MAHLIGAI KEDUA

MAHLIGAI KEDUA
Bab 25 - Kebiasaan Baru


__ADS_3

Pukul 13.00, seorang wanita dengan pakaian yang menutupi seluruh aurat lengkap dengan hijab yang menjuntai menutupi bagian depan serta belakang tubuhnya berjalan menaiki tangga menuju lobi sebuah perusahaan.


Gamis syar’i berwarna maroon serta sebuah tas kecil yang disampirkan di sisi lengan kananya membuat tampilannya sungguh memukau. Di sampingnya seorang pria dengan seragam supir kediaman Suryabrata berjalan mendampinginya sambil menenteng beberapa box makanan. Riasan di wajahnya yang tak terlalu tebal membuat kesan natural dan muda pada dirinya. Wanita yang dulu dari kalangan tak terlihat ini. Kini berubah menjelma bagai itik buruk rupa menjadi angsa putih yang cantik dan bersinar.


“Permisi, Mbak.”


Wanita dengan rok span, surai menjuntai hingga ke pinggang lurus bagai jarum itu menatap si wanita sambil mendelikkan kedua matanya, kagum.


“Iya, Nona. Ada yang bisa dibantu?” tanya sopan.


“Saya sudah memiliki janji dengan, Tuan Sakha. Apa saya bisa langsung ke lantainya saja?” tanya wanita itu.


Wanita dengan name tag, Putri itu mengernyit. Satu jam lalu memang ada telepon dari asisten sang CEO jika akan ada tamu terhormat yang mengunjungi CEO mereka. Namun, apa wanita dihadapannya ini?


“Maaf, saya bisa bertanya dulu ke staf, Pak Sakha, ya, Nona. Karena di jam ini, beliau juga ada tamu penting,” ujarnya panjang lebar membuat Sasi mengulum senyum.


“Baik, Mbak. Saya akan tunggu.”


Wanita itu mengangguk hormat dan menghubungi seseorang lewat sambungan telepon. Sedangkan supir keluarga Suryabrata yang melihat nyonya mudanya tak langsung mengatakan jika dia adalah istri tuan mudanya itu hanya bisa mengernyit heran dan ikut menunggu.


Tak lama setelah perbincangan sang petugas resepsionis selesai. Seorang pria nampak berlari sedikit terburu buru dari arah lift petinggi perusahaan.


“Maaf Nona. Tuan Sakha, sedang…”


“Sayang!” panggil seorang pria dengan jas warna hitam sambil tersenyum senang.


Sasi yang mendengar suara tak asing itu langsung menoleh dan tersenyum. Dia mengulurkan tangan menyambut suaminya yang datang sendiri setelah mendengar kabar jika istri tercintanya sudah tiba dan menunggu di lobi. Bahkan sang asisten yang kini tengah berdiri di depan para klien sang CEO hanya bisa tersenyum canggung karena atasannya itu pergi begitu saja.


Resepsionis bernama Putri itu pun seketika menelan salivanya dan menajamkan telinganya atas panggilan CEOnya itu kepada wanita di hadapannya ini.

__ADS_1


“Sayang?” Benaknya lagi masih dengan debaran jantung yang tak beraturan. “Astaga, hampir saja aku mengatakan jika, Pak Sakha, tidak bisa diganggu, aduh!” jeritnya dalam hati.


“Kenapa, tidak langsung naik saja, Pak Kadir!” tegas Nathan.


Pria paruh baya itu menunduk, “Maaf, Tuan. Nyonya tadi…”


“Sudah lah Mas. Aku hanya masuk sesuai prosedur kok. Sudah, ya.” Potong Sasi tak ingin sang suami memarahi sopir kediaman mertuanya itu.


“Kamu,” panggil Nathan pada gadis yang kini menundukkan kepalanya dalam - dalam.


“I iya, Tuan.”


“Hafalkan wajah istri saya baik - baik. Jika dia datang kapanpun, jangan menghalanginya. Sekalipun ada presiden di kantor saya. Dia tetap prioritas saya, kamu mengerti!”


“Baik, Tuan Sakha. Maafkan saya Nyonya,” ucapnya penuh penyesalan.


“Tidak apa - apa, Mbak. Saya juga baru kan datang kesini, maaf ya.” Ujar Sasi dengan senyum yang masih mengembang.


Pintu lift terbuka, Nathan dan Sasi keluar, berjalan bersama saling menempel satu sama lain. Senyum yang jarang Nathan perlihatkan kini terus mengembang sambil terus melirik ke arah sang istri yang nampak cantik dan sangat berkelas.


“Kamu bisa tunggu disini, ya, aku masih ada hal yang harus aku selesaikan.” Sasi mengangguk dan duduk di sofa ruangan sang suami yang sangat mewah dan cukup membuat jantung Sasi yang bergantian berdebar.


Nathan atau lebih dikenal dengan Sakha di perusahaan dan para kliennya itu. Kembali menuju ruang meeting yang tidak jauh dari ruangan pribadinya.


Klek


“Maaf.” Ucap Nathan kepada para tamu yang menunggu kedatangannya sambil terus berbisik.


“Bisa kita teruskan saja, agar cepat selesai.” Pinta Nathan yang mendapat anggukkan dari para kliennya.

__ADS_1


Wanita yang merupakan sekretaris Nathan kembali mengangkat tablet yang dipegangnya dan mulai meneruskan agenda meeting tersebut. Namun sebelum berhasil membuka suara salah satu klien Nathan yang penasaran akan tindakan yang tak bisa dilakukannya itu berujar.


“Maaf, Tuan Sakha. Hal penting apa yang membuat, Anda, kalang kabut seperti tadi, bukan apa - apa. Hanya saja hal seperti ini tidak pantas,” ujarnya mencibir.


Nathan menarik ujung bibir sebelah kanannya dan berkata. “Apa, sangat penting. Tuan Mahardika?” tanyanya.


Pria dengan kumis tipis dan rambut sedikit panjang itu membenahi duduknya. “Ya, seperti kita tahu. Anda, orang yang sangat perfeksionis. Aneh saja jika, Anda, melakukan hal diluar kebiasaan,” ujarnya lagi.


“Maaf, Tuan Galih. Sepertinya untuk seseorang yang tidak begitu mengenal dan baru kali ini ada dalam proyek bersama Suryabrata grup, Anda cukup mencari tahu tentang kebiasaan saya?”


Pria bernama Galih anak pertama keluarga Mahardika itu berdehem mencoba menghindari tatapan Nathan yang cukup membuatnya terintimidasi.


“Iya benar kata Tuan Sakha. Seharusnya Anda tidak perlu menanyakan hal pribadi seperti itu,” pungkas yang lain.


Galih yang mendapat tatapan tak nyaman dari para peserta rapat dengan tidak sopannya langsung menunjuk sekretaris Nathan menggunakan dagunya gar melanjutkan meeting. Walau terkesan arogan semua orang yang berada di sana sudah cukup hafal siapa Mahardika dan bagaimana perangainya.


Sekretaris Nathan pun melanjutkan meeting hingga 30 menit kemudian rapat dengan agenda pendanaan proyek itu selesai. Tanpa berpamitan secara menyeluruh, Nathan langsung keluar dari sana menuju keruangan dimana istrinya telah menunggu.


“Farid,” panggil seseorang yang berjalan dibelakang asisten sang pemilik perusahaan itu.


Dia menoleh dan menatap hormat pria yang memanggilnya, “Maaf, Pak Galih, ada apa?


“Aku dengar desas desus, Tuan Sakha telah kembali dengan mantan tunangannya itu dan akan menikah,” katanya.


Farid yang justru tak mendapat kabar apapun langsung mendekat ke arah Galih yang sudah terlalu jauh menyelidiki tentang atasannya.


“Saya rasa jika, Anda, masih ingin aman dan mendapat bagian dari proyek ini. Anda, bisa menutup mulut, Anda, mulai sekarang. Karena Tuan besar tidak suka dengan seorang yang mempunyai mulut murahan seperti ini!” tegas Farid membuat Galih menelan salivanya kelat.


Setelahnya, pria bernama Farid bergegas menuju ke ruangan CEO untuk menyerahkan hasil dari meeting yang dilaksanakan tadi. Dengan raut wajah kesal dia masuk ke dalam ruangan itu.

__ADS_1


“Dasar. Mentang - mentang sekarang jadi bagian Suryabrata jadi sombong!” kesal Galih pada Farid yang merupakan teman kuliahnya dahulu yang sudah menghilang di balik lorong.


__ADS_2