MAFIA SI CASANOVA

MAFIA SI CASANOVA
Tetangga Baru


__ADS_3

Pagi pagi sekali Naima sudah menyapu rumah barunya dengan gembira karena dia bisa melakukan semua hal tanpa di perintah atau pun tertekan.


" Ada untung nya Sekhu membuat mu pindah disini, aku lebih bisa menguasai diriku sendiri dari pada harus hidup di sangar emas yang membuat ku menderita." Gumam Naima.


Saat sedang asik menyapu seorang wanita lebih tua dari Naima menyapa nya dengan lembut dan ramah.


" Rajin ya tetangga baru.." Seru seorang wanita membuat Naima berbalik menetapnya.


" Eh mbk, iya lantainya kotor makanya bagun pagi dan menyapu." Gumam Naima.


" Saya Anggik tetangga sebelah rumah kamu itu, selamat datang di kompleks indah semoga betah yah.." Ucap wanita bernama Anggik itu.


" Iya mbk, saya Naima. Semoga kita bisa menjadi tetangga yang rukun yah mbk.."


Anggik nampak tersenyum menanggapi ucapan Naima.


" Mbk Anggik dari mana, kok pagi pagi udah di luar?"


"Saya mau ke pasar di ujung gank kita ini loh, kamu pasti belum tahu jika ada pasar pagi kan di sini. "


" Oh yah, kalau begitu aku ikut dong mbk kebetulan belum masak juga.."Naima meletakkan sapu nya.


" Ya sudah yuk, nanti jam 08.00 mereka sudah pada tutup mumpung masih jam 07.00 pagi buruan."


" Iya bentar mbk, aku ambil dompet dulu sebenar." Naima masuk kedalam dan mengambil dompet mini di dalam tas selempang nya kemudian mengunci pintu.


" Sudah selesai?"


" Sudah mbk, ayo berangkat."


Naima dan Anggik berjalan menerusi beberapa rumah di kompleks itu dan juga ada sebuah warung yang sudah lumayan ramai.


" Itu warung sayur matang, atau sembako mbk kok rame banget."


" Dua duanya, kalau males masak kamu tinggal kesana aja deh."Ucap Anggik dengan senyuman.


Naima dan Anggik mulai akrab meski mereka baru mengenal beberapa jam saja, setelah dari pasar Naima dan Anggik berpisah karena Anggik seorang ibu rumah tangga yang memiliki kegiatan dirumah nya.

__ADS_1


Sedangkan Naima sendiri di rumah tentu saja tidak begitu banyak pekerjaan yang dia lakukan, Naima membeli beberapa lauk dan juga sayur untuk stok agar dia tidak setiap hari pergi dari rumah.


Naima sendiri memang sudah diajarkan mandir sedini mungkin jadi hal seperti itu tidak akan membuat nya kesusahan.


" Sebaiknya aku masak semur ayam sama sayur kacang aja deh, kayaknya enak.." Gumam Naima mulai menyiapkan semua yang ingin dia masak.


Dengan senandung kecil Naima mulai meracik bumbu dan masak sesuai keinginan nya itu, aroma harum dari masakan nya membuat perutnya berbunyi nyaring.


" Hemzz, kayaknya enak deh. Makan ah..masak sendiri yaaa makan sendiri lah..aha ha ha.." Ucap Naima dengan tawa kecilnya.


Naima makan dengan lahap sembari menonton televisi kesukaan nya yang menayangkan serial india favorit nya itu.


Setelah makan Naima kembali ke depan televisi dan kembali menikmati serial indianya dengan sesekalian tertawa melihat nya, jam sudah menujukan pukul 10 pagi Naima segera beranjak mandi.


***


Lagi lagi Sekhu hanya diam melihat kedekatan Kirana dan Leo yang sama sekali tidak menggangap keberadaan nya saat ini, jika bukan karena Kirana sedang sakit mungkin kini dia sudah bangku hantam dengan Leo.


Sekhu yang semakin kesal kemudian beranjak pergi dari ruangan Kirana tanpa kata kata sedang kan mereka hanya menatap acuh kepergian Sekhu.


" Tidak masalah, semua ini terjadi karena mereka bukan kehendak kamu." Dengan lembut Leo mengusap kepala Kirana membuat wanita itu tersenyum bahagia.


" Dengan pergi nya anak kita, aku juga bisa menyingkirkan ****** itu dari kehidupan ku." Batin Kirana tertawa puas.


Sekhu mengendarai mobil nya dengan pelan menuju komplek perumahan Indah di mana sekarang Naima berada, dia membutuhkan bahu untuk bersandar sejenak.


Tak lama Sekhu telah sampai di rumah baru Naima yang sederhana kemudian memarkirkan mobilnya di depan nya, hatinya sedikit sedih tak kalah melihat rumah kecil yang ditinggali oleh Naima sekarang.


" Kenapa aku menjadi selemah ini sekarang, entah apa yang dilakukan gadis itu hingga membuat ku seperti ini." Gumam Sekhu menatap rumah Naima yang tertutup rapat.


Sekhu melangkah kan kakinya masuk kedalam rumah Naima yang bersih dan rapi pintu itu tertutup rapat, membuat Sekhu sungkan untuk mengetuk nya.


" Apa aku harus menunggu nya keluar, bagaimana jika dia sedang pergi?. Tapi tidak mungkin, Naima belum hafal tempat ini." Ucap Sekhu langsung membuka pintu yang tidak terkuci itu.


Sekhu menatap sekeliling rumah yang tidak lah besar menurutnya dengan ruang tamu di depan dan ruang keluarga yang menyatu dengan kamar dan juga dapur.


Sekhu tidak pernah mengunjungi rumah itu karena dia membelinya karena teman lamanya sedang membutuhkan uang, namun sekarang dirinya masuk dan melihat bagaimana bentuk rumah ini.

__ADS_1


Meski penataan nya begitu indah dipandang tetap saja rumah ini akan terasa begitu sempit jika dihuni lebih dari 2 orang.


" Apa aku terlalu jahat padanya?" Gumam Sekhu merasa bersalah.


" La..la.la.la.., Tuan Sekhu?" Naima yang sedang bersenandung berhenti menatap Sekhu yang berada dirumah nya.


" Berhenti memanggilku tuan, Naima." Sekhu nampak dingin menatap Naima yang mematung.


" Kenapa kau disini, memang nyonya Kirana mengizinkan mu datang menemui ku?" Entah kenapa Naima merasa kesal pada Sekhu.


" Aku bisa pergi kemana saja yang aku mau, tidak peduli orang lain melarang ku." Sekhu duduk di soffa baru yang dia minta pada Shirkan.


" Anda ingin minum sesuatu?"


" Tidak perlu seformal itu Naima, kau ini menguji kesabaran ku sekali." Sekhu merasa semakin kesal.


" Maaf, apa kamu ingin minum sesuatu atau makan?. Aku baru saja selesai masak kalau mau.."


" Aku lapar."Sekhu langsung berdiri menuju meja makan Naima yang terletak di dapur kemudian membuka tudung nasi dan duduk menatap masakan Naima.


" Aku ambil kan, mau makan apa?" Ucap Naima ketus.


" Jangan bersikap ketus padaku, bersikap lah sewajarnya." Tegur Sekhu.


Naima mengambil kan nasi dan semua masakan nya pada piring Sekhu dengan lembut, perlahan Sekhu menikmati masakan rumahan Naima yang membuat nya lebih baik sekali.


" Apa kau suka disini, jika tidak aku akan membelikan apartemen untuk mu?" Ucap Sekhu di sela makanya.


" Tidak perlu, aku nyaman disini jauh dari kehidupan mu."


Naima menatap Sekhu yang sedang makan dengan tatapan senang karena Sekhu datang menayai dirinya dan juga masih begitu peduli dengan nya.


" Seandainya hanya ad aku, tidak ada orang lain mungkin aku orang beruntung memiliki mu Sekhu meski kau selalu bersikap dingin dan kasar." Batin Naima.


"Berhenti menatap ku, jangan sampai kau jatuh cinta padaku." Ucap Sekhu datar menghabiskan makannya.


Naima memutar bola matanya mendengar ucapan Sekhu yang tidak meleset itu.

__ADS_1


__ADS_2