam yang kini cemberut mendengar ucapan Naima.
" Ih kak Naima mah, dirumah loh gak ada bintang kaya gitu.."
" Tentu saja, kecowa juga kepeleset Maryam jika berani masuk rumah kamu."
" Udah ah, aku mau nonton TV aja." Sunggut nya.
Tak lama deru mobil Sekhu berhenti di depan rumah Naima membuat Maryam terusik dari duduk santai nya.
" Kayaknya kak Sekhu deh, ngapain ke sini?" Gumam Maryam berdiri dan membuka tirai jendela.
" Tuhkan, kak Sekhu dateng..aku mah dah tahu kalau kak Sekhu pasti sudah jatuh cinta sama kak Maryam, Pura-pura bahagia aja terus sama nenek sihir itu." Gumam Maryam.
Sekhu turun dari mobil dengan kemeja putih yang kini sudah tergulung sebatas siku nya itu membuat nya terlihat menarik, rambut nya juga nampak berantakan.
Sekhu membuka pintu rumah Naima dan terkejut saat melihat adik kesayangan nya ada dirumah kecil Naima.
" Maryam, untuk apa kamu ke sini?" Ucap Sekhu terkejut.
" Aku ikut kak Naima lah. " Dengan santai gadis itu langsung duduk kembali di soffa tanpa menatap kakaknya yang heran.
__ADS_1
" Bagaimana mungkin, seorang Maryam Ibrahim bisa masuk kedalam rumah yang tidak selevel dengan nya hemz?"
" Karena kak Naima tentu nya, karena apa lagi."
Sekhu mendekati Maryam dan duduk disamping nya.
" Naima yang mengajakmu ke sini, berani sekali dia mengajak tuan putri Ibrahim.."
Maryam memutar matanya jengah mendengar ucapan Sekhu yang seolah olah mengejek nya itu.
Sekhu bersandar di soffa dan memejam nya.
" Kak Sekhu ngapain ke sini, bukannya sekarang harusnya kakak dikantor?" Maryam berbalik dan menatap kakaknya itu.
" Bukan urusan mu Maryam, lagipula perusahaan tidak akan bangkrut jika aku tidak bekerja sehari." Gumam Sekhu yang masih memejam kan matanya.
Naima yang selesai menjemur pakaian langsung kembali masuk kedalam untuk menemani Maryam yang sedang sendiri.
" Maryam.." Seru Naima terhenti saat melihat keberadaan Sekhu dirumah nya.
Maryam berbalik dan menatap Naima yang terdiam saat melihat kakaknya berada disamping nya saat ini, sedangkan Sekhu tetap santai memejamkan matanya.
" Kak Sekhu baru saja datang, sini kak.." Ucap Maryam membuat Naima kembali tersadar.
" Ah..iya, aku akan membuat minuman dulu." Naima meninggalkan mereka yang diam.
Sekhu membuka matanya kemudian berdiri meninggalkan Maryam yang menatapnya bingung, Sekhu menuju dapur dan langsung memeluk Naima dari belakang membuka wanita itu terkejut.
" Sekhu, lepaskan ada Maryam." Ucap Naima tegang.
" Biarkan saja, roh dia bukan anak kecil lagi." Gumam Sekhu mencium leher Naima.
" Sekhu.." Naima mendorong tubuh Sekhu menjauh dari tubuh nya.
" Kau ini kenapa, Naima.." Sekhu telihat marah saat Naima mendorong tubuh nya dengan keras.
__ADS_1
" Aku sedang membuat minum, tunggu lah saja di depan sana." Naima berbalik menatap secangkir kopi yang baru dia buat.
Jantung nya berdegup kencang melihat tatapan tajam mata Sekhu yang siap menerkam nya kapan saja, dia begitu menyesal telah mendorong tubuh Sekhu dan membuat nya marah.