MAHLIGAI KEDUA

MAHLIGAI KEDUA
Bab 24 - Menyandang Nama Suryabrata


__ADS_3

“Mas,” Sasi melepas mukenanya dan langsung menyambut sang suami.


Nathan yang masih berdiri di ambang pintu menatap Sasi sambil tersenyum menggoda. Dia berjalan pelan hingga berdiri tepat di hadapan Sasi dan langsung meraih pinggang ramping itu, mencium bibir Sasi dan merengkuhnya. Matanya mulai menyusuri setiap lekuk wajah sang istri hingga membuat Sasi merona.


“Ada apa, sih?” tanya Sasi malu - malu.


Nathan menggeleng kecil sambil menggiring sang istri ke tepi ranjang mereka.


“Apakah, mulai besok, kamu, mau membawakan makan siang untukku? Aku, akan sibuk mulai besok. Karena beberapa pertemuan dengan klien akan diadakan di kantor.”


Sasi menurunkan kepalanya tertunduk. Dia mulai berpikir, bagaimana jika nanti penampilannya akan membuat Nathan malu. Nathan yang paham akan ketakutan Sasi menarik dagu wanita itu menggunakan jari telunjuknya.


“Jangan takut. Semua hal yang kamu butuhkan sudah ada di lemari bukan. Aku hanya butuh kau datang dan membawakanku makan siang. Tidak perlu memakai make up berlebihan pakailah sesuai apa yang biasa kamu pakai dan kenakan.”


“Apa tidak apa - apa, Mas. Lalu, apa yang harus aku jawab jika mereka bertanya siapa aku?” tanya Sasi pada Nathan.


“Memangnya, kamu, siapa ku?” tanya Nathan sedikit kesal dan melepaskan tangannya yang sedang menggenggam tangan sang istri.


“Ya, a.. aku istrimu, Mas.”


Sasi kembali tertunduk melihat Nathan sedikit menekan kalimat yang terlontar barusan. Sasi hanya takut jika apa yang akan keluar dari mulutnya nanti justru akan membuat masalah bagi suaminya.


“Ya sudah. Katakan dengan lantang. Jika kamu is - tri - ku,” ujar Nathan sambil mengeja setiap suku katanya dan itu berhasil membuat senyum di ujung bibir Sasi mengembang.


“Baik, Mas. Aku akan lakukan sesuai perintahmu,” kata Sasi.

__ADS_1


Nathan meraih pundak Sasi kembali dan merengkuh tubuh kecil itu kedalam pelukannya. Dia usap surai yang diikat kecil di tengah hingga kecupan manis itu Nathan sarangkan di kepala sang istri. Di dalam hatinya ia mulai berjanji akan mencintai wanita ini setulus hatinya. Dia yakin lambat laun Sasi yang melakukan semua hal karena tanggung jawab akan berubah karena rasa cinta dan sayang padanya.


Nathan melepaskan rengkuhannya dan memandang kedua mata sang istri, “Ya sudah kita tidur, sudah cukup malam,” Sasi mengangguk dan langsung naik ke atas ranjang. Tanpa dimintai tolong Nathan langsung menarik selimut dan menyelimuti sang istri. Satu hal yang Nathan hafal, Sasi tidak bisa tidur jika tidak memakai selimut berbeda dengannya yang lebih suka tidur memeluk bantal guling tanpa mengenakan selimut.


***


Suasana dapur pagi ini cukup sibuk setelah tadi pagi - pagi sekali, Sasi mengatakan jika dia diminta Nathan untuk mengantarkan makan siang ke kantornya.


Sang nyonya besar yang sangat senang bahkan langsung meminta kepala pelayan kediaman itu untuk berbelanja dan memasak berbagai menu agar bisa dinikmati oleh asisten Nathan dan staf yang berada di bawah naungan CEO.


Sasi yang tak boleh melakukan apapun di dapur, kini tengah menikmati pijatan oleh terapis langganan nyonya Anggi serta perawatan wajah agar membuat Sasi terlihat lebih segar. Nathan yang mengabarkan jika meminta Sasi datang setelah meetingnya selesai, membuat nyonya Anggi langsung meminta mereka para ahli merias dan terapis melakukan keahliannya untuk membuat Sasi harus tampak lebih maksimal.


Sasi yang tidak bisa menolak hanya bisa menurut. Bahkan setelah ia mengatakan jika Nathan tidak memintanya berdandan berlebihan, nyonya Anggi tetap pada keinginannya. Bukan tanpa alasan nyonya Anggi melakukan itu semua. Dia hanya ingin Sasi tidak di anggap remeh atau yang lebih buruk adalah mendapat cemooh hanya karena Sasi tampil apa adanya.


Dia kini adalah menantu keluarga Suryabrata bukan lagi Sasi sang driver ojek online atau mantan menantu keluarga Mahardika.


Sang nyonya yang sangat bersemangat, mulai menghitung masakan mana saja yang sudah matang dan siap dikemas.


“Jangan lupa, nasinya, Ibu Rin!” teriak sang nyonya pada kepala pelayan.


Para maid yang membantu bahkan ikut tersenyum senang melihat sang nyonya yang biasanya lebih banyak diam atau menghabiskan waktu di ruang baca kini terlihat kembali enerjik setelah kedatangan Sasi di rumah itu.


“Nyonya muda memang sangat memberi dampak positif, ya, Bu Rin.”


Wanita yang bernama Rina itu hanya mengangguk dan ikut tersenyum. Dia adalah pembantu yang cukup lama bekerja dengan keluarga ini dan dia cukup tahu apapun yang telah terjadi selama bekerja di kediaman ini. Bahkan dia yang sedang liburan di kediaman sang anak, langsung dihubungi sang nyonya. Jika anak semata wayangnya akan menikah dan mendapat wanita yang sangat baik.

__ADS_1


Ibu Rina yang mendapat kabar itu cukup terkejut namun juga ikut bahagia, apalagi setelah kepulangannya beberapa hari lalu dan melihat bagaimana penampilan Sasi serta sikap wanita itu membuat ibu Rina sangat terkesan.


“Nyonya,” panggil seorang wanita cukup matang dari arah kanannya.


“Oh, ada apa, Sinta?”


“Sudah selesai. Nyonya muda sudah mandi dan sekarang sedang di rias,” ujarnya.


“Bagaimana menurutmu, menantuku itu?” tanya nyonya Anggi pada wanita yang memiliki selisih usia hampir 10 tahun di bawahnya.


“Dasarnya memang cantik dan dia cukup pintar merawat tubuhnya walau sudah memiliki anak satu. Tutur katanya santun sekali, itu yang saya suka.”


Nyonya Anggi mengangguk - anggukkan kepalanya. Dia sudah menebak bahwa akan banyak yang suka dengan menantunya itu. Apalagi setelah dirias dia yakin tidak akan yang mengenalinya sebagai Sasi sang driver ojek online melainkan istri Nathan Arsakha putra tuan Banu Suryabrata.


Nyonya Anggi bukan merendahkan pekerjaan Sasi sebelumnya. Namun, jika ingin membalas kelakuan keluarga Mahardika setelah Nathan menceritakan bagaimana kehidupan Sasi di keluarga itu membuat nyonya Anggi geram dan ingin membalas perilaku mereka.


“Ya sudah, Sin. Apa kamu akan langsung pulang?”


Wanita bernama Sinta itu mengangguk, “Pekerjaan saya sudah selesai. Jadi saya pamit sekarang saja, Nyonya.”


“Ya sudah. Hati - hati ya, pembayaran biar nanti Ibu Rin transfer seperti biasa.”


Wanita itu kembali mengangguk dan berlalu pergi menuju arah depan. Namun sebelum keluar dari pintu utama, wanita ini berhenti dan menatap kembali ke arah tangga.


“Aku seperti pernah bertemu. Tapi dimana, ya?” pikirnya sambil mencoba mengingat dimana ia pernah bertemu dengan Sasi.

__ADS_1


Tak ingin membuat kepalanya pusing. Wanita itu memilih segera beranjak karena ada beberapa jadwal yang harus dipenuhinya mengingat beberapa agendanya sedikit berantakan karena undangan mendadak nyonya besar Suryabrata.


__ADS_2