
Sasi menyandarkan punggung kecilnya untuk menetralisir rasa terkejut atas ucapan Nathan, tentang kehidupannya yang sama sekali tidak ada orang luar yang tahu. Lalu siapa pria di hadapannya ini? Kenapa dia bisa mengetahui dengan sangat detail tentang hubungannya dengan keluarga Mahardika?
“Siapa, Anda? Kenapa, Anda tahu tentang hubungan saya dengan keluarga Mahardika?”
Sasi menatap nyalang pria dihadapannya. Jika dulu dia bisa diperlakukan dengan keji. Kali ini dia tidak akan membiarkan siapapun memperlakukannya dengan tidak baik.
Nathan yang melihat kebencian di mata Sasi merasa jika tebakannya tentang bagaimana keluarga itu memperlakukan Sasi terjawab dengan sangat baik.
“Saya hanya seorang Nathan, yang ingin membuatmu dan Aslan terbebas dari keluarga Mahardika.”
“Apa alasannya? Selama ini tidak ada satu orang pun yang mengetahui hubungan saya dengan keluarga Mahardika. Saya yakin tidak mungkin Anda tak meminta imbalan atas apa yang Anda lakukan?”
Nathan mengangguk. Dia suka Sasi yang cerdas, tegas dan berprinsip. Di kala semua wanita memilih uang, dia hanya memilih Aslan agar tetap bersamanya walau seumur hidup dia tidak akan bisa menikah kembali.
“Hanya satu syarat, aku ingin kau memenuhinya.”
“Menikah?” ucap Sasi dengan lugas.
Nathan tersenyum mendengar Sasi dengan sangat baik bisa membaca keinginannya.
“Kau..”
“Anda, waras?” tanya Sasi memotong kata - kata Nathan. “Apa Anda sudah dengan cermat memandang diri saya?” lanjut Sasi dan mendapat anggukan oleh pria di hadapannya ini.
“Saya membutuhkan istri untuk menemani dan melengkapi kehidupan saya, sedangkan kamu membutuhkan orang yang kuat untuk membebaskanmu dari keluarga tamak itu? Bukankah, kita terdengar saling membutuhkan?”
Senyum tersungging menghiasi wajah tampan itu. Nathan tahu jika seorang Aryani Sasmitha adalah wanita yang sangat berhati - hati dalam melangkah. Karena itu dia yakin jika wanita dihadapannya ini bisa melengkapi kehidupannya yang tidak sempurna.
Sasi yang tak bisa lagi berkata - kata hanya bisa mendengus sebal. Dia kehilangan kata untuk membalas ucapan pria itu.
__ADS_1
“Jadi, bagaimana?” tanya Nathan.
“Saya tidak mau, karena saya tidak mau terbelenggu dengan para orang kaya sombong dan seenaknya sendiri!” tegas Sasi.
Sasi yang tak lagi bisa menahan sesak di dadanya spontan berdiri dan melangkahkan kakinya ingin keluar dari ruangan itu. Nathan yang tidak ingin kehilangan kesempatan karena baginya tidak ada kesempatan datang untuk kedua kali.
“Tunggu!” cegah Nathan.
Wanita itu berhenti namun tetap membelakangi sang pria. Tak ingin Nathan melihat air mata yang sudah menganak sungai di kedua sudut matanya Sasi tetap berdiri tegak dalam posisinya.
“Aku tahu, kau ingin bebas. Aku hanya ingin mencari pendamping yang jelas - jelas tidak akan meminta keturunan padanku.”
Sasi yang mendengar ucapan Nathan mengerutkan kedua alis matanya. Apa maksud pria ini? Apa Sasi hanya akan dijadikan istri tanpa jati diri. Dia yang tidak mau lagi mendengar omong kosong dari Nathan kembali melajukan langkahnya.
“Aku tak bisa memiliki keturunan!” seru Nathan dan membuat Sasi membulatkan kedua matanya terkejut.
Janda satu anak itu kembali terdiam dalam posisinya. Kini apa yang harus dijawabnya atas ucapan pria itu. Apa pendengarannya tidak salah, pria gagah itu tidak bisa memiliki keturunan. Lelucon apa ini. Sasi membalikkan tubuhnya dan menatap Nathan dengan senyum menghiasi wajah cantik yang tak terlihat itu.
Nafas Nathan berhembus dengan beratnya. Siapa yang akan percaya pria gagah sepertinya tidak bisa memiliki keturunan. Jelas pasti tidak akan ada yang percaya.
“Itu kenyataan. Uang, kedudukan, kemewahan. Semua yang saya miliki melebihi mantanmu itu. Tapi apa yang saya punya tidak bisa membuat saya memiliki keturunan dari diri saya sendiri.”
Sasi menggigit bibirnya melihat wajah sendu pria dihadapannya ini. Hatinya kini bimbang. Apa dia perlu memberi kesempatan pada pria dihadapannya ini, pikirnya. Sedangkan Nathan tidak lagi membujuk Sasi karena senjata terakhirnya sudah diletakkannya.
Suasana hening tercipta begitu saja. Nathan maupun Sasi tidak ada yang membuka kembali pembicaraan di antara mereka. Sasi yang terus mere*mas kedua tangan yang diletakkan diatas pahanya merasa semakin gugup sedang Nathan, justru tenggelam dalam lamunannya sendiri.
Sasi menelan salivanya kelat. Apa yang dia ingin katakan rasanya tidak bisa keluar dari tenggorokannya. Dia menghela nafasnya dan berusaha memberanikan diri menyatakan isi hatinya.
“Apa yang Anda bisa lakukan dengan Mahardika? Apa bisa mereka tidak mengetahui siapa yang membantu saya?”
__ADS_1
Sasi memberanikan diri membuka suara. Entah keputusannya ini benar atau tidak namun hati kecilnya mendorongnya untuk memberikan pria dihadapannya ini kesempatan untuk membantunya.
“Aku bisa melakukannya sekarang jika kamu mau. Tanpa mereka mengetahui jika kau dan Galih telah bercerai secara hukum. Bukan kah uang bisa melakukan segalanya?” ucap Nathan percaya diri dengan senyum tengil menghiasi wajah tampannya.
Sasi yang melihat itu hanya bisa merotasikan kedua bola matanya sambil menarik ujung bibirnya membentuk senyuman kecil.
***
Malam di kontrakan. Sasi dan Aslan sedang menikmati makan malam mereka sambil melempar candaan yang membuat keduanya saling tertawa seakan tak pernah ada masalah di kehidupan anak dan ibunya itu. Setelah tadi siang pembicaraannya dengan Nathan menemukan titik temu Sasi meminta pamit dan memilih pulang sendiri dengan ojek online.
Dia tidak ingin para tetangganya berpikir yang tidak - tidak tentangnya. Apalagi jika Aslan sampai tahu jika mereka yang tak saling mengenal bertemu dan jalan bersama. Sasai belum siap jika Aslan bertanya lebih kenapa dia dan Nathan bisa pergi bersama.
“Mah?”
“Ya?”
“Tadi, tante Ina mengatakan pada Aslan jika Mama pergi bersama dengan seorang laki - laki. Dia bertanya apa saudara kita ada yang sedang berkunjung, dan aku mengatakan jika kita tidak lagi memiliki saudara. Dan aku bilang padanya mungkin Tante Ina salah lihat, tidak mungkin jika Mama pergi dengan seorang pria, iya kan?”
Sasi yang sedang mengunyah nasi lembut itu mendadak seperti sedang memakan beras. Dia telan dengan susah payah hingga air yang disebelahnya dia minum dalam satu tegukkan.
Aslan melihat sang ibu terdiam dan tak langsung menjawab pertanyaannya menatap aneh wanita yang melahirkannya itu.
“Mama, nggak apa - apa? Apa nasinya susah ditelan?” tanya Aslan.
Tak tahu saja jika ibunya itu sedang gugup. Sasi yang tidak mungkin menyembunyikan masalah ini membuka mulutnya dan mengatakan kata yang membuat Aslan hampir menyemburkan air yang baru saja di minumnya.
“Apa?” Aslan terkejut dan memandang tajam ke arah sang ibu,
“Tadi Mama pergi dengan Om Nathan,” ucap Sasi. Dia pasrah jika Aslan akan marah padanya.
__ADS_1
“Oh, jadi pria itu Om Nathan? Kenapa Mama nggak bilang dari tadi sih, buat aku hampir salah paham saja.”
Sasi mengerutkan dahinya mendengar Aslan tidak merasa kecewa atau tidak marah padanya. Justru anak itu tersenyum seperti tidak terjadi apapun.