
Setelah selesai bersiap Maryam langsung turun menemui Adam yang kini sedang berbicara dengan seseorang dari ponsel nya.
Maryam nampak cantik dengan balutan dress merah muda sebatas lutut nya dengan rambut sebahu yang dia biarkan terurai, wajahnya nampak begitu natural tanpa make-up.
" Kak Adam.." Ucap Maryam menghampiri Adam.
Adam langsung berbalik dan menatap Maryam yang nampak cantik, pemuda itu nampak biasa saja menatap Maryam yang sedang tersipu malu.
" Baiklah aku akan menghubungimu, tunggu saja dirumah aku akan mengenalkan seseorang padamu Yukka.." Ucap Adam bersemangat.
Selesai berbincang Adam kembali menatap Maryam yang menunggu nya dengan sabar itu.
" Maaf, apa aku bebicara terlalu lama?" Ucap Adam.
" Tidak masalah, apa semua sudah selesai jika sudah sebaiknya kita berangkat sekarang." Gumam Maryam.
" Kamu cantik, ayo berangkat.." Ucap Adam yang begitu ditunggu oleh Maryam dan semakin membuat gadis itu tersipu.
Adam melirik jam di tangan nya yang menunjukkan pukul 09.30 pagi.
" Ada apa?" Gumam Maryam.
" Tidak ada, aku harap nanti kamu bisa langsung akrab dengan papaku Maryam." Seru Adam tersenyum padanya.
" Tentu saja, tapi kenapa hanya papamu dimana mama mu?"
Hening Adam tidak terlalu menyukai saat ada orang yang menanyakan tentang ibunya.
" Emz aku salah yah, maaf tidak perlu di jawab." Ucap Maryam merasa bersalah saat melihat Adam yang diam menatap jalanan yang ramai.
Mereka saling diam dan fokus dengan kegiatan mereka sendiri, Maryam merasa bersalah saat melihat Adam terdiam tanpa bebicara lagi dengan nya.
" Apa dia marah, astaga aku benar-benar salah bebicara.." Batin Maryam.
Maryam membuka ponsel nya dan melihat sosial media nya sesaat kemudian memilih mengirim pesan pada Naima.
" Kak Naima sedang apa?"
__ADS_1
Ting
" Kakak lagi dirumah, kakakmu ada dirumah apa kamu mau kesini?"
Ting
" Tidak, Adam mengajakku kerumah nya bertemu dengan ayahnya. Tapi dia nampak sedang marah sekarang kak.."
Ting
" Marah kenapa, memang apa yang kamu lakukan Maryam?"
Ting
" Tidak ada, aku hanya bertanya tentang ibunya saja tapi dia langsung terdiam dan tidak bebicara dengan ku."
Naima nampak membaca dengan serius chat Maryam dan langsung teringat akan Adam kekasih nya dulu, dia juga akan begitu marah saat ada orang yang bertanya tentang ibunya yang pergi.
Naima yang begitu hafal tidak pernah sekali pun menanyakan tentang masa lalu ibunya, kini Naima kembali di ingatkan oleh Adam yang berbeda yang sekarang bersama dengan Maryam adik ipar nya.
Maryam menatap Adam yang menghela nafas pelan kemudian memarkirkan mobil nya di sebuah rumah yang begitu megah dan indah, Maryam menatap rumah itu dengan takjub.
Bahkan rumah orang tua nya tidak semegah itu meski mereka adalah orang terkaya nomor 4 di Indonesia, Adam menatap Maryam dengan lembut.
" Maaf, aku mendiamkan mu. Ayo masuk itu rumah papaku..." Ucap Adam.
Maryam menatap mata teduh Adam dan tersenyum kemudian mengikuti pemuda itu keluar mobil dan masuk kedalam rumah.
" Maryam, jangan tanyakan apa pun tentang ibuku di depan papaku apa kau mengerti?"
" Iya."
Seorang pria paru baya keluar bersama dengan seorang gadis yang tak kalah cantik dengan Maryam, gadis itu tersenyum ramah pada Maryam yang menatap nya bingung.
" Seperti pernah melihat nya, tapi di mana?" Batin Maryam.
" Papa, Yukka perkenalkan ini Maryam Ibrahim kekasih Adam." Ucap Adam saat Roy dan Yukka mendekati nya.
__ADS_1
" Oooh ini gadis cantik yang selesai di ceritakan oleh Adam, bagaimana bisa seperti itu?" Ucap Roy yang begitu mengenal siapa gadis cantik yang dibawa oleh putranya itu.
" Hallo om, saya Maryam salam kenal.." Ucap Maryam mengulurkan tangannya dan langsung disambut oleh Roy.
" Maryam kenalkan, ini dokter Yukka dia anak dari sahabat baik om dan juga sudah seperti saudara bagi Adam." Ucap Roy menatap Yukka yang tersenyum.
Maryam baru mengingat gadis itu saat itu dia mengenakan seragam dokter nya dan sekarang hanya berpakaian santai.
" Dia adalah dokter yang memapah Adam saat dia sakit, sekarang aku mengingat nya." Batin Maryam menatap Yukka lama.
" Maryam...Yukka mengulurkan tangannya padamu, kamu tidak ingin menyambut nya?" ucap Adam saat melihat Maryam menatap Yukka tak berkedip.
" Entah apa yang dipikirkan oleh gadia itu, kenapa dia terus menatap Yukka tak berkedip." Batin Adam sedikit kesal.
" Ah..maaf, aku Maryam dokter Yukka..." Ucap Maryam mengulurkan tangannya menyambut uluran tangan Yukka.
" Yukka..panggil aku Yukka saja, jika sedang berada di luar jam kerja ku." Ucap Yukka lembut.
Maryam tersenyum dengan ramah melihat senyuman Yukka yang tulus.
"Ayoo masuk, kita mengobrol bersama di ruang tamu saja." Ucap Roy mengajak mereka bersama.
Mereka langsung pergi ke ruang tamu keluarga Adam disana sudah tersaja minuman dan juga beberapa cemilan yang sudah disiapkan oleh pembantu rumah itu.
"Duduk lah Maryam, ada yang ingin om tanyakan?" Ucap Roy mempersilahkan Maryam duduk.
"Iya om, mau nanya apa?"
Roy nampak menatap Adam yang santai.
"Apa kamu tidak mengenali siapa yang berada di depan mu ini, maksud ku orang tua mu tidak mengenal kan mu dengan siapa yang boleh kamu temui dan yang tidak kamu temui Maryam?" Roy nampak aneh bagaimana bisa Maryam tidak mengenali siapa dirinya yang mungkin saja pelayan rumah nya begitu tahu siap dirinya.
" Maaf om, mama dan papa tidak pernah memberi tahu ku tentang hal itu dan maaf Maryam tidak mengenali om Roy. Tapi nanti aku akan bertanya pada papa siapa tahu kalian saling mengenal."
" Ah..tidak perlu, biarkan nanti ok sendiri yang menemuinya bersama dengan Adam saat hubungan kalian lebih serius." Ucap Roy menutup pembicaraan nya.
Sedangkan Yukka nampak cemburu melihat kedekatan Maryam dengan Roy meski dia sendiri tidak sendiri tidak berhak marah dengan semua itu, tapi hatinya tidak bisa berbohong jika dia cemburu.
__ADS_1