
2 minggu kemudian
Kini Naima sudah tinggal di rumah Sekhu yang baru yang letaknya tidak jauh dari rumah utama keluarga Ibrahim.
" Sudah 2 minggu aku disini, apa aku harus bisa melupakan Adam dan membuka lembaran baru bersama dengan Sekhu?" Gumam Naima yang kini sedang duduk di depan terasnya menunggu senja.
Sekhu hanya akan mengunjungi Naima saat malam hari selebihnya Naima akan berada dirumah bersama dengan 3 orang pelayan yang di bawa Sekhu dari rumah lamanya.
Dini bersama dengan 2 temen nya yang lain sedang kan dirinya selama 2 minggu ini menyibukkan diri bersama dengan pekerjaan nya itu, beberapa hari yang lalu Sekhu juga sudah berada di pengadilan dan resmi bercerai dengan Kirana.
Meski sedikit dramatis namun pada akhirnya Kirana mengalah dan memilih menerima perceraian yang di ajukan Sekhu padanya.
Kini kehamilan Naima sudah menginjak usia 6 minggu dan perut nya sudah terlihat sedikit membuncit, matahari sore menerapa wajahnya yang terlihat bersinar.
" Hemz, mungkin ini sudah saatnya aku melupakan semua tentang Adam mengingat dia sudah terikat dengan Sekhu dalam sebuah pernikahan.
" Nona Naima masih di luar, mari masuk tuan menghubungi saya katanya hari ini beliau akan datang ke rumah." Ucap Dini lembut.
" Baiklah, aku akan masuk hari juga semakin menjelang sore." Ucap Naima berdiri menatap Dini yang tertunduk.
" Jika sedang berdua dengan ku, tatap mataku Dini agar aku merasa lebih nyaman." Ucap Naima sebelum meninggalkan Dini.
" Baik nona." Gumam gadis itu dengan sedikit ragu.
Jam sudah menujukan pukul 18.30 Naima memilih duduk diam dikamar nya sembari menonton televisi di kamar nya, sedangkan Sekhu yang baru datang langsung menuju kamar di mana Naima berada.
Clek
Naima yang masih fokus menatap televisi kemudian teralih menatap pintu kamar yang terbuka dan nampak muka kusut dan berantakan Sekhu.
__ADS_1
" Sekhu..." Ucap Naima menatap pria berusia 37 tahun itu.
Sekhu langsung masuk kedalam kamar kemudian melepaskan kemeja putih yang sudah begitu berantakan itu melemparkan nya sembarangan, Naima menatap apa yang di lakukan Sekhu dengan heran.
" Kenapa lagi dengan nya, kenapa begitu kusut?" Batin Naima.
Tubuh indah dan kekar Sekhu membuat Naima terpanah entah kenapa dia tidak merasa malu melihat Sekhu yang bertelanjang dada itu, rasanya ada sesuatu yang membuat nya begitu ingin menyentuh perut sixpack nya itu.
Sekhu melihat Naima yang terdiam kemudian mendekati nya dan memeluk tubuh mungil Naima yang begitu dirinya rindukan.
" Aku begitu merindukan mu, Naima..." Gumam Sekhu lirih.
Naima menikmati pelukan hangat Sekhu dan menikmati aroma tubuh yang begitu menenangkan nya itu, Naima memeluk pinggang Sekhu dengan nyaman.
" Apa ini bawaan bayi, kenapa aku begitu merindukan aroma tubuh Sekhu sekarang?" Batin Naima merasa heran dengan dirinya sendiri.
Naima nampak kecewa saat Sekhu melepaskan pelukan nya dan duduk di depan Naima.
" Tidak, bayi ini begitu tahu jika aku terlalu sering sakit makanya dia tidak membuat ibunya menderita." Ucap Naima nampak menatap Sekhu.
" Maaf, mungkin akhir akhir ini aku begitu egois tidak memedulikan dirimu. Aku hanya sedang merasa jika aku sudah jatuh hati padamu Naima, sedangkan dirimu masih mengharapkan pria lain..." Ucap Sekhu di sambung dengan tawa nya.
Naima nampak terkejut dengan ucapan Sekhu yang langsung meninggalkan menuju balkon kamar dan mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
Sekhu langsung mematikan korek api pada ujung rokok yang kini sudah bertengger di bibir merah muda nya, sedangkan Naima merasa jika Sekhu sedang tidak baik baik saja sekarang.
" Kamu merokok?" Ucap Naima menghampiri Sekhu.
" Hanya saat tertentu saja, lagi pula ini salah satu caraku menghilang stres dari pada aku harus mabuk dan berakhir di atas ranjang bersama wanita lain". Ucapan Sekhu begitu menusuk indra pendengaran Naima.
__ADS_1
Naima menata Sekhu yang begitu santai menghisap rokok tanpa ekpresi itu.
" Apa kah itu enak, rasanya aku juga ingin merasakan nya?" Gumam Naima menatap rokok yang masih di hisap Sekhu.
Sekhu menatap Naima dengan terkejut, bagaimana bisa wanita hamil itu berucap seperti itu.
Sekhu langsung membuang jatuh putung rokoknya dengan kesal kemudian menatap Naima yang tersenyum padanya.
" Kenapa kau tersenyum dan apa maksud ucapan mu itu?"
" Aku hanya becanda." Naima mengalihkan pandangan tajam Sekhu padanya.
Sekhu menarik Naima agar menghadap ke arah.
" Dengar, jangan pernah melakukan apa pun yang bisa membuat anakku terluka atau apa pun itu Naima." Sekhu mencengkram erat pinggang Naima membuat wanita itu terkejut.
" Dengar tuan Sekhu Ibrahim, ini tidak hanya anakmu tapi anakku juga tanpa anda bicara seperti itu aku jauh lebih tau." Ucap Naima merasa kecewa dengan apa yang Sekhu lakukan.
Naima melepaskan cengkraman tangan Sekhu pada pinggang nya kemudian masuk kedalam kamar dan berbaring membelakangi Sekhu yang merasa begitu frustasi saat itu.
Tak terasa air matanya Naima mengalir begitu saja tanpa permisi, sekuat mungkin dirinya menahan isakanya agar tidak terdengar oleh Sekhu saat itu.
" Kenapa, di saat aku belajar mencintai kamu ada saja yang membuat ku ragu untuk memulai kehidupan bersama mu, Sekhu kenapa kamu bisa membuat ku bahagia namun di sisi lain kamu juga membuat ku menangis Sekhu." Batin Naima.
Sekhu menatap punggung Naima yang bergetar kemudian mengusap wajahnya dengan gusar, berjalan mendekati Naima dan ikut berbaring di samping nya.
Sekhu memeluk tubuh Naima yang diam kemudian mengecup lembut kepala wanita itu yang semakin membuat nya ingin menangis saat itu juga.
Sekhu semakin mengeratkan pelukan nya pada tubuh Naima membuat nya nyaman dan masuk ke dalam alam mimpi yang indah hingga fajar menyinari mereka.
__ADS_1