MAHLIGAI KEDUA

MAHLIGAI KEDUA
Bab 43 - Pria Tua Labil


__ADS_3

Di meja makan malam ini yang bisanya penuh canda dan tawa hari ini sedikit mencekam. Tuan dan nyonya besar Suryabrata sedang terdiam dan memandang tajam pada anak laki - laki mereka satu - satunya.


Sebelum akhirnya keluar dari kamar, mereka sudah saling berjanji tidak akan mempermasalahkan sikap sang anak jika tak melihat perubahan apapun pada menantu mereka. Namun setelah duduk di meja makan, dan melihat mata Sasi yang bengkak, apa yang mereka janjikan tadi tak berlaku. Karena mereka sudah memastikan jika sikap Nathan pasti membuat wanita itu ketakutan hingga menangis. Untung saja Aslan tak menanyakan apa - apa pada ibunya tentang mata Sasi yang sembab itu. Tapi, sayangnya itu tidak berlangsung lama.


“Mah,” panggil Aslan dengan mulut penuh makanan.


“Iya, Sayang.” Jawab Sas.


“Mata, Mama, kenapa? Mama, habis menangis?” tanya Aslan.


Glek


Nathan yang baru saja menyendokkan makanan ke mulutnya langsung menelan makanan itu bulat - bulat. Terlihat beberapa kali, Nathan mengusap dadanya karena tak sempat mengunyah makanan itu terlebih dahulu. Sedangkan sang mama sudah sangat puas melihat anaknya tersedak. Bahkan sang mama juga terlihat beberapa kali memicingkan matanya.


“Nggak, Sayang. Ini karena terkena tanah yang nggak sengaja masuk ke mata, Mama, Jadi begini.”


“Memang, Mama, ngapain main tanah?”


“Bukan main tanah. Tadi, Mama, bantu, Eyang. Lihat kan di taman depan ada beberapa tanaman yang baru?” ucap Sasi mengalihkan perhatian sang anak agar tak bertanya tentang matanya yang sembab lagi.


“Oh, iya, tadi, Aslan, juga lihat karung - karung tanah yang dipindah sama pak Juki.”


“Nah, itu. Karena itu, Sayang.”


Setelah mendengar penjelasan yang masuk akan menurut Aslan, anak itu tak lagi bertanya apapun kepada sang ibu.


Makan malam pun kembali berjalan dengan lancar sampai pada akhirnya mereka menyelesaikan kegiatan itu.


Makan malam yang sedikit tegang itu kini telah mencair di ruang tengah karena candaan Nathan pada Aslan yang sedang belajar bahasa bahasa inggris.


“Bukan gitu pengucapannya, Lan. Seharusnya lidahnya masuk bukan keluar. Gini nih,” Nathan memberikan contoh yang membuat Aslan mengangguk - anggukan kepalanya.


“Papi, cerdas kaya, Mama. Mama, juga selalu bisa menyelesaikan PR bahasa inggrisku dengan baik.”

__ADS_1


“Aku ini, CEO. Kalau hanya bahasa inggris saja aku tidak mampu, untuk apa gelar CEO itu,” benak Nathan.


“Jika, Mamamu, cerdas. Kenapa, hanya kata ini saja, kamu sulit mengucapkannya?”


“Bukan sulit, Pih, hanya saja di sekolah yang sekarang bahasa inggris menjadi bahasa sehari - hari. Sedangkan, Aslan, di Jogja bahasa sehari - harinya ‘kan, bahasa jawa.”


Nathan mengangguk, Aslan bukannya tidak mampu hanya saja aksennya masih sedikit kaku. Karena memang anak ini tak terbiasa menggunakan bahasa inggris di lingkungan sekolahnya yang dulu.


“Apa, dia perlu les, Sayang?” tanya Nathan menekankan kata sayang agar kedua orang tuanya tak berpikir yang macam - macam tentang air mata menantunya yang mengalir karena dirinya.


Sedangkan sang papa sudah berdecak dan menatap tak suka padanya. Sedang sang ibu hanya merotasikan bola matanya, jengah dengan kelakuan anaknya sendiri.


“Aku rasa, tidak perlu, Mas. Aslan hanya perlu membiasakan diri saja, iya, ‘kan?” Sasi menatap sang anak dan tersenyum.


“Iya, Ma. Aslan akan buktikan, jika Aslan bisa seperti yang lain, dan tidak hanya pelajaran lainnya namun bahasa inggris juga akan mendapat nilai yang bagus di kenaikan kelas nanti.”


Sasi tersenyum senang. Ini lah anaknya yang pantang menyerah. Tak akan tertindas hanya karena ia tak sepadan dengan teman - temannya. Jika mengingat masa lalu, sifat Aslan ini mirip ayahnya yang pantang menyerah. Namun Sasi berharap, semoga sifat tamak dan semena - mena ayahnya, tidak menurun pada anaknya ini.


Tersadar hari mulai larut, Sasi meminta Aslan segera masuk kedalam kamar untuk beristirahat. Karena ia tak ingin sang anak melewatkan waktu subuhnya, apalagi sampai kewajiban itu tak tepat pada waktunya.


Walau Aslan termasuk anak yang cerdas namun Sasi tak pernah membebankan tentang nilai yang harus bagus atau semacamnya, karena baginya nilai bagus jika tidak diikuti dengan attitude dan iman yang baik semua itu tidak ada artinya. Itu juga merupakan pesan ayahnya dulu, dan hampir setiap hari Sasi mendengar ayahnya mengatakan itu padanya.


Dua paruh baya yang sedang sensitif dengan sang anak juga memilih untuk segera masuk ke kamar karena mereka juga butuh merilekskan pikiran serta tubuh mereka setelah tegang karena ulah anaknya itu.


Sedang Nathan yang melihat kedua orang tuanya pergi langsung menghela nafas lega. Ia sudah sangat takut jika ayahnya akan menanyakan hal - hal terkait tadi siang. Tapi sebelum senyumnya meredup dan berhasil menaiki tangga dengan sang istri suara mengerikan itu tiba - tiba sudah ada di belakangnya.


“Jangan naik dulu! Ikut, Papa, ke ruang baca.” Titahnya.


“Mampus!” gumam Nathan.


“Kenapa, Mas?” tanya Sasi yang mendengar gumaman sang suami.


“Tidak, Sayang. Aku ke ruang baca dulu, ya?"

__ADS_1


Sasi mengangguk dan melanjutkan langkahnya menuju ke kamarnya.


Nathan mulai merapalkan doa. Kini hukuman apa yang akan ia terima. Dia sudah pasrah, asal jangan menyuruhnya untuk bertugas ke luar Jakarta saja ia sudah syukur.


“Pah,” ucap Nathan di bibir pintu.


“Masuk, dan tutup rapat pintunya!”


Nathan membuka pintu dan masuk. Setelahnya ia menutup pintu dan memastikan jika pintu itu benar - benar tertutup rapat. Nathan mulai melangkah kembali dan mendekat hingga berdiri di hadapan papanya.


“Apa, yang terjadi?”


“Untuk apa, kau sampai membuat menantu kesayangan, Mamamu, menangis hingga sembab seperti itu? Ada apa?” teriak sang papa.


Nathan memejamkan matanya mendengar teriakan sang papa. Bahkan kini kedua telapak tangannya basah saking takutnya.


“Jawab!” serunya kembali.


“I… ini, ng… nggak…”


“Nggak, apa? Bicara yang jelas!”


Nathan kembali menelan salivanya hingga rasanya air ludah itu berubah menjadi jarum yang siap merobek tenggorokannya.


“Ha… hanya masalah kecil, Pah. Bukan seperti yang kalian duga, percaya Sakha. Ya?”


“Bagaimana, Papa, bisa percaya dengan pria tua labil, sepertimu!”


Nathan tahu jika tindakannya kali ini memang diluar batas, dan kini ia hanya bisa terdiam mendengar amukan sang papa. Mau bagaimana lagi, ketakutannya bukan tanpa alasan. Luka yang ditorehkan Diandra padanya sungguh membuat hidupnya berubah tidak seperti dulu lagi. Syndrome anxiety disorder yang di idapnya memang membuat dirinya tidak bisa lagi memiliki rasa percaya diri itu lagi. Bahkan kini rasa percaya dirinya sebagai laki - laki tidak bisa dibanggakan olehnya.


Bersambung…


Note:

__ADS_1


Syndrome Anxiety Disorder : Gangguan kesehatan mental yang ditandai dengan perasaan khawatir, cemas, atau takut yang cukup kuat untuk mengganggu aktivitas sehari-hari.


Contoh gangguan kecemasan yaitu serangan panik, gangguan obsesif-kompulsif, dan gangguan stres pascatrauma.


__ADS_2