
Seorang wanita dengan gamis syar’i berwarna nude tengah berjalan menuruni tangga dengan degup jantung yang tidak karuan. Dia merasa dadanya bagai dihimpit batu besar karena rasa takut yang tak bisa ia uraikan. Tapi, sekarang atau nanti dia tetap harus melakukan ini, tak mungkin selamanya ia akan terus bersembunyi.
“Ayo! Sasi, kamu bisa.” gumamnya.
Istri dari Nathan Arsakha ini terus mengayunkan langkahnya sambil terus merapalkan doa agar bisa sedikit mengurangi rasa takutnya.
Sayup - sayup terdengar suara sang ibu mertua yang tengah mengobrol dengan para tamunya itu dan ketika langkahnya sampai dan berpijak tepat di samping vas kesayangan sanga ayah mertua. Netranya melihat seseorang yang sudah hampir 5 tahun ini tak ia jumpai.
“Astaga!”
Sasi yang cukup gugup sangat ingin berbalik dan tak berniat melanjutkan langkahnya. Tapi saat ia sedang menunduk meremas jari - jarinya seseorang memanggilnya.
“Sayang.”
Sasi mendongak dan matanya melebar.
“Kenapa disini? Di tunggu, Mama.”
Sasi masih terdiam termangu menatap sosok yang sangat ia damba dan ia tunggu kedatangannya. Dia tak mengira jika pria ini datang tepat pada waktunya.
“Hei, kenapa? Kau takut?” Menarik dagu Sasi dan mencium bibir dipoles lipstik itu singkat.
“Bukannya, Mas, tadi bilang pulang larut?” Sasi melihat ke arah jam dinding besar yang ada disana.
“Baru pukul 8,” ujarnya.
“Iya, tadinya gitu. Tapi karena, Mas, melihat seseorang yang ada di barisan itu, Mas, langsung pulang.”
“Mama, menghubungi, Mas?”
Nathan menggeleng, “Semua CCTV rumah ini, ada di ponsel mas, jadi apapun yang terjadi di setiap sudut ruangan ini, Mas, tahu.” Bisiknya.
__ADS_1
Sasi mengedipkan matanya dan nampak berpikir. “Tapi, di kamar mandi, kita nggak ada. ‘kan?”
Nathan tertawa geli, “Mana ada, begitu.” Sungguh pertanyaan konyol.
Sasi mengusap dadanya lega. “Yuk, Mas. Sasi siap.”
Nathan mengulas senyum dan menggandeng lengan sang istri. Ia mengusap punggung tangan Sasi dan terus menebar senyum membuat sang ibu terlihat menggerakkan pundaknya karena helaan nafas yang cukup keras. Ia puas.
“Selamat malam. Nyonya - Nyonya, perkenalkan, ini istriku.”
Sasi mengangkat dagu dan menatap semua wanita teman - teman sang ibu mertua dengan lembut.
“Selamat malam, semua.” Sapa Sasi sopan.
“Malam, Sayang. Wah, cantik sekali, Jeng Anggi, menantunya.”
“Berkelas, pasti anak berpendidikan, ya?” sahut yang lain.
Sementara wanita yang jelas - jelas tahu siapa menantu nyonya Anggi mulai merasakan tak nyaman pada dirinya. Sesekali ia menunduk bahkan beberapa kali mencoba memalingkan wajahnya. Hatinya bergetar, kakinya bahkan hampir lunglai karena ia merasakan jiwanya seperti melayang ke udara.
“Wah, kerja dimana?” tanya nyonya Lusi antusias.
“Saya, dirumah saja, Nyonya.”
“Dirumah saja, dia sudah cukup bosan, tapi ya… bagaimana lagi, Sakha, posesif.” Timpal nyonya Anggi membantu Sasi agar tak dicecar pertanyaan yang mungkin tak dapat wanita itu jawab.
“Iya, ‘kan. Sakha?”
Pria gagah yang masih berbalut baju kantor itu mengangguk mengiyakan ucapan sang ibu.
“Saya sengaja meminta Sasi di rumah, lagian untuk apa dia bekerja, cukup saya saja. Begitu halnya, Papa, dia tak memperbolehkan, Mama, bekerja walau usaha atas namanya di mana - mana.”
__ADS_1
Wanita yang kini sedang kesal itu mulai memikirkan hal yang bisa menjatuhkan image Sakha dan nyonya Anggi. Dia menyeringai dan siap membuka mulut.
“Janda atau gadis?” celetuknya.
Semua orang yang ada disana langsung memusatkan indera penglihatan mereka memandang seseorang yang bertanya hal di luar dugaan mereka.
“Dia, Janda.” Jawab Nathan singkat dengan tatapan menghunus bagai celurit yang siapa menyabet mulut wanita paruh baya itu.
Sasi menarik nafas, ia memberi kekuatan pada hatinya sendiri, “Maaf, Nyonya, saya Janda beranak satu.” Lanjut Sasi menimpali ucapan singkat sang suami.
“Janda?” ucap mereka bersamaan tanpa suara.
“Wah, Jeng Anggi, ini beruntung, ya? Dapat menantu lengkap dengan anaknya juga,” ujar wanita yang bernama Nina. Adik sepupu tuan Subianto, ayah Diandra.
“Tentu. Kalian tahu, cucuku itu, cerdas. Sama seperti, Ibunya. Bahkan ia sampai lompat kelas.”
Semua yang ada disitu melongo. Mereka jadi penasaran secerdas apa cucu baru keluarga Suryabrata ini.
“Sialan, beruntung sekali. Heh, bagaimanapun, Aslan adalah cucuku, tapi aku tidak bisa mengatakannya disini. Awas kau, Sasi. Tunggu saja!”
Setelah pengenalan menantu Suryabrata, Nathan yang tak ingin sang istri terus - terusan dalam situasi tak nyaman, akhirnya berpamitan. Dia mengajak sang istri keluar dari rumah dan terdengar deru suara mobil meninggalkan kediamanan itu.
“Jeng, apa sudah ditanyakan asal - usulnya?” celetuk nyonya Mahardika. Wanita itu masih mencoba, ia berharap masih bisa ada cela untuk mempermalukan wanita yang telah menjadi mantan menantunya itu.
Nyonya Anggi, tersenyum kecil dan melipat kedua tangannya. Semua teman - temannya yang ada disitu cukup tau jika Anggi sudah melakukan hal ini tandanya ia tak suka dengan pertanyaan orang tersebut.
“Latar belakang, ya?”
“Saya, rasa pertanyaan, Anda, sudah melampaui batas, Nyonya Mahardika. Siapa, Anda, menanyakan tentang asal - usul, menantuku!” Tatapan dingin itu membuat tak hanya ibu dari Galih membeku, namun semua yang ada disitu menelan ludah mereka.
“Saya rasa, pertemuan ini cukup. Lusi, jika pertemuan berikutnya masih ada dia, jangan lagi mengajakku, bahkan acara amal sekalipun!”
__ADS_1
Tanpa menoleh dan menunggu jawaban temannya. Nyonya Anggi berlalu dengan tawa liciknya.
Bersambung