
***Flashback On
Beberapa hari sebelumnya***
Kediaman Mahardika
Perseteruan yang melibatkan mertua dan menantu itu membuat dua pria beda generasi ini ingin sekali membungkam mulut dua wanita yang sayangnya adalah istri - istri mereka.
“Mah, Ranti, sudah cukup!” Seru Galih.
“Tidak bisa, Mas. Jika kamu melakukan saran, Mama, berarti kau menyakitiku!” Teriak Ranti tak terima.
Tuan Yusuf yang sudah ingin membanting barang berdiri dari duduknya dan kembali bersuara.
“Jadi, apa kau punya saran, Ranti?”
“Pah!” Seru sang istri. Tuan yusuf mengangkat tangannya agar sang istri diam dan mendengarkan kata - kata Ranti.
Ranti menghela nafas dan mengatur udara di sekitarnya. Ia duduk kembali di sofa dan mulai tenang.
“Kenapa harus mengejar Sasi, kenapa kita tidak memprovokasi, Tuan Sakha, saja.”
Galih serta tuan Yusuf saling pandang. Mereka saling mengangguk. Ide Ranti cukup cemerlang. Jika bisa membuat Nathan menilai buruk Sasi semua pasti akan lebih mudah. Ia yakin wanita itu masih sama, lemah.
Flashback Off
Ruangan Nathan yang dingin kini berubah menjadi panas karena amarah yang tak bisa ia luapkan sembarangan. Dia hanya bisa berjanji dengan dirinya. Jika suatu saat ia akan merobek mulut pria di hadapannya ini jika masih berani menjelek - jelekan istrinya.
“Kalau begitu, saya permisi. Dan tolong berikan saya waktu untuk membicarakan masalah anak kami.” Pungkas Galih masih dengan senyum menyebalkannya.
__ADS_1
Nathan hanya bisa menghela nafas, sepertinya kali ini memang harus Sasi sendiri yang membungkam mulut laknat pria dan keluarga sombong itu.
“Ya, saya akan katakan pesan Anda.” Ujar Nathan masih dengan ekspresi pura - pura kesal.
Galih mengangkat tubuhnya dan mulai melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu. Setibanya di luar Galih berpapasan dengan Farid dan tersenyum smirk kepada teman satu fakultasnya itu. Sedang Farid yang tak tahu apa maksud dari senyum itu hanya bisa menunduk hormat dan membiarkan Galih berlalu, mungkin jika Farid tahu Galih telah menjelek - jelekan wanita yang selama ini ia kagumi itu ia tak akan melepaskan Galih dari ruangan itu tanpa bogeman darinya.
“Permisi, Tuan.”
Nathan mengangkat kepalanya dan mempersilahkan Farid masuk dan mengatakan urusannya.
“Hari ini Anda ada temu janji dengan, Tuan Ryan. Apakah, saya harus kembali membatalkannya?” Tanya Farid yang melihat wajah Nathan yang sedang bermuram durja itu.
“Tidak, jam berapa?”
“Setelah makan siang, Tuan.” Nathan mengangguk dan meminta Farid menyiapkan berkas yang harus mereka bawa. Tapi setelah kata - kata yang diucapkan selesai, Farid masih tak beranjak.
“Boleh, saya tahu. Apa yang, Tuan Mahardika bicarakan pada, Anda?”
Nathan seketika menghentikan pergerakan tangannya yang sedang memeriksa laporan yang ada di laptopnya.
“Dia hanya menanyakan kabar, Sasi dan anaknya.”
“Jadi, dia sudah tahu?” Nathan mengangguk.
Farid meremas kedua tangannya. Ia tahu betul Galih pasti akan melakukan segala cara untuk membuat Nathan meragukan wanita itu. Dia tahu betul bagaimana Galih dan keluarganya. Walau dia tak seakrab itu dengan Galih, namun setelah ia tahu perbuatan Galih terhadap Sasi. Farid banyak mencari tahu tentang Galih hingga ia menemukan fakta jika Sasi di usir karena Galih menyelingkuhinya hingga membuahkan sebuah janin di perut selingkuhannya.
“Apa dia mengatakan sesuatu tentang, Sasi?” Tanya farid hati - hati, takut jika Nathan akan salah paham padanya karena menanyakan perihal ini.
Nathan mengangguk, “Dia mengatakan banyak hal. Tapi kamu jangan khawatir aku lebih mengenal istriku daripada mantannya yang tak tahu diri itu. Jangan khawatirkan Sasi, dia akan aman selamanya bersamaku.”
__ADS_1
Farid tersenyum sumbang. Dia tahu apa yang ia harap tak mungkin terjadi.
“Sadarlah, kau memang tak pernah memiliki kesempatan!” Benak Farid.
Setelah pembicaraan itu selesai. Farid undur diri untuk mempersiapkan segala keperluan untuk bertemu Ryan sang petinggi Subrata grup.
______
Sore di kediaman Mahardika Ranti dan sang mertua sedang terlibat perbincangan mengenai Sasi yang bisa menjadi menantu keluarga Suryabrata. Mereka berdua cukup tak mengerti kenapa setelah beberapa tahun tak mendengar kabarnya kini tiba - tiba sebuah keberuntungan yang besar berpihak pada Sasi.
“Atau jangan - jangan, Tuan Sakha, juga yang mengurus perceraian, Sasi serta hak asuh mutlak atas, Aslan, Ma?”
“Yah, kalau itu sudah tak diragukan lagi. Itu sudah jelas. Tidak mungkin, Sasi, si miskin itu bisa melakukan dengan tangannya sendiri. Walau dia menjual diri sekalipun, tidak mungkin ia bisa melawan keluarga kita. Walau kita tak sekuat Suryabrata tapi kita cukup bisa menumbangkan seorang, Sasi.”
Ranti sang menantu mengangguk - anggukan kepalanya. Kini dia mulai mengingat sesuatu. “Jangan - jangan, wanita yang bertemu aku di mall waktu itu, adalah… astaga, jika benar, dari awal mungkin, Tuan muda Suryabrata itu sudah tahu tentang perangaiku. Ya ampun.” Benak Ranti.
“Dari awal keluarga itu sudah mengetahui segalanya, apa mungkin masih bisa mengecoh mereka dengan mengarang cerita buruk tentang, Sasi?”
Ranti tenggelam dalam asumsinya sendiri, sampai panggilan yang mertuanya serukan dari tadi tak di gubrisnya.
“Ran!” Pekik sang ibu mertua membuat Ranti sadar dari lamunannya.
“Iy- Iya, Ma. Kenapa?”
“Kamu ngelamunin apa, sih? Panggilan, Mama, sampai nggak didengar!” Kesal nyonya Kira.
“Nggak, Ma. Nggak ada apa - apa, kok.”
“Tapi bagaimanapun, aku harus tetap membuat, Aslan, tak menginjakan kakinya di kediaman ini lagi. Cukup waktu itu saja, sekarang aku tidak akan membiarkan bocah itu membuat kedudukan Dira terganggu. Aku harus cepat bertindak.” Benak Ranti sambil mendengarkan ibu mertuanya mengoceh.
__ADS_1