
Keempat orang dewasa yang tengah menantikan jawabannya itu semakin membuat Aslan salah tingkah. Rahasia yang seharusnya ia pendam sendiri agar tak membuat sang ibu khawatir padanya akhirnya ia ungkap tanpa sengaja.
“Aslan, kamu dengar, Mama? Apa maksud kata - katamu itu?” Tegas Sasi membuat ketiga pemilik Suryabrata itu seketika menatap Sasi yang bersikap tidak seperti biasanya.
“Ja- Jadi waktu Aslan di bawa ke Jakarta sama suruhan, Papa dan Kakek, mereka sempat mengingkari janji dan tidak berniat mengembalikan aku ke kepada, Mama. Ja- jadi karena hal itu akhirnya aku mogok makan agar mereka membebaskanku dan memulangkan aku ke, Mama, waktu itu.”
Aslan meremas pahanya keras. Ia takut jika Sasi akan kecewa atas sikap diam yang dia ambil atas perilaku kakek dan papa kandungnya.
Tak
Sasi meletakkan sendok dan garpu yang ada di kedua tangannya keras hingga membuat bunyi yang mampu menggetarkan jiwa semua orang. Wanita lembut yang tak pernah memberikan ekspresi marah di wajahnya itu kini tampak sangat kesal.
“Ma- maaf, Ma. Bukan maksud Aslan menyembunyikan ini. Bahkan banyak yang Aslan dengar dari mereka hingga Aslan tahu betul apa yang membuat, Papa, memilih meninggalkan kita demi wanita itu.”
“Maaf, Ma.”
Tuan Banu dan nyonya Anggi yang melihat Aslan tak berdaya merasa kasihan bukan karena kemarahan Sasi, melainkan sikap yang sudah ia dan ibunya peroleh selama ini. Bahkan anak seusianya sudah harus mendengar percakapan orang dewasa yang seharusnya tak didengarnya.
“Aslan, bukannya kamu akan terlambat, Nak? Sudah hampir pukul enam tiga puluh menit, tuh.” Ujar nyonya Anggi memecah ketegangan.
Aslan yang melihat kedipan dari papanya mengangguk kecil dan bergegas untuk menghabiskan susunya.
Bocah sembilan tahun itu mendekat ke arah sang ibu dan meraih tangan Sasi dan mencium punggung tangan yang telah membesarkannya dengan susah payah itu takzim.
“Aslan sekolah, ya, Ma?” Sasi mengangguk dan mengusap kepala Aslan namun masih dengan wajah yang kesal.
__ADS_1
“Hati - hati, jaga dirimu!”
Aslan mengangguk dan berjalan cepat menuju kamarnya untuk mengambil tas dan segala peralatan sekolahnya.
“Kamu tidak apa - apa, Sayang?”
Sasi mengangguk, “Aku akan kemar dulu, Mas. Permisi, Pah, Mah.”
“Iya, Sayang.” Ujar nyonya Anggi dengan senyum lembutnya.
Sasi berjalan gontai menuju tangga. Ia tapak anak tangga satu persatu sambil mengepalkan kedua tangannya. Hatinya sungguh marah. Ia tak habis pikir dengan Galih dan kedua mantan mertuanya. Kenapa setelah ia memilih mengalah bahkan ia tak meminta apapun mereka masih saja berusaha merebut Aslan dengan cara yang salah.
“Tidak bisakah, mereka merebut hati anakku tanpa menorehkan luka di hatinya? Apa yang sebenarnya ada di otak mereka selama ini. Apa semua pengorbananku tak ada harganya sama sekali. Bahkan aku, sang istri sah rela pergi tanpa membawa hak ku demi Aslan. Apa semua itu masih kurang!”
Sasi bermonolog sambil menghela nafasnya berkali - kali. Ia sungguh tak tahu bagaimana keluarga itu bisa sekejam itu.
“Sakha?” panggil sang ibu.
“Iya, Mah?”
“Temani istrimu, sana! Ngapain ikut bengong disini.”
Sakha menggaruk telinganya. Namun setelah itu dia mengiyakan permintaan sang mama dan berlalu menuju kamarnya.
“Menurut, Papa, orang kaya gitu enaknya di apain?”
__ADS_1
“Mereka sudah mendapat ganjarannya, Mah. Karena yang, Papa, dengar menantu keluarga itu tak lagi bisa memiliki anak, karena rahimnya diangkat.”
Nyonya Anggi menutup mulutnya, terkejut. “ Astaga, kenapa menantunya yang justru kena sialnya, Pah?”
“Dia juga jahat, Ma. Jika dia perempuan baik - baik, tidak mungkin mau dengan pria beristri apapun alasannya, ‘kan?”
Sang istri mengangguk membenarkan ucapan tuan Banu. Bagaimanapun perselingkuhan pasti akan mendatangkan malapetaka entah cepat atau lambat.
______
Sedang di kediaman Mahardika. Tuan Yusuf dan sang istri tengah adu pendapat dengan menantu mereka. Ranti dan Galih yang diminta datang pagi - pagi ke kediaman itu mendadak murka setelah permintaan kedua paruh baya itu cukup tak masuk akal baginya.
“Nggak bisa gitu dong, Pah. Lalu posisi anak, Ranti, gimana!” Kesalnya.
“Kenapa kau heboh dengan posisi anakmu? Memangnya siapa yang akan membuangnya?”
“Tunggu, kenapa, Papa dan Mama, tiba bahas Aslan dan Sasi. Sebenarnya ada apa?” Sela Galih yang mulai tak paham dengan arah pembicaraan ini.
“Kau masih mau ‘kan? Mendapat hak asuh, Aslan?” Galih yang ditanya mengangguk ragu.
“Jika kamu bisa membujuk, Sasi, dengan baik - baik menggunakan kenangan kalian misalnya, pasti Sasi akan luluh. Bagaimana menurutmu?”
Ranti yang mendengar kata - kata ibu mertuanya mendelik tak suka. Bagaimana bisa dia menyuruh Galih membujuk Sasi sedang ada dia yang harus dijaga hatinya.
Ranti marah, namun ia tak bisa meluapkan itu sekarang. Bagaimanapun keluarga ini memang membutuhkan penerus, tapi dia tidak akan membiarkan jika penerus itu adalah Aslan.
__ADS_1
Bersambung