
Malam di kediaman Suryabrata kini sangat ramai dengan kehadiran Aslan dan Sasi disana. Sudah satu minggu ini tuan Suryabrata selalu berada di rumah sebelum sore menjelang. Terkadang jika dia sempat dia akan menjemput Aslan di sekolah anak itu dan mengajak bocah 9 tahun itu berkeliling kota Jakarta sebelum akhirnya kembali ke rumah. Namun, karena hari ini pekerjaannya cukup menguras tenaga dia baru saja pulang satu jam lalu.
“Tumben Papa larut pulangnya,” ujar sang anak semata wayang yang baru saja turun dari kamarnya dengan wajah segar, sesegar buah yang baru dipetik.
“Kamu juga, tumben. Biasanya kalau belum jam 12 malam belum dirumah dan apa itu sumringah sekali. Cih!”
Nathan hanya bisa menggaruk tengkuknya. Selama ini harinya hanya ia gunakan untuk bekerja dan bekerja. Namun, setelah menikah dia selalu pulang lebih awal untuk mengurung istri tercintanya itu di kamar seperti yang dilakukannya hari ini.
“Ajak istrimu itu jalan - jalan. Jangan mengurungnya terus. Jangan samakan dia dengan burung peliharaan Ayah!” sarkasanya.
Sang ibu hanya bisa mengulum senyum mendengar percakapan kedua laki - laki kesayangannya itu. Setiap hari kondisi ini lah yang membuat sang ibu tidak bisa jauh dari keduanya. Bahkan kala Nathan memutuskan membantu Patra membenahi keuangan rumah sakitnya dan menjalani terapi di Kota Pelajar, membuat sang ibu yang biasanya hanya dua hingga tiga kali setahun kesana membuatnya sering bolak - balik hingga membuat sang suami uring - uringan.
Sang ibu yang tahu Nathan hanya menyewa rumah yang sangat sederhana juga membuatnya sempat kesal. Namun karena sang anak ingin menjadi Nathan, bukan Sakha sang pemilik kerajaan bisnis Suryabrata. Membuat sang ibu akhirnya mengalah dan membiarkan Nathan melakukan semua yang dia inginkan. Tapi jika mengingat kini Sasi ada disini, nyonya Anggi sungguh berterima kasih pada Patra karena meminta bantuan sang anak untuk menangani kondisi rumah sakitnya.
Obrolan mengalun riang di antara semua yang ada disana. Bahkan para pengawal yang masih standby disana mengulum senyum kala Aslan mengalahkan tuan Banu dalam bermain catur.
“Astaga, kenapa aku bisa kalah!” serunya.
Nathan dan sang ibu langsung terbahak mendengar sang ayah yang cukup jago bermain catur kalah dengan Aslan.
“Dia memang jago, Pah. Anak - anak disana selepas mengaji selalu diberi permainan yang membangun kecerdasan dan fokus mereka termasuk bermain catur. Tapi tidak hanya catur sih, apa lagi, Sayang?” tanya sang ibu.
“Kami juga diajarkan memanah, Eyang dan berlatih dua kali dalam seminggu, gantian,” jawab Aslan.
“Memang seberapa besar masjidnya. Kok bisa di pakai buat latihan memanah?” tanya tuan Banu.
“Di lapangan, Pah. Bukan di masjidnya. Disana, desa tempat kami tinggal ada orang cukup tersohor yang memberikan anak - anak sarana itu. Kalau tidak salah dia anggota Dewan,” timpal Sasi.
“Anggota Dewan?” Sasi mengangguk.
__ADS_1
“Masih muda sih, belum punya istri juga kalau nggak salah.”
Nathan yang mendengar Sasi membicarakan pria lain langsung memeluk pundak sang istri dan meremasnya.
“Apa?” ucap Sasi namun tak bersuara.
“Apa harus membicarakan pria asing. Ketika ada aku disini,” geram Nathan.
Sasi tertunduk sambil menyembunyikan senyumnya agar tak meledak. Sedangkan sang ayah yang mendengar dengan jelas kata - kata anaknya karena ia duduk tepat di samping perjakanya itu. Menggelengkan kepalanya dan berdecak.
“Bucin! Sok jadi anak muda, padahal tua,” cibir sang ayah.
“Mulai deh!” Seru sang istri yang melihat tatapan meremehkan suaminya pada sang anak.
Aslan yang tidak mengerti hanya plonga- plongo sambil menatap para orang dewasa itu.
Malam kian larut, Aslan yang sudah mengantuk karena lelah memilih untuk tidur lebih dulu karena jadwal sekolahnya disini tidak sama dengan di Jogja. Jika di kota pelajar Aslan hanya akan belajar hingga pukul 12.30 siang. Disini dia harus belajar hingga pukul 3.30 sore, atau biasa dibilang fullday.
“Apa yang, Papa, lihat?” tanya sang anak yang baru saja duduk di hadapan pria paruh baya itu.
“Apa ini!” tegasnya, sambil melempar tab yang ada di tangannya itu ke hadapan sang anak.
Nathan yang terkejut langsung mengambil tab itu dan melihat apa yang ada didalamnya. Nathan yang paham akan semua tindak tanduknya yang tak mungkin lepas dari pengawasan sang ayah hanya bisa menghela nafasnya.
“Dia datang tanpa sepengetahuanku, Pah.”
“Kau tahu, bagaimana keluarganya membatalkan pernikahan mu tanpa memperdulikan rasa sakit hati, wanita yang sudah melahirkanmu!” tegasnya.
“Aku tahu, Pah.”
__ADS_1
“Jangan lemah, Sakha. Papa tahu bagaimana kau sangat mencintai wanita itu. Tapi Papa harap, kau paham bagaimana statusmu sekarang.”
Nathan hanya bisa tertunduk. Disisi lain wanita yang sangat dia cinta dulu dan sekarang ada wanita yang harus dia jaga hati dan tubuhnya. Bukan tak bisa melupakan. Namun terlalu banyak kenangan yang sudah mereka lalui.
“Papa tidak mau dengar alasan apapun dari mulutmu. Jangan sampai Mama tahu kedatangan wanita licik itu. Papa tidak mau berhubungan dengan keluarga arogan seperti itu!”
“Maaf, Pah.”
Nathan hanya bisa tertunduk pasrah. Dia tahu tak sepantasnya hatinya goyah hanya karena air mata wanita itu. Karena kini ada wanita yang akan setia padanya seumur hidup dan sangat menyayanginya bahkan semua keinginan Nathan selalu dipenuhi dengan baik oleh Sasi. Bahkan selama disini Sasi lebih banyak mengurusnya daripada mengurus anaknya sendiri.
“Ingat Sakha. Tidak mudah mendapatkan wanita yang tepat, jika kau hanya menginginkan wanita karena rupa dan kekayaan tinggalkan Sasi, sebelum kau melukai hati polosnya itu.”
Nathan mendongak menatap tajam sang ayah. Dia tidak mengira jika sang ayah akan mengatakan itu padanya.
“Maaf, Pah. Apapun yang terjadi aku tidak akan pernah melepaskan Sasi apapun kondisinya!” Jawabnya penuh penekanan.
“Bagus, jangan kecewakan Papa. Hanya karena hal yang tak pantas kau ratapi.”
Tuan Banu berdiri dari duduknya dan berjalan keluar dari ruangannya tanpa memperdulikan Nathan yang mungkin kesal akan ucapannya.
Nathan kembali duduk dan menengadahkan kepalanya melihat langit - langit ruang kerja sang ayah.
“Awalnya hanya ingin memperlihatkan jika aku juga bisa menikah dengan segala kekuranganku, tapi nyatanya wanita itu mampu membuatku berdebar. Apalagi setelah aku tahu wanita itu pernah berjasa dalam hidupku. Jika Papa mengira aku lebih memilih Diandra, Papa salah.” Ungkap Nathan.
Tak ingin terus berlarut memikirkan masalah yang seharusnya dia kubur dalam - dalam. Nathan beranjak dan keluar menuju ke kamarnya.
Klek
Pemandangan yang selalu membuat Nathan berdesir yang tak pernah dia dapatkan dari Diandra dulu.
__ADS_1
“Mas,” Sasi melepas mukenanya dan langsung menyambut sang suami.