
" Sekhu.." Gumam Maria saat melihat anak lelaki nya begitu terpukul.
" Maa..Kirana keguguran, Sekhu kehilangan anak pertama Sekhu.." Sekhu lantas memeluk Maria dengan erat.
" Kamu sudah pasti kan jika itu anak kamu, bisa saja itu anak dari selingkuhanya Sekhu." Ucap Renaldi yang memilih duduk di sofa.
" Apa maksud papa, bukan kah papa yang meminta agar aku segera memiliki keturunan? .Sekarang Kirana sudah membuktikan jika dia bisa megandung meski kini kami kehilangan anak kami pa."
" Sekhu..jangan bodoh, berapa kali kami mengingat kan mu tentang wanita itu." Bentak Renaldi marah.
" Paa..sudah lah, kita sedang di rumah sakit sekarang." Maria merelai pertengkaran dua orang yang sama sama keras itu.
" Jika papa kesini hanya ingin menghina Kirana, sebaiknya papa pergi dari sini." Ucap Sekhu membuang muka.
" Anak tidak tahu diri, ingat Sekhu jika suatu saat nanti kamu tau kebenaran nya maka lihat lah papa sendiri yang akan tertawa keras menatap mu." Renaldi menarik tangan Maria meninggalkan Sekhu.
Diam diam Kirana sudah sadar sejak kedatangan Renaldi dan Maria mendengar pertengkaran Sekhu dan ayahnya membuat Kirana merasa bahagia, bukan karena Sekhu yang membelah nya tapi karena sudah berhasil membuat mereka bertengkar.
Meski dia harus kehilangan anak nya yang sudah bisa dipastikan bahwa itu bukan lah anak dari Sekhu melainkan anak dari Leo, sandiwara Kirana benar-benar begitu nyata hingga tidak membuat orang lain curiga.
Perlahan Kirana membuka mata nya membuat Sekhu menatapnya dengan senyuman.
" Kau sudah sadar, kau terganggu dengan suara bising tadi?" Ucap Sekhu begitu lembut.
Kirana diam menatap Sekhu.
" Kenapa kau begitu bodoh Sekhu, padahal kau tahu jika aku berselingkuh dari mu dan kau masih berusaha untuk tidak percaya." Batin Kirana.
" Apa ada yang sakit, aku akan panggil dokter sebentar." Sekhu berdiri hendak memanggil dokter namun Kirana mencegah nya.
" Tidak perlu." Ucap Kirana datar.
Sekhu kembali duduk menatap iba Kirana yang kini membuang muka tanpa ingin menatapnya.
" Aku minta maaf, aku sungguh bersalah sudah membuat mu terluka sampai seperti ini Kirana."
" Kau tau aku ingin memberitahu mu bahwa aku sedang hamil, tapi kau malah dengan mudah menampar ku karena wanita itu." Gumam Kirana yang berpura-pura sedih dan menitih kan air mata.
" Sayang, sungguh aku minta maaf aku tidak pernah tahu jika kamu sedang mengandung dan ingin memberi ku kejutan."
" Sudah lah Sekhu, siapkan perceraian kita agar kamu lebih leluasa bersama dengan wanita ****** itu."
__ADS_1
" Tidak Kirana, aku tidak akan pernah menceraikan mu sampai kapan mu." Sekhu memeluk Kirana yang menangis tersedu-sedu.
" Kamu sudah tidak mencintai ku lagi kan, bukti nya kamu bisa melakukan ini semua padaku."
" Tidak Kirana, aku mohon jangan buat aku semakin bersalah padaku."
" Kalau begitu kamu pilih aku atau Naima?" Kirana mendorong tubuh Sekhu dan menatapnya.
" Tidak kedua nya Kirana, aku tidak bisa menceraikan mu atau pun Naima. Beri aku permintaan lain sayang."
Kirana diam dia sudah menduga jika Sekhu tidak akan bisa menceraikan wanita itu karena dia sudah mulai mencintai wanita itu.
" Aku akan menyuruh Naima untuk pergi dari rumah kita, biar dia tinggal di rumah kita yang ada di pondok indah."
" Aku tidak peduli."
Kirana tertawa dalam hatinya akhirnya wanita itu bisa keluar dari rumah Sekhu yang mewah dan akan tinggal di rumah yang sudah lama tidak ditinggali itu.
Rumah itu terletak jauh dari rumah Sekhu dan Kirana butuh 2 jam perjalanan sampai di sana, belum lagi rumah itu terletak di kompleks yang sederhana dan tidak sebesar dan sebersih rumah utama Sekhu.
" Aku akan panggil dokter untuk meriksa mu, jangan terlalu banyak memikirkan sesuatu yang tidak baik." Gumam Sekhu pergi meninggalkan Kirana.
" Bagus lah, sebaiknya dia menjauh dari ku dan Sekhu meski Sekhu tidak ingin menceraikan nya." Gumam Kirana tersenyum puas.
Naima dan Maryam sudah tiba dirumah.
" Kak Naima?" Seru Maryam menyapa Naima.
" Hemz.." Gumam Naima tak semangat.
" Jangan memikirkan sesuatu yang membuat mu tidak nyaman, percaya saja semua akan baik baik saja."
" Terima kasih Maryam sudah selalu menyemangati kakak, kamu istirahat saja aku mau ke dapur dulu."
" Iya." Maryam meninggalkan Naima yang berjalan ke arah dapur hendak membuat minuman.
" Nona Naima.." Seru Dewi menghampiri Naima yang mengeluarkan buah buahan.
" Hay Dewi, dari mana kamu?"
" Dari taman nona nyidam bunga, nona Naima mau buat apa?"
__ADS_1
" Jus mangga, cuaca dan hati ku sedang sedikit panas sekarang."
Dewi tertawa mendengar ucapan Naima yang begitu spontan itu.
" Kenapa ketawa?" Naima nampak heran.
" Tidak ada nona, maaf saya lancang. Berikan pada saya maka semua akan baik baik saja."
" Baiklah." Naima menyerah kan buah pada Dewi kemudian memilih duduk menatap gadis muda itu.
" Ngomong ngomong kamu sudah lama di sini, Dewi?".
" Belum nona, baru 4 tahun saya di sini. Itu juga karena orang tuanya saya yang sudah mengabdi di sini dan mereka juga hutang budi dengan keluarga tuan Sekhu makanya saya harus kerja di sini."
Naima hanya mangut mangut menengar penjelasan Dewi tentang keluarga nya.
" Kamu tidak melanjutkan sekolah Dewi?"
" Saya orang tidak mampu nona, sebenarnya tuan menawari saya tapi ah sudahlah tidak enak jika nyonya Kirana tahu."
" Memang sekejam itu Kirana pada kalian yang ada di sini, seharusnya kamu menerima tawan nya agar kamu bisa mengubah kehidupan mu."
" Tidak maslah nona, kerja di sini pun gajinya lebih dari cukup memenuhi hidup saya sendiri."
" Baik lah, yang penting kamu nyaman saja."
" Sialakan nona, saya permisi."
" Terima kasih."
Dewi meninggalkan Naima yang meminum jus mangga nya sendiri di dapur menuju taman di mana dirinya sibuk menyiram tanaman.
" Dewi.." Panggil seorang pelayan.
" Eh mbk Dian, kenapa mbk?"
" Kamu ini kenapa sih membela Naima terus?"
" Maksudnya apa mbk, nona Naima kann baik kenapa saya tidak boleh membelah nya?"
" Kita ini bekerja disini ikut nyonya harus nya kamu dukung nyonya bukan nya dia, lihat bagaimana nyonya jatuh karena dia."
__ADS_1
" Sudah kah mbk, gak penting buat saya sekarang saya fokus bekerja saja dulu permisi." Dewi meninggalkan teman nya itu dengan dongkol dan kesal.
" Eh dasar anak labil, di kasih tahu nkok malah pergi dasar anak miskin.." Umpat nya kesal menatap kepergian Dewi.