MAHLIGAI KEDUA

MAHLIGAI KEDUA
Bab 50 - Hasil yang Memuaskan


__ADS_3

Setelah berbincang sebentar dengan satpam yang membantu keduanya. Kini, Sasi dan Nathan menuju ke ruangan dokter umum sebelum ke dokter spesialis andrologi untuk memeriksa ulang tubuhnya.


Sepanjang perjalanan di koridor banyak pasang mata yang melihat ke arah keduanya. Para perawat pria dan wanita yang biasanya melihat Nathan datang sendiri kini tengah menggandeng seorang wanita berhijab yang tentu saja membuat mereka bertanya - tanya siapa gerangan wanita itu.


Selama ini mereka mengetahui jika pria itu sering datang bertemu dengan pemilik rumah sakit dan juga memeriksakan kondisi kesehatannya. Tapi kini mereka saling berbisik karena Nathan tak sendiri. Bahkan beberapa perawat wanita yang mengidolakannya terlihat seperti belum makan seminggu karena melihat hal ini.


“Kenapa, mereka melihat ke arah kita terus, Mas?”


“Mungkin, mereka terkejut. Karena selama ini aku selalu datang sendiri, terkadang dengan, Mama, jika prianya tak keberatan.”


Sasi mengulum senyum mendengar penuturan sang suami, yah memang mertua laki - lakinya itu tipe pria bucin dan takut istri. Namun, sayangnya anaknya juga sepertinya kini tengah mengikuti jejak ayahnya. Sasi merasakan itu.


Setelah berjalan menyusuri koridor sampailah mereka di sebuah ruangan bertuliskan Dr. Lintang.


Tok tok


Seorang wanita yang merupakan asisten sang dokter membuka pintu dan tersenyum cerah menyambut Nathan. Tapi setelah ia melirik bahwa tangan Nathan tengah menggenggam tangan seorang wanita dan lebih cantik darinya senyum itu seketika menghilang bagai diterpa ruang hampa udara.


“Hai, selamat pagi, Sobat.” Sapa sang dokter yang masih berkutat dengan laporan yang dipegangnya.


“Selamat pagi.” Jawab Nathan.


Nathan masuk tak lupa mengajak sang istri bersamanya. Ia menarik kursi di hadapan sang dokter agar Sasi duduk dengan nyaman.


“Siapa ini?”

__ADS_1


Nathan berdecak karena temannya memandang Sasi penuh dengan senyum menghiasi wajah tampannya.


“Dia, istriku!” tegas Nathan membuat sang asisten dokter mencelos.


“Iya - iya, aku tahu. Siapa yang bilang dia, kakakmu. Lalu, Nona, siapa namanya?” Sang dokter seketika kembali melihat wajah ayu yang lebih bisa memberinya vitamin daripada wajah sahabatnya yang menyebalkan itu. Ia heran banyak sekali gadis yang menyukai Nathan, padahal pria itu tak ada ramah - ramahnya sama sekali justru terkadang apa yang keluar dari mulutnya sungguh membuat orang ingin jumpalitan karena kesal.


“Namanya, Sasi, dan dia istri dari Nathan Arsakha, puas!”


Pria yang bernama Lintang Prayoga ini terkekeh mendengar sahabatnya kesal karena ulahnya.


“Puas, Tuan Sakha. Lalu, apa yang bisa saya bantu?”


“Kita ke intinya, Lintang!”


Lintang mengangguk dan meminta asistennya keluar terlebih dahulu.


Lintang melihat ke arah Nathan, seolah menanyakan dia yang menjawab atau Nathan.


“Pembicaraan ini selalu rahasia, Sayang. Sekalipun aku nanti kita ke Dokter Andrologi, semua yang ada di dalam harus keluar.”


Sasi tersenyum dan mengangguk mengerti. “ Ya sudah, silahkan lanjutkan, Dok.”


Lintang membuka laci dan mengambil hasil lab yang baru saja di antarkan oleh asisten dokter Andrologi kepadanya.


“Ini, hasilnya. Jika sesuai apa yang dikirimkan, Dokter Husein, malam tadi kepadaku, seharusnya kabar ini akan membuatmu kembali berharap.”

__ADS_1


Dokter Lintang mengulurkan tangannya dan menyerahkan hasil lab itu pada Nathan.


“Maksudmu, terapi hormon serta obat - obatan yang aku konsumsi, membuahkan hasil?” Dokter Lintang mengangguk dan tersenyum.


Nathan langsung membuka amplop besar itu dan membaca seluruh isinya dengan cermat. Dan disana ada tulisan dengan angka yang cukup membuat hatinya berdegup kencang.


“Naik?” Dokter Lintang mengangguk kembali meyakinkan apa yang Nathan lihat benar adanya.


Sedang Sasi yang tak mengerti karena baru kali ini ia diajak kemari hanya diam menyaksikan senyum yang tak luntur dari bibir suaminya sesaat membuka amplop tersebut.


“Di dunia ini, tidak ada yang tidak mungkin. Selama kamu terus berusaha dan mau bersabar, semua pasti ada hasilnya. Walau tidak mencapai liam puluh persen, paling tidak kini kau bisa berharap untuk menghamili istri manismu, ini.” Ujar dokter Lintang sambil memandang ke arah Sasi.


“Lalu, apalagi yang harus aku lakukan?” tanya Nathan.


“Tetap lanjutkan terapi dan konsumsi vitamin yang biasanya sampai, Dokter Husein, menyuruhmu berhenti.”


“Itu, saja?” Dokter Lintang mengangguk.


“Jika kamu mau mengambil program kehamilan, kau bisa melakukannya sekarang.”


Sasi membulatkan kedua matanya mendengar penuturan dokter Lintang, tentang program kehamilan. Ia bahkan meremas gamisnya karena tiba - tiba hatinya merasa sedikit tidak nyaman.


“Kau serius?”


“Ya, aku serius. Aku akan jadwalkan nanti setelah kamu bertemu dengan, Dokter Husein. Tapi tetap, kau harus bersabar. Karena menemukan sel yang baik juga tidak mudah. Sekalipun, istrimu, sehat. Tetap saja, semua butuh proses.”

__ADS_1


Degup jantung Nathan berpacu karena rasa bahagia yang tak terkira. Tetapi sayangnya sang istri justru merasa tertekan karena hal ini. Ada ketakutan yang tak bisa Sasi jelaskan. Trauma yang dulu pernah ia alami nyatanya tak mudah menerima semua ini. Ia takut jika suatu saat ia akan kembali di buang.


__ADS_2