
Sudah satu hari Sasi tidak bekerja, pihak bengkel dimana dia meletakkan motornya untuk di servis masih belum memberi kabar kapan motornya itu bisa diambil olehnya.
Aslan yang sudah pulang dari pukul 12.30 tadi kini sedang belajar kelompok di rumah salah satu temannya. Aslan yang memang memiliki kecerdasan diatas rata - rata selalu diminta untuk mengajari teman - temannya yang memang tidak secerdas dirinya.
Sasi selalu merasa beruntung. Karena Allah memberikan kecerdasan yang lebih untuk Aslan. Dia yang sibuk mencari uang hingga terkadang lupa waktu bersyukur tidak terlalu terbebani dengan rengekan Aslan tentang bagaimana mengerjakan PR atau tugas - tugasnya yang lain. Sasi yang sudah selesai dengan seluruh pekerjaan rumah dan pesanan nasi kotaknya kini dia sedang duduk diteras rumahnya sambil melihat koran pagi yang dibelinya sepulang mengantar pesanan tadi.
“Huh, semuanya naik. Untung saja tarif ojek udah naik juga,” cicitnya sambil membolak - balik koran yang berada ditangannya itu.
Sasi yang tidak terlalu menghiraukan kendaraan yang lalu lalang di depan jalan kontrakannya tak menyadari jika ada sebuah mobil SUV berhenti di seberang jalan. Seorang pria memakai baju casual keluar dari dalam mobil dan menghampirinya.
“Selamat siang?”ucap pria itu.
Sasi yang melihat sebuah kaki jenjang dengan sepatu sneaker menghiasi kedua kaki itu, mendongak menatap siapa gerangan yang bertamu ke rumahnya.
“Se selamat siang,” jawab Sasi.
“Mas bukannya yang kemarin mengantar Aslan?” pria itu mengangguk.
“Bisa kita bicara? Tapi tidak disini,” pintanya.
Sasi yang bingung melihat sekitar takut - takut jika para tetangganya melihat jika ada laki - laki bertandang ke rumahnya dan mengajaknya pergi.
“Tapi, maaf, ada apa ya?”
“Ada hal yang ingin aku tawarkan padamu,” ucap pria tampan yang tak lain adalah Nathan.
Sasi terdiam mencerna kata - kata Nathan tentang tawaran. Atau jangan - jangan pria ini ingin memberikan dia pekerjakan.
“Jika boleh tahu, tawaran untuk apa?” tanya Sasi.
Nathan yang gemas menarik nafasnya,”Bisa ikut saja, aku jelaskan nanti. Tidak enak jika kita bicara disini,” ujar Nathan.
Sasi yang melihat Nathan berbicara dengan nada serius memainkan bibirnya bingung, dia takut jika tawaran yang Nathan katakan adalah sebuah tawaran yang mengerikan.
“Ayo!”
Tak memperdulikan Sasi setuju atau tidak, Nathan sudah berjalan lebih dulu menuju mobilnya. Meninggalkan Sasi yang menatapnya bingung.
__ADS_1
“Aduh, itu Mas - mas main pergi saja, sih!” geram Sasi.
Dengan langkah cepat, Sasi mengambil ponsel dan dompet usangnya dan berlari mengejar Nathan. Karena terlalu gugup Sasi bahkan tak menyadari jika salah satu tetangganya melihatnya mengejar Nathan.
“Itu Mama Aslan mau kemana? Sama siapa?” gumamnya sambil celingak - celinguk dan terus menatap Sasi yang masuk kedalam mobil mewah hingga mobil itu berlalu.
“Ah, mungkin keluarganya. Eh, tapikan dia nggak punya keluarga disini. Wah, kebanyakan main sama Dewi sih, aneh - anehkan. Dasar janda!” gerutunya sambil masuk kedalam rumah.
Di dalam mobil yang Nathan kemudikan Sasi yang merasa canggung hanya bisa terdiam. Dia tidak berani bertanya ataupun sekedar mengajak bicara.
“Kita ke cafe yang privat saja ya?”
“Memangnya, Tuan ~~
“Terakhir kali kamu memanggilku Mas, kenapa sekarang jadi, Tuan?” ujar Nathan memotong perkataan Sasi.
Sasi yang merasa sedikit tidak nyaman dan merasa was - was dengan penampilan dan mobil yang Nathan miliki. Membuatnya merasa tidak sebanding. Dia pikir dengan memanggil tuan itu sudah termasuk adab kesopanan.
“Kenapa, diam?” tanya Nathan kembali membuka suara.
“Maaf, Mas.”
“Disini saja, ya?” Sasi mengangguk.
Rasa cemas seketika hilang ketika Nathan membawanya ke tempat ini. Dia kira tempat privat itu seperti yang ada di bayangannya. Tempat - tempat horor yang biasa mbak Dewi datangi. Apa lagi penampilan Nathan cukup keren dan seperti pria - pria berduit.
“Yuk!”
Nathan meraih tangan Sasi dan mengajaknya masuk kedalam. Sasi yang melihat tangan Nathan bertengger indah di pergelangan tangannya hanya bisa berteriak dalam hatinya.
“Astaga main gandeng saja, apa dia nggak malu, gandeng aku dengan penampilanku seperti ini, sedangkan dia..” Sasi menundukkan kepalanya karena beberapa orang pelanggan di cafe itu melihatnya dengan tatapan sedikit membuatnya tidak nyaman.
“Permisi, apa ada privat room disini?” tanya Nathan.
“Ada, Pak. bersyukur masih ada satu yang kosong,” ujar si pramusaji pria dengan seragam cafe yang bertuliskan cafe Marina di belakangnya.
“Tolong antarkan kami,” pelayan pria itu mengangguk dan mengantarkan Nathan ke ruangan yang dimaksud.
__ADS_1
Masih dengan menggandeng lengan Sasi tanpa canggung. Nathan pria itu, bahkan tak menghiraukan tatapan orang - orang padanya. Dialah Nathan si pria yang tak pernah peduli pendapat orang.
Nathan dan Sasi masuk kedalam ruangan itu dan tak lupa Nathan juga memesan minuman untuk menemani keduanya mengobrol.
“Jadi bisa kita mulai pembicaraan kita, Mas. Saya takut saat Aslan pulang saya belum dirumah,” ujar Sasi.
“Bukankah biasa seperti itu?” tanya Nathan.
Sasi bingung, kenapa pria dihadapannya ini mengetahui kebiasaannya. Apa pria ini seorang penguntit sehingga mengetahui sedikit banyak tentangnya.
Nathan, si pria yang biasanya dingin terhadap wanita. Kini lebih sering tersenyum di hadapan Sasi, entah dia sadar atau tidak tentang kelakuannya itu. Namun tak tahukan wahai Nathan, jika Sasi kini justru salah menilaimu sebagai penguntit.
“Tidak perlu merasa takut atau canggung, anggap saja kita berteman.”
Berteman?
Apakah pria dihadapannya ini waras, pikir Sasi.
“Bisa tolong keintinya saja, Mas?”
Khem
Nathan berdehem mengambil keberanian yang sungguh tak pernah dilakukannya selama ini.
“Aku tahu apa permasalahanmu, maaf jika aku terkesan seperti stalker atau apa saja yang ada di benakmu sekarang. Tapi..”
Nathan menjeda kalimatnya, “Apa kau kenal dengan keluarga Mahardika?” tanyanya.
Sasi membulatkan kedua matanya mendengar nama besar mantan suaminya disebut oleh seseorang yang baru saja oh tidak bahkan Sasi tak mengenal orang di hadapannya ini.
“Ma Mahardika?” ujar Sasi.
Nathan mengangguk dengan pasti. Tak ingin mendahului wanita di depannya ini Nathan memilih diam hingga Sasi dengan suka rela menjawab pertanyaannya.
Suasana tidak nyaman tercipta begitu saja. Namun Sasi tak mungkin tidak menjawab pertanyaan Nathan, yang jelas pria ini pasti tahu Karena tidak mungkin Nathan bertanya jika tidak tahu betul urusannya dengan keluarga besar itu.
“Apa yang, Mas Nathan ingin tahu?” tanya Sasi.
__ADS_1
“Aku hanya ingin tahu, kenapa anak pertama keluarga itu tak mau menceraikanmu secara hukum?”
Mata Sasi berkedip mendengar ucapan Nathan. Darimana pria ini tahu tentang itu, padahal orang luar tidak ada yang mengetahui pernikahannya dengan Galih Mahardika kecuali kedua orang tua Galih dan ayahnya.