
Tuan Yusuf terus memijat keningnya. Ia tak habis pikir kenapa menantunya bisa menjadi menantu keluarga Suryabrata yang jelas - jelas levelnya jauh diatasnya. Rasa marah dan kecewa karena tak bisa merebut Aslan cucu laki - lakinya dari tangan sang mantan menantu membuatnya sangat marah. Bahkan Galih yang datang untuk memberitahunya masalah pekerjaan langsung diusirnya karena terlalu berbelit - belit dalam berbicara.
“Sial, kenapa bisa begini!”
“Wanita miskin itu sungguh beruntung. Dulu berhasil mendapatkan, Galih, dan sekarang mendapat mangsa lebih besar lagi. Aku sungguh meremehkannya selama ini. Harusnya dari awal dia mengirim pengacara untuk kasusnya dengan Galih, aku seharusnya segera mencari tahu.”
Tuan Yusuf berbicara pada dirinya sendiri sambil terus memijat keningnya yang mulai terasa nyeri.
Tak ingin melalui ini sendiri, ia memilih meninggalkan pekerjaanya untuk segera pulang ke rumah dan memberitahu istrinya tentang hal ini. Dia berharap sang istri bisa memberinya ide untuk melakukan langkah selanjutnya. Jika mengharapkan Galih semua ini tak akan selesai karena istri keduanya itu tak mudah untuk diajak kerjasama apalagi menyangkut Sasi dan anaknya. Wanita itu pasti akan menentangnya.
***
Di Kediaman Suryabrata. Nyonya Anggi sedang menjamu para tamunya. Para ibu - ibu sosialita itu sedang mengobrol ringan sambil menikmati teh bunga rosella yang di pesan khusus dari luar negeri oleh sang nyonya rumah. Namun di sana, tampak seseorang yang tak pernah ikut dalam gerombolan ini sedang ikut tertawa dan membuat nyonya Anggi ingin sekali melempar wanita itu keluar dari rumahnya. Dia sungguh sangat tidak suka ketika wanita itu mengunggulkan menantu yang ia katakan adalah satu - satunya.
Padahal dengan jelas, nyonya itu memiliki dua menantu yang satunya ditelantarkan begitu saja.
“Maaf, Ibu Lusi, sejak kapan, Nyonya Mahardika ini, ikut grup ini?” bisiknya di sela - sela obrolan.
Wanita baya yang bernama Lusi itu menghentikan berdehem dan mendekatkan wajahnya kepada nyonya Anggi.
“Sudah dari dua minggu lalu, Nyonya Mahardika ini ikut rombongan kita diajak sama, Jeng Nina.” Jawabnya juga setengah berbisik.
“Dia cukup mendominasi, ya?” Wanita bernama, Lusi, itu mengangguk setuju.
“Maaf, ya, Ibu - Ibu, dari tadi saya sibuk menceritakan menantu saya. Oh ya, saya dengar, Nak Sakha, juga baru saja menikah? Apa dia kembali pada mantan tunangannya itu, Jeng Anggi?”
“Jeng? Sok akrab sekali, cih!”
__ADS_1
Nyonya Anggi membatin sambil meneguk teh yang ada di tangannya itu perlahan. Ia letakkan gelasnya dan mulai menunjukkan taringnya.
“Iya, Alhamdulillah. Istri, Sakha, cantik sekali, baik, dan sangat santun. Tapi maaf, di keluarga kami tidak ada yang namanya CLBK.” Ujar nyonya Anggi memberi klu bahwa tak ada ceritanya Sakha kembali pada wanita yang sudah membuat anaknya sakit mental. Dia sengaja mengatakan hal ini. Karena di barisan ibu - ibu ini ada salah satu keluarga Subianto, keluarga Diandra.
“Maksud, Anda?” tanya Nyonya Mahardika.
“Istri, Sakha, orang lain bukan mantan tunangannya itu.”
“Wah, kalau, Nyonya Anggi, mengatakan itu, pasti menantunya benar - benar istimewa.” Celetuk yang lain.
“Tentu, apa kalian ingin dikenalkan dengannya?”
“Boleh dong, Jeng!” Seru mereka bersamaan.
“Memang seperti apa, menantu keluarga ini. Aku yakin masih kalah cantik dengan Ranti, jika saja ia masih bisa memberiku keturunan, aku akan menyanjungnya setinggi langit.”
Wanita istri tuan Yusuf itu bergumam dalam benaknya. Dia cukup tegang melihat siapa menantu keluarga ini. Karena ia dengar pernikahan Sakha sengaja disembunyikan, dan ia pastikan jika menantu keluarga ini pasti orang miskin. Karena jika orang kaya, tidak mungkin disembunyikan, itu juga merupakan pengalamannya.
Nyonya Anggi meninggalkan para tamunya itu untuk meminta izin memanggil menantunya dikamarnya.
Tok tok
Klek
“Mam, ada apa?”
“Turun, yuk!”
__ADS_1
Sasi mengernyit mendengar permintaan sang ibu mertua. “Tapi kan, masih ada tamu - tamu, Mama. Sasi, takut bikin, Mama, malu.”
Nyonya Anggi menghela nafas. Ia juga tak tahu keputusannya mengenalkan Sasi pada teman - temannya ini salah atau benar. Tapi jika terus - terusan mengurung Sasi hanya karena keluarga Mahardika sepertinya itu tidak cukup adil untuk menantunya ini.
“Di bawah, ada mantan mertua kamu.” Sasi membulatkan kedua matanya, terkejut.
“Lalu?”
“Sekarang, Mama, yakin sudah saatnya kamu memperlihatkan jati diri kamu yang baru sebagai menantu keluarga ini.”
“Ta- Tapi, Ma…”
“Gantilah baju dengan gamis yang sedikit formal, pakai make up natural saja.”
Nyonya Anggi melenggang pergi meninggalkan Sasi dengan degup jantungnya yang cukup membuatnya tergeletak di lantai saking kencangnya.
“Ma,” panggil Sasi sebelum nyonya Anggi berhasil menuruni anak tangga.
“Mama, yakin?” Nyonya Anggi mengangguk.
“Cepat, ya?” Sasi mengangguk ragu.
Nyonya Anggi menghembuskan nafasnya kasar, dia memegang pundak Sasi dan berkata, “Mama, juga tidak yakin. Mungkin…. Sakha, akan marah. Tapi, Mama, yakin kamu bisa.”
Sasi mengangguk ia tak mungkin menolak hal ini. Jika tidak sekarang, nanti semua orang juga akan tahu siapa istri seorang Sakha yang notabene adalah mantan menantu keluarga Mahardika yang dibuang.
Sasi membalikkan tubuhnya dan masuk kedalam kamar untuk mengganti bajunya. Sedang nyonya Anggi kembali turun kebawah untuk mengatakan jika menantunya akan segera turun untuk menyapa mereka.
__ADS_1
“Wah, sepertinya menantu, Jeng Anggi, ini spesial, ya. Sampai mertuanya sendiri lo yang memanggil.”
Nyonya Anggi hanya tersenyum seadanya, jantungnya sedang berpacu, ia cukup gugup tidak tahu akan terjadi apa setelah ini. Walau ia menjadi istri dari pria yang cukup berkuasa daripada suami teman - temannya ini. Tapi bagaimanapun keadaan ini tak bisa diremehkan.