
Hari ini orang tua Sekhu datang mengunjungi Naiam bersama dengan Maryam dan juga Adam.
" Selamat pagi sayang.." Ucap Maria melihat Naiam yang sedang di periksa dokter.
" Mama, papa kok kalian disini?" Ucap Naiam terkejut.
" Aku dan Adam juga di sini tahu kak, kenapa bertanya seperti itu kak Naiam gak suka kami kesini?" Ucap Maryam mendekati Naiam.
Mata Naima bertemu dengan mata teduh milik Adam yang selalu membuat nya merasa nyaman, Adam yang menyadari tatapan Naiam kemudian berjalan ke arah dan tersenyum.
" Selamat atas kehamilan anda, calon kakak ipar ku." Ucap Adam menyentuh tangan Naima.
Naima diam sekilas tatapan dan sentuhan Adam membuat nya melupakan semua orang yang menatap bingung.
" Siapa sebenarnya laki laki bernama Adam ini, kenapa aku merasa jika aku mengenal nya dengan baik." Batin Naiam.
Maryam menyentuh tangan Naima membuat nya tersadar dengan situasinya sekarang.
" Eh..maaf, kakak suka kok dengan kehadiran kalian disini hanya saja aku merasa merrepotkan kalian semua." Ucap Naima.
" Tidak akan ada yang merepotkan sayang, kami keluarga mu juga kan.." Maria mencium kening Naima dengan lembut.
" Papa dan mama berterima kasih kepada kamu Naiam, karena kamu Sekhu bisa sadar jika Kirana bukan lah wanita baik baik dan Sekhu akan mengurus perceraian mereka segera."
Naima begitu terkejut mendengar ucapan Maria yang mengatakan Sekhu siap menceraikan Kirana demi apa pun Naima merasa tidak percaya, pantas saja Sekhu meminta nya untuk tetap menjaga istri nya.
" Kamu jangan banyak pikiran Naima sayang, kata dokter semua sudah baik dan hari ini kamu bisa langsung pulang ke rumah." Seru Renaldi.
" Aku akan kembali ke rumah ku pa, aku merasa lebih baik kok.." Naima menatap semua keluarga baru nya.
" Tidak, papa sudah meminta bodyguard Sekhu untuk membawa semua barang barang mu pindah ke rumah baru yang sudah Sekhu belikan. Karena Sekhu tidak ingin anak dan istri nya tinggal di sana." Ucap Renaldi.
" Tapi pah.."
__ADS_1
" Papa dan mama tidak meminta mu untuk menolak semua nya, paham Naima." Gumam Maria dengan tegas.
" Terima kasih semua nya.." Naima tersenyum manis.
Adam menatap kebahagiaan yang terpancar di mata indah Naiam membuat nya mereka jika mereka semua menyayangi Naiam dengan sepenuh hati.
" Emzz jadi hubungan kalian bagaimana, seperti nya semakin deket saja?" Ucap Naiam menatap Maryam dan Adam bergantian.
" Hubungan kami semakin baik kok kak, tinggal nunggu aku selesai kuliah dan Adam naik jabatan di perusahaan di tempat nya kerja kami mungkin bisa membicarakan pernikahan." Ucap Maryam dengan semangat.
" Tidak perlu teeburu buru karena hubungan seperti ini harus saling mengenal terlebih dahulu, Maryam juga belum bertemu dengan ayahku.." Timpal Adam.
" Cepat pertemukan dia, agar hubungan kalian lebih dekat dan aku siap mendampingi kalian dipelaminan nanti.."
Mereka semua tertawa bahagia.
" Kau akan yang menjadi pengantin nya nanti Naima, bukan Maryam." Batin Adam menatap lekat mata Naima yang bahagia.
Mata mereka kembali bertemu membuat Naima begitu penasaran dengan laki-laki di depan nya itu.
" Papa dan mama harus pergi ke kantor dulu, biar Maryam dan Adam yang menunggumu di sini karena dokter bilang kamu baru bisa pulang jam 13.00 siang nanti." Ucap Renaldi.
" Iya, Terima kasih papa dan mama sudah begitu perhatian dengan ku."
" Sama sama, jaga dirimu." Maria melambaikan tangannya kemudian mengikuti langkah Renaldi meninggalkan Naima bersama dengan Adam dan Maryam.
" Kak Naima mau makan sesuatu?" Ucap Maryam.
" Bisa belikan kakak jus alpukat di depan rumah sakit Maryam, kalau kamu mau saja dan tidak merepot kan.." Ucap Naima memberi alasan agar Maryam meninggalkan nya bersama dengan Adam yang kini sedang duduk disoffa bermain ponsel nya.
" Tentu saja, apa pun permintaan keponakan ku akan aku berikan..." Maryam lamgsung begegas meninggalkan Naima.
" Terima kasih, Aunty.." Ucap Naima.
__ADS_1
"Kak Adam, jaga kakakku dulu aku akan segera kembali.." Ucap Maryam membuat Adam tersenyum.
10 menit berlalu ruangan itu nampak sunyi tiada suara sedang kan Naima merasa ragu ingin berbicara dengan Adam.
" Apa kau harus berbicara dengan nya, kenapa lidahku begitu kelu.." Batin Naima menatap Adam yang kini sedang bebicara dengan seseorang di balik ponsel nya.
Setelah selesai berbicara Adam menatap Naima yang sedari tadi memperhatikan nya.
" Kamu butuh sesuatu?" Gumam Adam lembut.
Naima mengegelengkan kepalanya.
" Adam..." Seru Naima.
" Hemz?" Adam berdehem sembari menatap Naima.
" Siapa kamu?" Ucapan Naima membuat Adam langsung terkejut.
" Aku, aku Adam..." Adam nampak berusaha menutupi keterkejutan nya saat Naima bertanya siapa dirinya.
" Bohong, aku begitu mengenal tatapan teduh dan sentuhan mu.." Naima duduk dadi tidur nya menatap Adam lekat.
" Maksudnya apa yah Naima, aku kurang paham?"
" Adam....kamu Adam ku kan?" Ucap Naima meneteskan air matanya.
Adam menatap Naima lekat ingin sekali dia memeluk wanita rapuh itu namun rencana nya tinggal sedikit lagi berhasil, jika Naima mengenali nya lebih cepat itu akan membuat rencana gagal.
" Maaf Naima, aku kurang paham dengan yang kamu bicara kan. Aku Adam kekasih Maryam calon adik ipar mu."
" Tidak, aku tidak percaya sama sekali yang aku tahu kamu Adam Martin kekasih ku kan?" Naima berbicara dengan deraian air matanya.
" Saat di taman aku sudah merasa jika aku begitu mengenalmu, tapi hanya wajahmu yang berbeda..."
__ADS_1
Adam berlalu meninggalkan Naima sendiri yang sedang menangis di dalam kamar rawat inap nya, entah kenapa Naima begitu nyakin jika itu adalah Adam kekasih nya.
" Maafkan Naima..." Ucap Adam menghapus air matanya yang turun begitu saja kemudian meninggalkan ruangan Naima.