MAHLIGAI KEDUA

MAHLIGAI KEDUA
Bab 22 - Godaan Datang


__ADS_3

Sudah satu minggu Sasi dan Aslan berada di kediaman Suryabrata. Wanita yang dulu tidak pernah mendapatkan pelayanan walau dia seorang menantu. Kini disini dia perlakukan bagai ratu. Sasi cukup terkejut di hari pertama akan semua tindakan para maid dan semua bawahan sang ayah mertua yang selalu menunduk hormat jika dia sedang berjalan atau hanya duduk di ruang tengah yang sangat luas itu.


Aslan yang sudah mulai bersekolah disekolah yang baru juga sudah mulai terbiasa dengan kemewahan yang ada di kediaman ini. Bahkan mobil untuk antar jemput Aslan ke sekolah pun nyonya Anggi belikan khusus atas nama ibunya.


Pagi ini seperti biasa Sasi sedang membantu para maid di dapur untuk menyiapkan sarapan untuk Nathan. Sang suami yang hanya ingin dilayani oleh sang istri meminta semua keperluannya hanya sang istri saja yang boleh melakukannya.


Sasi yang mendapat mandat seperti itu dari Nathan sungguh senang bukan kepalang. Baginya melayani sang suami adalah wajib hukumnya. Dan ternyata nyonya Anggi juga melakukan itu kepada suaminya. Walau sudah ada banyak maid di dapur namun untuk urusan sarapan, vitamin dan lain - lain. Nyonya Anggi melakukannya dengan tangannya sendiri.


Bagai ibu dan anak, kini mertua dan menantu itu sedang asyik di dapur sambil melihat resep makanan lewat internet. Keduanya bahkan terlihat cekikikan membuat para maid yang ada disana ikut menahan tawa mereka.


“Kira - kira kalau bikin ini, masih ada bahan nggak ya,” ujar sang ibu mertua.


“Ini gampang kok, Ma. Nanti pakai resep yang biasa Sasi pakai saja,” timpalnya.


Sang ibu mertua yang mengetahui kehebatan Sasi memasak dan membuat kue tak ragu lagi akan kecekatan tangan wanita itu. Sungguh dia sangat beruntung mendapatkan menantu yang satu frekuensi dengannya.


“Sayang,” panggil Nathan sedikit keras.


Kedau wanita yang tengah asyik itu menghentikan pekerjaan mereka dan menoleh ke sumber suara.


“Astaga, aku cari - cari ternyata disini!” seru Nathan kesal. Dia yang mengira Sasi berada di kamar langsung menuju lantai atas sesampainya di rumah.


“Kamu kok, sudah pulang?” tanya sang ibu sambil melihat jam dinding yang masih menunjukan pukul 2 siang.


“Aku hanya menandatangani beberapa berkas saja dan meninjau proyek sebentar,” jawab Nathan sambil berjalan mendekat ke arash sang istri.


“Apa wanita tua ini selalu menyuruhmu di dapur seperti ini setiap hari?” kelakar Nathan membuat sang ibu langsung memukul punggung lebar itu keras.


Sasi yang mendengar kata - kata Nathan seketika menahan tawanya, “Apa sih, Mas.”


“Kamu kalau pulang dan hanya mau cari masalah sama Mama, mending pergi lagi sana. Biasanya juga kalau belum jam 9 malam belum nongol tuh batang hidung!” kesal sang ibu.


Nathan yang tak memperdulikan ucapan sang ibu langsung mengajak Sasi menjauh dari mertuanya.

__ADS_1


“Loh - loh, Mas!”


“Hei, dasar anak kurang ajar!” seru sang ibu yang melihat Sasi ditarik paksa oleh sang anak.


“Mas aku lagi mau coba resep, sama Mama. Aduh jangan tarik - tarik.”


Nathan yang tak memperdulikan rengekan dan teriakan sang ibu tetap pada pedomannya untuk mengajak Sasi ke kamar mereka.


“Anak siapa, sih!” geram sang ibu yang tak lagi melihat kedua suami istri yang sudah menghilang di balik dinding.


Bruk


Sasi yang dihempaskan begitu saja di ranjang sedikit terkejut. Tanpa aba - aba Nathan langsung menubruk tubuh kecil itu dan memeluk Sasi merengkuh pinggang dan meletakkan kepalanya di pa*ha sang istri.


“Aku merindukanmu,” ucap Nathan lirih sambil mengencangkan rengkuhannya.


“Ada apa?” tanya Sasi.


Sasi membenarkan posisinya dan duduk sambil berselonjor kaki. Perlahan dia mengusap kepala Nathan hingga laki - laki itu memejamkan matanya.


“Apa pekerjaan Mas, melelahkan?” Kembali Nathan menggelengkan kepalanya.


“Aku hanya merindukanmu. Karena pekerjaanku telah selesai makanya aku pulang,” jawabnya.


“Mas sudah makan siang?” Nathan mengangguk.


“Ya sudah, tidur sini. Jangan begini nanti sesak dadanya, Mas.”


Nathan bangun dari posisi tengkurap dan duduk bersila menatap Sasi, “Jika selamanya aku tidak bisa memberikanmu anak, apa kau akan meninggalkanku?”


Sasi mengernyit mendengar kata - kata itu. Selama menikah kurang lebih 8 hari ini Nathan tak pernah lagi membahas masalah anak dengannya. Lalu, ada apa ini?


“Mas, kenapa? Ujug - ujug ngomong seperti itu,” pungkas Sasi.

__ADS_1


“Tidak. Aku hanya memastikan jika kau tidak akan meninggalkanku.”


“Sepertinya,” batin Nathan.


Nathan pun menatap Sasi dan mengingat kejadian di kantornya sebelum dia memutuskan untuk pulang. Tadi saat Nathan memutuskan akan keluar kantor mantan tunangannya yang sudah cukup lama tak bersua dengannya datang untuk berbicara padanya. Nathan yang tak ingin terjadi keributan akhirnya membawa wanita yang pernah singgah di hatinya dan hampir saja menikah dengannya itu masuk kedalam ruang tunggu khusus CEO.


Nathan yang memiliki agenda lain meminta sang mantan segera mengatakan apa keinginannya. Setelah memberikan wanita itu waktu Nathan cukup terkejut saat wanita itu mengatakan.


“Terima aku lagi Sakha, aku tidak bahagia bersama laki - laki itu. Benar adanya jika dia bisa memberikanku seorang anak dan cucu untuk keluargaku. Namun dia selalu kasar padaku, bantu aku bercerai Sakha, dan bisakah setelah itu, kita kembali seperti dulu?”


Nathan yang kesal atas ungkapan wanita itu langsung pergi begitu saja. Tanpa mengatakan iya atau tidak Nathan langsung keluar dari perusahaan dan membelokkan setir mobilnya menuju ke rumah. Bahkan sang asisten yang terus memanggilnya tak dihiraukannya. Rasa kesal dan kalut menyelimuti hatinya. Tak ingin goyah ia memilih segera bertemu sang istri agar pikirannya kembali jernih.


“Mas?” panggil Sasi yang melihat Nathan melamun dan tak mengindahkan panggilannya.


“Tidak apa - apa, Sayang. Hanya ada sedikit masalah tapi sudah aku selesaikan dengan baik,” jawabnya.


Sasi menghela nafasnya. Dia yakin jika pria dihadapannya ini sedang menutupi sesuatu darinya, Tak ingin ambil pusing Sasi lebih memilih membantu Nathan melepas jas serta dasi yang masih terikat rapi di lehernya.


“Mas istirahat saja. Setelah ini Aslan pulang, aku akan turun ke bawah sebentar.”


Sasi pun beranjak dari kamar dan berjalan menuju pintu. Sebelum tangannya berhasil memegang handle pintu Nathan lebih dulu menarik tangannya.


“Sayang.”


Sasi menoleh dan menatap kedua mata sang suami, “Ada apa?”


“Berikan aku ciuman dulu!” Titahnya.


Sasi menghela nafasnya. Namun dia tetap mendekat dan mencium pipi Nathan.


“Kok disitu?” ucap Nathan tak suka.


“Lalu, dimana?” Tanpa menjawab pertanyaan Sasi. Nathan langsung melu*mat bibir sang istri dan menekan tekuk Sasi agar dia bisa menjelajah semakin dalam. Sasi yang pasrah mengikuti saja alur yang dibuat sang suami. Saling bertukar saliva membuat Nathan merasakan bahwa kini memang hanya ada Sasi di hati dan kehidupannya. Dia tidak akan membiarkan siapapun menggoyahkan hatinya apalagi menggoyahkan hati sang istri dia tidak akan membiarkannya.

__ADS_1


__ADS_2