MAFIA SI CASANOVA

MAFIA SI CASANOVA
Hunian Baru


__ADS_3

Sekhu menghubungi Shirkan untuk membawa Naima pindah ke perumahan sederhana.


" Tapi tuan, kenapa nona Naima harus pindah?". Seru Shirkan di balik telepon.


" Ini keinginan Kirana, sebagai penebus kesalahan ku pada nya." Ucap Sekhu kemudian membuat Shirkan mengerti.


"Baik tuan, akan saya laksanakan."


Sekhu menutup panggilan nya kemudian menatap Kirana yang sudah terlelap setelah meminum obatnya, berat sekali saat Sekhu harus merelakan Naima meninggal rumah nya.


" Ada apa dengan ku, kenapa terasa begitu berat saat harus membuat Naima meninggalkan rumah dan terpisah dengan ku." Batin Sekhu.


Sekhu menatap poto pernikahan nya dengan Naima yang dikirimkan oleh Maryam beberapa hari lalu, sebuah bunga tumbuh dengan begitu cepat di dalam dirinya tanpa dia sadari.


" aku tidak boleh jatuh cinta padanya, tidak boleh semua ini salah." Gumam Sekhu lirih mematikan ponsel nya.


" Naima kenapa kau mengelilingi kepala ku, entah apa yang kau lakukan.."


***


Tok Tok Tok


Shirkan mengetuk pintu kamar pribadi Sekhu.


" Iya sebentar.." Pekik Naima buru buru memakai bajunya setelah mandi.


Clek


" Pak Shirkan, ada apa?" Ucap Naima menatap Shirkan yang tersenyum.


" Maaf mengganggu nona Naima, tapi tuan meminta saya membawa nona ke rumah baru nona sekarang." Ucap Shirkan sedikit tidak tega.


" Rumah baru, Sekhu mengusir ku?"


" Tidak nona, bukan mengusir tapi tuan hanya memindahkan nona ke rumah milik tuan Sekhu yang sudah lama ditinggal kan."


" Tapi kenapa pak Shirkan, apa dia akan menceraikan ku karena membuat masalah dengan nonya Kirana?"


" Ini semua permintaan nyonya Kirana nona, tuan Sekhu berjanji akan melakukan apa pun untuk menebus kesalahannya."


Naima bernafas berat saat dia harus pergi dari rumah Sekhu, meski dia hanya akan berpindah tempat di mana dia tidak akan bertemu Kirana.

__ADS_1


Harusnya dia bahagia karena tidak harus melihat dan berhadapan dengan Kirana yang jahat padanya, namun Naima merasa sedih karena Sekhu memilih untuk mengabulkan permintaan Kirana.


" Nona Kirana, nona tidak perlu berpikir buruk apa pun. Percaya saja ruan Sekhu hanya ingin melakukan yang terbaik untuk kalian."


" Aku akan bersiap dulu, tunggu sebentar pak Shirkan."


Shirkan mengganguk kemudian menunggu Naima di depan pintu kamar nya.


" Naima ingat, kau bukan nyonya disini kau harus sadar diri." Ucap Naima memasukkan beberapa baju ke dalam koper.


Naima menarik tas selempang yang biasa dia gunakan yang berisi ponsel dan juga kartu yang diberikan Sekhu padanya yang belum tersentuh sedikit pun itu.


" Huft semangat.." Gumam Naima meninggalkan kamar Sekhu.


" Sudah siap nona, mari.." Ucap Shirkan menatap Naima.


Shirkan membawa koper Naima menuruni tangga perlahan dengan perasaan iba melihat gadis muda itu yang memiliki kehidupan yang kurang baik.


" Loh kak Naima, tunggu dulu kakak mau kemana?" Pekik Maryam melihat Naima dan Shirkan membawa koper.


" Kakak mau pergi." Ucap Naima.


" Masalah apa, nanti dulu kak.. Pak Shirkan mau kemana membawa koper kak Naima?"


" Kami akan pergi ke rumah lama tuan Sekhu nona, komplek pondok indah nona."


Maryam tekejut bagaimana bisa kakaknya menyuruh istri nya sendiri tinggal di kompleks sederhana itu.


" Kak Sekhu tidak adil, pokok nya kak Naima tetap disini aku akan menghubungi kak Sekhu.."


" Tunggu Maryam, tuan Sekhu sedang tidak baik saat ini jadi biarkan saja. Aku tidak masalah harus tingal dimana kok.." Naima menahan tangan Maryam yang sedang mengubungi Sekhu.


" Tapi kak.."


" Maryam, ini permintaan maaf kakakmu untuk Kirana. Aku tidak bisa menolak nya sama sekali, semua ini juga karena kehadiran ku mereka bertengkar."


" Kak..."


" Sudah sore aku harus pergi, jaga dirimu dengan baik Maryam. Ayo pak Shirkan berangkat.."


" Baik nona, permisi nona Maryam.."

__ADS_1


Maryam menghentakan kaki nya dengan kesal saat mobil hitam kakaknya pergi meninggalkan rumah membawa Naima menuju hunian barunya.


Mobil Naima mekaju meninggalkan rumah Sekhu yang nampak sepi di dalam mobil Naima hanya diam menatap jalanan yang lengang sore hari itu.


Naima menatap ponsel nya yang sunyi tidak ada notif atau panggil dari Sekhu yang menanyai tentang dirinya, lagi lagu mata wanita itu berair dan berembun.


Shirkan menatap Naima diam diam tanpa sepengetahuan Naima, Shirkan merasa sedih melihat gadis malang itu. Dulu dia dijual ibunya daan terperangkap dalam kadang singa yang buas.


Sekarang dia juga harus menderita lebih lagi entah rencana apa yang sedang Tuhan siapkan untuk dirinya, Shirkan berdoa agar nanti Naima bisa melanjutkan hidup nya dengan tenang.


Tak terasa 2 jam perjalanan mereka tempu dengan kesunyian yang mencengkam tak lama mobil Shirkan memasuki sebuah komplek perumahan yang cukup padat dan ramai.


Jam sudah menujukan pukul 18.00 membuat jalanan dan beberapa rumah di sana sudah tertutup rapat, Naima menatap sekeliling komplek yang nampak begitu asri seperti di perdesaan.


Pepohonan berjajar indah di depan perumahan itu membuat udara terasa lebih nyaman, di perumahan itu nampak hanya beberapa rumah saja yang ada kendaraan roda 4 sisanya hanya sebuah sepeda motor yang terparkir.


" Sekarang ini rumah nona Naima, semoga nona betah yah di sini." Ucap Shirkan membuka pintu mobil Naima.


" Aku pasti betah disini pak Shirkan, mana tempat nya begitu sejuk dan perumahan nya juga sederhana dan berdekatan." Gumam Naima yang masih menatap sekeliling nya.


Shirkan membawa koper Naima menuju rumah Sekhu yang sudah lama tak berpenghuni, meski begitu rumah itu begitu rapi dan bersih karena Sekhu meminta orang untuk membersihkan nya dulu.


" Ini rumah baru nona, semoga betah dan segera mendapatkan teman." Ucap Shirkan membuka pintu rumah baru Naima.


Rumah itu begitu rapi dan bersih ditambah sudah ada beberapa barang rumah tangga yang sudah disiapkan oleh Sekhu untuk Naima.


" Semua sudah disiapkan oleh tuan Sekhu, nona Naima hanya perlu membeli beberapa bahan makanan saja."


" Terima kasih pak Shirkan, aku akan masuk dan beristirahat sekarang."


" Baik nona selamat beristirahat, jika nona butuh sesuatu langsung hubungi saya. Selamat malam." Shirkan meninggalkan Naima yang langsung masuk kedalam rumah barunya.


" Mari kita buka lembaran baru.." Gumam Naima melangkah mengitari rumah yang tak begitu besar dan juga tidak terlalu kecil itu.


" Kok mata ku terasa panas dan ingin nangis sih, aku kenapa..." Ucap Naima saat mengingat kembali kebersamaan nya dengan Sekhu.


Rumah itu begitu sederhana rumah petak berlantai satu yang tidak begitu besar dan juga kecil hanya ada 1 kamar disana, dapur dan kamar mandi sederhana.


Naima masuk kedalam kamar nya yang cukup besar untuk dirinya sendiri itu dengan lemari baru yang di beli oleh Sekhu, kasur nya pun tak kalah empuk dengan yang dia tiduri bersama dengan Sekhu dirumah nya.


" Aku harus kuat.." Gumam Naima memejamkan matanya perlahan bertemu dengan alam mimpi yang begitu indah.

__ADS_1


__ADS_2