
Kini Naima dan keluarga Maryam sedang sarapan pagi bersama sebelum Maria dan Renaldi pergi ke kantor.
" Kamu ini lucu sekali, Naima.." Ucap Maria menatap Naima yang malu.
" Terima kasih ma, Naima bahagia bisa merasakan kehangatan keluarga lagi kayak dulu."
" Kamu tidak perlu sungkan dengan papa atau mama, kami menerima kehadiran mu dengan senang hati nak.." Renaldi begitu menyukai Naima yang dia anggap sebagai penyelamat untuk Sekhu lepas dari menantu pertama nya.
" Terima kasih banyak papa dan mama, sudah menerima Naima dengan baik padahal kan aku hanya wanita kedua diantara kehidupan anak kalian dan istri nya."
" Kata siapa begitu sayang, mama malah mendukung jika sampai nantinya kamu bisa memiliki keturunan bersama dengan Sekhu dan bisa membuat Sekhu menceraikan Kirana."
Naima nampak begitu bingung dengan ucapan Maria, namun dirinya memilih untuk diam dan menghabiskan sarapan nya kemudian begegas kembali ke rumah nya sendiri.
" Maryam hari ini mau ikut kak Naima yah ma, mau lihat rumah kak Naima.." Ucap Maryam setelah sarapan selesai.
" Kamu nyakin Maryam, memang gak ada tugas kuliah hari ini?"
" Gak ada kok maa, lagi pula mama kan mau ikut papa ke kantor aku bosen.."
" Ya sudah sana ikut lah, itung itung kamu melihat bagian sempit dan susahnya kehidupan di luar naungan papa."
Maryam cemberut mendegar ucapan Renaldi yang seolah-olah menyindir anak gadis nya yang begitu alergi dengan kemiskinan, Naima menahan tawanya melihat ekpresi Maryam yang kesal.
" Sudah sudah, ayo pah nanti telat loh kitanya.." Maria menarik tangan suaminya untuk segera pergi.
" Iya ma, papa sama mama pergi dulu kalian nanti bawak supir dan bodyguard juga yah jangan pulang telalu malam." Pesan Renaldi sebelum meninggal kedua anak perempuan nya itu.
" Kenapa, mau ngetawain aku?" Sunggut Maryam kesal meninggal kan Naima yang masih ingin tertawa itu.
__ADS_1
" Hey adik ipar, jangan marah begitu dong.." Naima menyusul Maryam yang masuk kedalam kamarnya.
Naima mengikuti Maryam yang kini sedang mengikat rambut nya tinggi hingga nampak leher jenjang mulus milik nya itu.
" Benar mau ikut aku pulang? " Gumam Naima.
" Iya dong, aku gak semanja yang dikatakan papa kok.." Maryam sudah siapa dengan tas selempang nya dan menatap Naima.
" Baju kamu bagimana?" Naima kini sedang memakai baju mahal milik Maryam membuat nya merasa tak enak jika harus kembali membawa nya.
" Udah ah, baju aku dah kayak toko gitu kok ayo berangkat sekarang.." Maryam menarik tangan Naima menuruni tangga dengan riang.
Maryam memanggil seorang supir dan juga bodyguard sesuai dengan printah Renaldi, gadis itu tidak pernah memberontak atau pun menolak setiap ucapan yang di bicara oleh Renaldi.
Kini mobil sedan berwarna putih itu membawa mereka menuju perumahan komplek indah di mana Naima sekarang tinggal, dalam perjalanan tak henti Maryam bertanya tentang masa lalu Naima.
" Emmz, kak Naima boleh aku bertanya?" Ucap Maryam setelah mereka bercerita pajang lebar.
" Soal apa?"
" Maaf yah Kak jangan tersinggung, aku melihat ada tato di pundak bawah kakak.." Ucap Maryam dengan hati hati.
Naima nampak terkejut mendengar ucapan Maryam yang mengetahui tentang tato yang dia buat bersama dengan Adam dulu, tato kesetiaan mereka dulu.
" Itu.. Sebuah kenangan dari masa lalu ku, sudah lah tidak begitu penting kok.." Naima mengalir pembicaraan agar Maryam berhenti bertanya.
" Tapi kak.."
" Kita dah sampai.." Potong Naima saat mobil itu berbelok masuk kedalam komplek rumah sederhana milik nya.
__ADS_1
Maryam menatap tajam perumahan yang begitu sederhana dan berbeda dengan kehidupan mewah nya.
" Heeee, ngelamun udah sampai ayo masuk.
" Naima menegur Maryam yang nampak melongo itu.
" Ah..haa rumah ini, kakak bisa hidup disini?" Maryam nampak sedikit geli melangkah keluar dari dalam mobil.
" Sekarang aku masih hidup loh, kakakmu saja bisa tidur dengan nyenyak koo disini."
" Ok, aku turun.".
Akhirnya Naima membawa Maryam masuk kedalam sederhana pemberian Sekhu untuk dirinya, meski Maryam merasa tak nyaman tapi gadis itu tetap dengan sopan dan hati hati mengikuti langkah Naima berkeliling rumah nya.
" Kak Sekhu benar-benar jahat, membiarkan kak Naima disini?" Gumam Maryam.
" Gak papa, aku nyaman malahan. Lagi pula aku terbiasa dengan keserhanan Maryam."
Maryam duduk di sofa yang telah dibeli Sekhu yang lebih baik matanya menatap ke sekeliling rumah yang begitu sempit dan tidak nyaman.
" Sebaiknya kakak ikut bersama dengan ku saja tinggal dirumah mama, lagian mereka gak keberatan kok."
Naima baru saja datang dengan dua botol air dingin untuk dirinya dan juga Maryam, jam sudah menujukan pukul 10 pagi matahari juga bersinar cerah di luar sana.
" Udah gak papa, nih minum dulu. Kamu tuh hidup terlalu mewah Maryam jadinya gak bisa merasakan nikmat nya tinggal ditempat seperti ini."
" Kakak hebat, jika aku seperti mu mungkin papa akan menyewa lebih banyak bodyguard untuk menjaga ku sekarang ini."
Naima hanya tertawa mendengar ucapan Maryam yang sedikit menghibur dirinya yang sedikit merindukan Sekhu, sejak semalam Sekhu tidak menghubungi dirinya dan juga tidak berbicara.
__ADS_1