MAHLIGAI KEDUA

MAHLIGAI KEDUA
Bab 14 - Menanti Jawaban


__ADS_3

SATU HARI SEBELUMNYA


Nathan serta kedua orang tuanya datang bersama ke sebuah toko perhiasan untuk mencarikan cincin yang pas untuk melamar sang janda kembang, yang sedang bingung karena tidak ada kabar dari anaknya itu.


Sang suami yang biasanya tahu beres kini harus mengikuti keinginan sang istri saat tadi pagi setelah enak - enaknya dia menonton acara berita di salah satu stasiun televisi mendapati teriakan dari istri tercintanya.


Tuan Banu yang sedikit menyangsikan keputusan sang istri dan anaknya untuk meminang seorang janda yang baru mereka kenal itu, sedikit menyatakan ke tidak setujuannya. Sang istri yang meminta suaminya melihat dulu bagaimana Sasi yang sebenarnya, memohon agar tidak menilai wanita itu sebelum bertemu dan bertatap muka secara langsung.


Tuan Banu yang tidak biasa menilai orang hanya karena covernya saja akhirnya memutuskan ikut serta ke kota pelajar dan turut menyiapkan keperluan untuk lamaran itu. Dan bersiap bertemu langsung dengan wanita yang tak lain adalah ibu dari Aslan mantan menantu keluarga Mahardika. Namun tanpa mereka sangka saat memilih perhiasan mereka berjumpa dengan nyonya besar dan anak pertama tuan Mahardika.


TOKO PERHIASAN


Saat mereka sedang memilih cincin serta perhiasaan yang lain. Dari arah pintu masuk Galih dan sang ibu datang bersama.


“Mbak saya mau yang ini. Bisa lihat dulu.”


Sang pramuniaga itu mengangguk dan mengambil satu set cincin pasangan dan diperlihatkan kepada Nathan.


“Gimana Sakha. Bagus nggak?”


Saat Nathan atau Sakha ini sedang mencoba cincin itu ibu dari Galih menyapa sang mama.


“Loh. Nyonya Suryabrata? Ada disini?” sapanya sedikit terkejut bisa melihat dan bertemu nyonya besar yang jarang terekspos itu.


“Iya. Anda?” tanya nyonya Anggi mengingat dimana pernah bertemu dengan wanita yang lebih tua darinya itu.


“Saya istri sekaligus Nyonya besar Mahardika,” ujarnya jumawa.


Nathan yang sedang mencoba cincin itu seketika menoleh. Menatap wanita paruh baya yang mendendangkan nama besar dari mantan suami Sasi.


Sang ayah yang melihat wajah terkejut dari sang anak langsung menyenggol lengannya.


“Kenapa?” tanyanya.


“Dia mantan Suami. Wanita yang mau Mama lamar untukku,” papar Sakha.


Sang ayah mengerutkan dahinya. Jadi wanita itu mantan menantu keluarga Mahardika? Tapi yang mana? Apa yang dinikahi beberapa tahun lalu itu? pikir pria paruh baya itu dalam benaknya.


***

__ADS_1


KEDIAMAN SASI, YOGYAKARTA


Aslan yang melihat kebiasaan sang ibu yang mengusap hidung karena gugup bertanya - tanya dalam benaknya. Apakah sang ibu melakukan kesalahan sehingga menyinggung pria itu? Ketakutan yang tak beralasan menyelimuti hati kedua anak dan ibu itu.


“Ma!” panggil Aslan.


Sasi berusaha menguatkan hatinya. Dengan berat hati akhirnya Sasi memutuskan untuk menemui ketiga orang tersebut. Wanita berusia 31 tahun itu menggandeng lengan Aslan dan menyapa para tamunya.


“Se selamat pa pagi.”


Sasi yang takut sampai tergagap bahkan kini kedua tangannya gemetaran. Sedangkan Aslan menyiapkan hati dan mentalnya jika sang ibu akan mendapat perlakuan buruk atau semacamnya. Sepasang ibu dan anak yang cukup trauma dengan perilaku para orang kaya itu memilih berhati - hati agar tidak terkena masalah. Namun, apa ini?


“Selamat pagi, Sasi. Bagaimana kabarmu? Sudah satu minggu kita tidak bertemu kan?”


Sasi mengangguk dengan senyum seadanya. Sedangkan Nathan yang melihat ketegangan dari anak dan ibu ini mengulum senyumnya.


“Perkenalkan. Ini suami saya. Ayahnya Sakha.”


Tuan Banu mengulurkan tangannya dan disambut dengan takzim oleh Sasi. Tuan Banu yang melihat itu cukup terkesan dengan Sasi yang sederhana dan cukup menahan diri walau dia tahu ibu dan anak ini pasti sedang berpikir hal yang buruk.


“Kedatangan kami kesini untuk .. “


Aslan memegang tubuh sang ibu erat dan menatap wanita yang melahirkannya itu dengan sendu.


Nathan yang sudah menduga hal ini tak lagi bisa menahan tawanya yang akhirnya meledak.


Kedua orang tuanya, Sasi serta Aslan memandang aneh ke arah Nathan yang justru tertawa dalam situasi yang bagi mereka tidak ada hal yang lucu sama sekali.


“Kamu. Kenapa?” tanya sang ayah.


“Habisnya mereka lucu, Pah.”


Sang ibu yang kesal memukul Nathan menggunakan tas yang dibawanya, “Dasar nggak tahu diri!” sarkas sang ibu yang justru membuat Nathan semakin terbahak.


“Maafkan Sakha ya, Sasi. Terkadang memang dia menyebalkan dan semaunya sendiri.”


“Bukan kadang. Tapi memang selalu menyebalkan,” gerutu sang ayah.


Nyonya besar Suryabrata yang memiliki nama lengkap Anggita Salma Suryabrata itu menyenggol lengan sang suami agar tak membuka aib sang anak. Dia mengulurkan tangannya kepada Aslan dan disambut takut - takut oleh anak berusia hampir sembilan tahun itu

__ADS_1


“Sini dong, dekat Eyang.”


Aslan bangun dari duduknya dan mendekat ke arah wanita paruh baya itu.


“Kelas berapa sekarang?”


“Kelas 4.”


“Berapa usianya?” tanya tuan Banu yang tidak percaya jika Aslan kelas 4.


“Usianya hampir sembilan, Tuan.”


“Bukannya jika sembilan baru kelas 3 ya normalnya,” Nathan yang mendengar itu mengangguk.


“Aslan lompat kelas Eyang.”


Nathan serta sang ibu terkejut mendengar ucapan Aslan.


“Lo lompat kelas?” ujar tuan Banu terkejut.


“Iya Tuan. Aslan tidak dikelas dua dia langsung ke kelas 3. Tk juga Aslan hanya satu tahun saja,” ujar Sasi menjelaskan akan keterkejutan mereka tentang Aslan.


Dua paruh baya itu saling tatap. Astaga jika anaknya sepintar ini bagaimana dengan ibunya. Pikir mereka. Semoga saja kali ini sang anak tidak salah pilih. Bukannya menurut justru Aslan akan menolak dengan rumus matematika yang dikuasainya nanti. Sepertinya Nathan harus memiliki taktik jitu jika Sasi menolak lamaran ini karena Aslan tidak setuju.


“Em.. Aslan jika Om itu melamar Ibumu dan menjadi ayah sambung mu. Apakah kau bersedia?” tanya nyonya Anggi dengan segala keberanian yang dimilikinya.


Aslan yang diberikan pertanyaan yang cukup aneh menurutnya hanya bisa memandang sang ibu yang juga melihat ke arahnya.


“Maksud Eyang, Om Nathan mau Mama jadi istrinya, begitu?” tanya Aslan.


Nathan dan kedua paruh baya itu mengangguk sambil tersenyum lembut ke arah Aslan.


“Kalau begitu tanyakan pada Mama. Kenapa bertanya padaku,” ujar Aslan. Para orang tua itu pun mengulum senyum mereka mendengar ucapan Aslan yang memang benar adanya.


Nathan yang duduk sedikit jauh dari Sasi langsung mendekat dan mengambil tangan Sasi, “Jadi, apakah kau bersedia?” tanya Nathan pada Sasi.


Sasi yang masih merasa terkejut dengan semua hal ini merasa seperti sedang bermimpi. Satu bulan lalu pria didepannya ini menawarkan pernikahan karena mereka sedang mencari keuntungan satu sama lain. Tetapi sekarang, pria itu datang kembali dengan lamaran membawa serta kedua orang tuanya.


Apakah pernikahan yang akan ia jalani dengan Nathan bukan lagi karena saling menguntungkan tetapi karena serius ingin membangun biduk rumah tangga bersama?

__ADS_1


__ADS_2