MAHLIGAI KEDUA

MAHLIGAI KEDUA
Bab 27 - Kebahagiaan Aslan Juga


__ADS_3

Malam di kediaman Mahardika sedang terjadi ketegangan antara mertua dan sang menantu. Wanita bernama Ranti yang mengetahui jika mertua dan suaminya menutupi sesuatu darinya murka dan merasa tidak dianggap. Bahkan kebenaran yang seharusnya diketahui sejak bulan lalu itu baru ia ketahui sekarang, itu pun karena tanpa sengaja ia menemukan sebuah surat perjanjian antara sang suami dan mantan istrinya.


“Kami melakukan itu karena, Sasi, tiba - tiba mengirim pengacara dengan segala bukti - bukti yang memojokan pihak kita. Bahkan pengacara yang Galih pilih tak mampu melawan pengacara yang, Sasi, kirim.”


Tuan besar Mahardika, hanya bisa menghela nafasnya. Dia cukup terkejut kala seorang pengacara datang ke kantornya untuk menyerahkan gugatan atas tindakan Galih yang melalaikan sang istri dan anak laki - lakinya itu. Gugatan dengan hukuman penjara maksimal 3 tahun itu membuat tuan besar Mahardika akhirnya meminta sang anak mengalah agar nama baiknya tetap terjaga dan menjalankan hak dan kewajibannya terhadap Aslan dengan semestinya, serta ganti rugi atas kelalaian yang dilakukannya sang anak.


“Tapi, apa salahnya jika aku juga diberitahu, Pah. Aku masih menantu keluarga ini dan jangan lupa ada Dira yang memiliki hak yang sama dengan anak itu!” tegasnya.


Nyonya besar Mahardika bangun dari duduknya dan mengatakan sesuatu yang cukup menghancurkan hati wanita yang Galih nikahi secara diam - diam dulu. Walau dulu dia sangat menyanjung Ranti dengan segala kelebihannya sebagai seorang menantu dan anak dari orang yang cukup berada. Namun, kini dia tak lagi memiliki respect pada ibu satu anak itu.


“Jika, kau masih memiliki rahim. Kami tidak akan mengalami hal seperti ini. Semua terjadi karena kamu tak lagi bisa memberikan penerus keluarga ini. Ingat, Ranti! Galih bisa saja menikah lagi, namun kau tahu citra keluarga ini akan semakin terpuruk, jika dia melakukannya dan terendus khalayak ramai. Maka dari itu biarkan Galih memberikan apa yang seharusnya anak laki - lakinya itu dapatkan, karena bagaimanapun Sasi tidak akan pernah menolak jika Aslan menjadi penerus keluarga ini.”


Setelah mengatakan kalimat panjang itu sang nyonya besar berlalu dan masuk kedalam kamarnya. Sedangkan sang suami hanya bisa mengikuti wanita yang telah menemaninya bertahun - tahun itu dengan patuh.

__ADS_1


Ranti istri kedua Galih mengeraskan rahangnya. Dia sangat kesal dan marah atas perilaku semena - mena mertua dan suaminya itu. Dulu dia dijunjung setinggi langit. Namun kini, dia dijatuhkan bagai debu. Bertebaran dan berserakan tanpa sisa.


“Tidak. Dira harus jadi yang utama. Aku tidak akan membiarkan siapapun mengambil alih posisi Dira. Ibu dan Ayah akan terus ikut menyalahkanku jika posisi Dira di kediaman ini bergeser dan diambil alih anak sialan itu.”


Ranti berjalan menuju kamarnya dan mulai menjalankan misi untuk mencari keberadaan Aslan dan Sasi. Jika perlu berbuat lebih ekstrim, dia akan melakukannya. Asal posisi anaknya tetap menjadi nomor satu dan menjadi pewaris Mahardika selanjutnya. Apapun akan dilakukannya.


***


Suara nikmat yang saling bersahutan di kamar Sasi dan Nathan membuat kamar yang beberapa jam lalu terasa dingin kini panas akan prahara yang terjadi di ranjang mereka.


Sebelum Nathan menjalani aktivitasnya yang cukup sibuk bahkan minggu depan dia juga harus berkeliling Indonesia untuk menyelesaikan pekerjaannya. Secara khusus meminta kepada Farid agar memberinya libur selama dua hari kedepan. Dan meminta sang asisten untuk mengundur semua agendanya itu minggu depan.


Farid yang tak bisa menolak hanya bisa pasrah akan makian yang akan didapatnya. Karena Nathan kembali menunda pekerjaan yang seharusnya diselesaikan minggu ini dan harus mundur lagi di minggu berikutnya.

__ADS_1


Bahkan pria yang selalu Nathan sebut dengan kanebo kering itu tanpa sadar memaki sang atasan dalam benaknya dan menyumpahi pria itu agar segera memiliki keturunan agar diabaikan oleh istri barunya itu.


“Sayang,” panggil Nathan pada Sasi yang tengah sibuk membenahi selimut agar menutupi tubuh polosnya.


“Kenapa, Mas?”


“Aku sudah meminta libur selama dua hari ini. Bagaimana jika kita ajak, Aslan, jalan - jalan.”


“Libur?” Nathan mengangguk.


“Kok bisa?” tanya Sasi.


“Tentu. Aku sudah memohon dengan asistenku yang seperti beruang kutub itu agar memberikanku libur selama dua hari ini. Tetapi sebagai gantinya, selama dua minggu kedepan aku akan sibuk dan mungkin tidak akan pulang ke rumah untuk beberapa hari,” ucapnya.

__ADS_1


Sasi hanya bisa mengangguk patuh dan tersenyum pada sang suami. Dia bersyukur karena Nathan tidak hanya memikirkan kebahagiaannya saja namun, dia juga memikirkan kebahagiaan anak semata wayangnya.


__ADS_2