MAHLIGAI KEDUA

MAHLIGAI KEDUA
Bab 31 - Kabut


__ADS_3

Hari - hari ini kini dilalui Sasi dengan penuh kegiatan bersama dengan ibu mertuanya. Bagai ketiban durian runtuh dulu dia yang bukan siapa - siapa kini menjadi nyonya muda Suryabrata. Walaupun keluarga itu belum mengumumkan pernikahan antara Sasi dan Nathan. Namun, desas - desus kabar yang berhembus sudah hampir ke semua kolega jika seorang Nathan Arsakha sudah tidak lagi sendiri.


Para kolega bisnis sang ayah bahkan sampai ada yang menyesalkan tentang berita itu jika benar adanya. Dia yang berkeinginan menjodohkan anaknya dengan Nathan pun harus menelan pil pahit jika keinginannya berbesan dengan keluarga yang cukup berpengaruh itu harus gugur bagai bunga yang belum mekar.


Nathan yang sudah mulai menjalani rutinitasnya sebagai CEO setelah hampir satu tahun vacum, kini sedang berada di pulau dewata untuk meninjau pembangunan sebuah gedung untuk Mall yang rencananya akan diresmikan 3 bulan mendatang. Bekerja sama dengan arsitek lokal, Nathan yang sangat piawai di bidang ini cukup antusias akan proyek tersebut. Tidak itu saja, pembangunan sebuah resort di kota lombok NTB juga menjadi agenda perjalanannya.


Dua minggu kedepan. Dia yang tidak akan bertemu dengan sang istri memilih selalu pulang ke hotel tidak lebih dari pukul 5 sore. Sasi yang tadinya akan di ajak akhirnya batal karena sang ibu yang tidak memperbolehkannya. Alasan yang sang ibu kemukaan cukup membuat Nathan menurut dan tak lagi merengek.


Pagi ini Nathan yang baru saja selesai sholat subuh tengah menghubungi sang istri namun sudah ketiga kalinya dia masih tak mendapatkan jawaban dari sang kekasih hati.


“Kemana, ya? Biasanya langsung diangkat.”


Nathan terus bergumam sambil mengetuk - ngetuk layar ponselnya berharap sang istri segera mengangkat telepon darinya.


“Aduh, kemana sih! Tahu begini kemarin ikut saja, ‘kan? Jadi aku tidak perlu serindu ini padanya.”


Setelah panggilan terakhir masih tidak diangkat Nathan mencoba menghubungi ayahnya.


Tut.. tut..


“.....”


“Waalaikumsalam, Pah. Dimana istriku?” tanya Nathan. Sang ayah yang sedang memberi makan burung kakaktua miliknya hanya bisa mendengus.


“.....”


“Ha! Kok bisa?”


“.....”


“Kenapa, Papa tidak langsung belikan yang baru?” Sang papa yang mengoceh dengan nada kesal membuat Nathan menjauhkan ponsel berlogo apel digigit itu dari telinganya.

__ADS_1


“Iya, iya. Tolong ya, Papa, sayang. Belikan istriku ponsel baru, oke!”


Nathan berkata dengan sedikit nada merayu kepada sang ayah. Sang ayah yang berada di seberang sana hanya bisa mencebik kesal.


“Baik. Sakha, tutup dulu teleponnya. Assalamualaikum.”


“.....”


“Ponselnya jatuh di tangga. Sepertinya Sasi tidak pernah teledor seperti itu,” gumam Nathan sambil memikirkan tentang sang istri yang tengah jauh darinya.


“Nanti sajalah, aku tanya ada apa.”


Sakha yang tidak ingin terlalu memikirkan sang istri yang tak bisa dijangkau saat ini memilih bergegas mandi dan memesan sarapan.


________


Jakarta


“Sas,” panggil sang ayah mertua.


Sasi menoleh,” Iya, Pah. Ada apa?”


“Ini ponsel baru. Nathan yang minta, Papa untuk memesankannya untukmu.”


Sasi meraih paper bag itu dengan senyum sumringah. Jika dulu ia harus menabung dahulu untuk membeli ponsel baru, kini tanpa dia minta ponsel baru dengan tipe lebih bagus sudah ada ditangannya, percuma.


“Terima kasih, Pah. Maaf, Sasi, sudah merepotkan.”


“Tidak, itu hanya ponsel. Kecuali kau minta planet, Papa tidak bisa berikan.”


Sasi mengulum senyum mendengar ucapan sang papa mertua yang sungguh membuatnya geleng kepala. Memang siapa yang akan meminta planet, orang terkaya di dunia sekalipun tidak mungkin bisa melakukannya, ‘kan? pikir Sasi.

__ADS_1


“Ya sudah, Papa, mau melanjutkan pekerjaan dulu.”


“Baik, Pah.”


Tuan Banu melangkahkan kakinya menuju ke ruang kerjanya. Dia yang sedang menggantikan sang anak mengurus perusahaannya di Jakarta memilih melakukannya semua hal di rumah. Baginya bolak - balik kantor jika hanya untuk membubuhkan tanda tangan atau menyetujui sesuatu bisa dilakukan dirumah. Karena dia lebih senang mendengar teriakan sang istri daripada harus berbasa - basi dengan para klien sang anak.


“Pah?” panggil sang istri yang masuk kedalam ruang kerjanya tanpa mengetuk pintu.


“Ada apa, Sayang? Kau mengagetkanku.”


“Aku mau bicara soal, Sasi.”


Tuan Banu yang mendengar nama sang menantu menarik kedua alisnya.


“Ada apa dengannya?”


“Sepertinya tadi pagi dia melihat sesuatu di ponselnya.”


Nyonya Anggi berkata sambil bercerita tentang sesuatu yang membuatnya janggal pada menantunya itu.


“Begitu, Pah. Sepertinya ada yang sedikit mengganggu pikirannya,” ujar sang nyonya menghentikan celotehnya.


“Ponselnya yang rusak tadi sudah, Papa, berikan pada Malik. Biar dia lihat siapa saja menghubungi menantumu itu. Bukan apa - apa, Papa, mendengar jika Diandra sudah bercerai dengan suaminya itu.”


Sang istri yang tengah fokus mendengar ucapan suaminya itu langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Kini, apa yang ditakutkannya benar - benar terjadi.


“Lalu, apa anakmu tahu?”


“Papa, rasa di belum tahu secara detail berita ini.”


“Apa yang harus kita lakukan sekarang, Pah?”

__ADS_1


“Kita lihat saja. Sejauh mana wanita itu akan berusaha meraih hati, Anakmu lagi. Kita lihat seberapa inginnya Sakha berjuang untuk istrinya itu. Karena yang, Papa, dengar keluarga Mahardika juga sedang mencari keberadaan menantumu untuk meminta Sasi agar menyetujui jika Aslan menjadi ahli waris keluarga itu.”


__ADS_2