
Suara riuh Aslan yang bertanya ini dan itu membuat seisi mobil mengulum senyumnya. Sasi yang memang sudah dari kecil hidup di Jakarta sudah terbiasa dengan bangunan megah yang selalu memanjakan kedua matanya. Acara jalan - jalan yang tadinya hanya Aslan dan kedua orang tuanya itu. Kini, menjadi ramai setelah tuan besar dan nyonya besar Suryabrata ikut dalam rombongan.
Agenda yang akan mereka lakukan hari ini adalah pergi ke salah satu mall yang cukup ternama di kota Jakarta. Nathan yang tadinya mengajak Sasi dan Nathan ke puncak harus batal karena prakiraan cuaca yang menunjukan bahwa di Bogor hari ini akan turun hujan yang cukup lebat.
Pada akhirnya mau tidak mau Nathan akhirnya mengiyakan permintaan Aslan yang ingin ke mall atas bujukan kedua eyangnya. Entah, apa maksud kedua orang tuanya itu memilih mall untuk menjadi salah satu tempat mereka menghabiskan waktu. Dengan berbekal penampilan ala - ala rakyat jelata namun tetap elegan membuat Sasi sang menantu sedikit mengerutkan keningnya melihat tampilan kedua mertuanya yang tidak seperti biasa.
“Hati - hati, Mah!” Seru Nathan yang melihat sang ibu sangat antusias dan berjalan masuk kedalam Mall dengan menggandeng tangan cucu sambungnya itu.
“Aslan, mau kemana?” tanya sang eyang.
“Emm… Eyang kakung, pernah ajak aku ke tempat bermain gitu, Eyang. Disana ada banyak permainan pokoknya,” ujar Aslan sambil terus melihat ke sekeliling mall yang megah itu.
“Dia itu mau sembilan tahun. Tapi kenapa tingkah kekanak - kanakannya tidak hilang.”
Sasi bergumam sambil memandang punggung Aslan yang sedang bersenda gurau dengan kedua eyang barunya itu.
“Kenapa?” tanya Nathan.
“Nggak, Mas. Hanya saja, Mama dan Papa terlalu memanjakan anak itu. Aku takut Aslan akan terlena dan akan mempengaruhi semua kebiasaannya, nanti.”
__ADS_1
Nathan mengusap pundak yang sedang ia rangkul itu. Dia tahu bagaimana Sasi mendidik Aslan selama ini. Tegas serta paham akan kemampuan diri itu sangat penting. Jangan berlebihan, sekalipun kita memang dalam kondisi lebih daripada orang lain. Tetap sederhana dan mawas diri. Ungkapan yang Sasi selalu gaungkan jika memberi wejangan kepada anak laki - lakinya itu.
Setelah berkeliling serta mencari sesuatu yang mungkin Sasi inginkan, ternyata wanita itu menolak semua hal yang suaminya tawarkan dan kini akhirnya mereka berhenti di tempat permainan di lantai 3 mall tersebut.
Sasi dan Nathan hanya menunggu di luar sedangkan kedua paruh baya itu masuk dan ikut bermain dengan sang cucu. Agenda yang seharusnya hanya ada Aslan dan kedua orang tuanya itu justru di rombak habis - habisan oleh kedua kakek nenek yang telah menginginkan cucu namun sang anak belum bisa memberikan untuk mereka dan beruntungnya, mereka mendapatkan mantu sepaket dengan cucu baru yang begitu cerdas dan sangat baik perangainya.
“Lalu, kita ngapain ini, Mas?” tanya Sasi.
“Kita ke lantai 4 saja. Kita cari makanan atau minum kopi?” tawar Nathan.
“Ya, sudah. Aku sedih peranku sudah tergantikan,” ujar Sasi sendu sambil menatap area permainan yang penuh dengan alat - alat permainan yang beraneka ragam itu.
“Mas, kita tadi datang kesini tidak memakai pengawal? Kenapa?”
“Apa kau tidak melihat Mama dan Papa yang hanya mengenakan kaos dan baju batik ala - ala orang tua pada umumnya?” Sasi mengangguk.
“Karena itu adalah cara mereka berjalan - jalan di tempat umum tanpa membuat diri mereka mencolok. Agar tetap aman dan bebas dari penglihatan orang - orang. Berbaur dengan semua kalangan membuat mereka sangat senang, Sayang. Lagian juga jarang - jarang mereka melakukan ini, kalau tidak salah ingat, terakhir satu tahun lalu saat ingin melakukan riset pada seluruh karyawan Mall. Untuk mencari seorang manajer baru.”
“Maksudnya? Manajer baru?” tanya Sasi yang tidak paham. Sasi pun juga tak menyadari jika Nathan mengatakan kata MALL.
__ADS_1
Sambil mencicipi latte yang ada di hadapannya, Nathan pun menceritakan kebiasaan ayah dan ibunya yang cukup membuat semua orang menggelengkan kepalanya. Cara mereka mencari orang kepercayaan serta mencari kepala - kepala bagian yang baru terkadang memang di luar kebiasaan para petinggi di sebuah perusahaan.
Dua paruh baya itu suka menyamar hanya ingin melihat ketulusan dari seseorang. Bukan itu saja banyak juga para karyawan dengan title tinggi berakhir dipecat hanya karena tidak memiliki standar attitude yang memadai sesuai keinginan mereka. Ketika mereka berpenampilan seperti biasa, mewah, elegan dan glamour membuat semua orang mendekat tanpa diminta itu merupakan hal biasa menurut mereka.
“Wah, mereka benar - benar melihat ketulusan bukan hanya di depan namun di belakang juga, pantas saja, Mama, mengucapkan hal itu saat pertama kali kita bertemu,” kata Sasi mengingat saat - saat mereka bertemu sebagai driver dan pelanggannya.
“Berkata, apa?” tanya Nathan.
Sasi menegakkan tubuhnya sambil mengatakah hal yang pernah wanita paruhbaya itu ucapkan padanya.
“Kenapa, kamu menunduk terus?” tanya si wanita.
“Maaf Bu, saya takut membuat Anda malu dengan penampilan lusuh saya.”
Wanita dengan tas jinjing berwarna coklat dengan logo H di depannya itu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
“Pekerjaanmu, halal?” Sasi mengangguk.
“Lalu, untuk apa kamu malu, kecuali kamu datang ke hotel ini untuk menjual diri dan tertangkap itu baru kamu malu.”
__ADS_1
Nathan yang mendengar kata - kata sang ibu yang di peragakan oleh Sasi seketika membuatnya terpingkal.