
Gelegar cahaya langit yang tiba - tiba saja membuat Sasi, Aslan dan para maid memerjamkan mata seraya berdoa.
“Astagfirullah. Allahumma la taqtulna bighadhabika wala tuhlikna bi'adzabika wa 'afina qabla dzalika. Kok tiba - tiba hujan, ya?” ujar Sasi yang sudah memeluk Aslan karena terkejut.
“Jika melihat ramalan cuaca harusnya memang sudah waktunya hujan, Nyonya Muda. Akhir - akhir ini mendung juga tampak lebih sering menyelimuti langit sore.” Ujar Bu Rina.
“Semoga, Mas Nathan, baik - baik saja selama perjalanan, ya, Bu Rina. Saya khawatir,” tutur Sasi.
“Insya Allah semua akan baik - baik saja, Nyonya. Kurang berapa hari, Tuan Muda, akan kembali?” tanya bu Rina.
“Katanya sih, nggak sampai seminggu udah di rumah, Bu Rina…”
“Wah, apa ini?” seru sang empunya rumah.
Sasi dan Bu Rina menghentikan pembicaraan mereka dan segera datang ke ruang makan. Sedangkan Aslan memilih melanjutkan kegiatan makannya tetap duduk di dapur.
“Tadi, Nyonya Muda, yang mencetuskan ide ini, Nyonya Besar.”
Bu Rina mulai mematikan beberapa lampu utama dan menghidupkan lilin yang sudah ada di meja makan.
“Mana, Papa, Ma?” tanya Sasi yang tidak melihat ayah mertuanya.
“Papa sedang ada di ruang kerjanya. Sebentar lagi kesini,” jawab sang ibu mertua.
__ADS_1
“Kalau kita makan disini, kamu dan Aslan makan dimana?”
Sasi menahan senyum kala ibu mertuanya menanyakan tentang anaknya, “Jangan khawatir, Aslan, sudah kenyang. Dia dibelakang sedang makan steak.”
Ibu mertuanya membentuk huruf O menggunakan bibirnya. Tak lama tuan besar datang dan terkejut akan penampilan meja makan yang tidak biasa. Sang istri pun menceritakan jika ide makan malam ala candlelite dinner ini merupakan ciptaan menantunya. Tuan Banu yang sedang lelah akan pekerjaan dan beberapa masalah yang sedang dihadapinya merasa sedikit rileks dengan ide yang dicetuskan sang menantu.
Sasi yang tidak ingin mengganggu kedua paruh baya itu mengikuti bu Rina ke dapur dan makan bersama dengan para maid yang lain di ruang makan khusus mereka.
“Jika dilihat, enakan makan disini, ya, Bu Rina. Pemandangannya langsung taman belakang,” ujar Sasi.
“Semua ini juga ide, Tuan Besar. Tadinya kami kalau mau makan ya di dapur. Namun, setelah para ART semakin bertambah. Para pekerja dan pengawal juga bertambah, Tuan Banu merombak habis ruang makan, dapur dan tempat ini.”
Sasi mengangguk - anggukkan kepalanya. Satu hal lagi yang dia tahu dari ayah mertuanya, pria paruh baya itu cukup royal pada bawahannya dan tidak pernah memandang remeh pekerjaan mereka. Sungguh, keluarga ini benar - benar tidak sama dengan keluarga mantan suaminya. Di rumah ini tidak ada namanya membeda - bedakan makanan. Bahkan kulkas untuk para maid lebih lengkap daripada isi kulkas yang ada di ruang utama. Nyonya Anggi selalu mengatakan jika para maid lebih sering begadang karena menyelesaikan tugas mereka. Maka dari itu dia selalu menyediakan sayur, buah, bahkan jus buah organik untuk menunjang kesehatan mereka.
Sasi yang telah menyelesaikan makan malamnya. Berpamitan dengan para pekerja untuk masuk kedalam lebih dulu. Namun saat ia mau masuk lewat ruang makan utama ia melihat suami istri itu tengah bercanda dan sambil tertawa. Sasi yang tak ingin kehilangan momen langsung mengambil ponsel di sakunya dan mengambil gambar mereka.
“Kirim, Mas Nathan, aja deh,” gumam Sasi sambil berjalan kembali ke dapur belakang untuk masuk lewat pintu depan menuju kamarnya. Tak lupa sebelum keluar dia mengingatkan Aslan agar segera masuk ke dalam kamar untuk beristirahat setelah selesai bermain catur dengan salah satu pengawal.
My Sugar calling 🎶
Sasi tersenyum kala melihat nama suaminya tertera di panggilan teleponnya.
“Assalamualaikum, Mas?”
__ADS_1
“Aku kerja disini, capek, Mereka malah makan malam romantis. Dimana itu?” tanya Nathan. Pria itu tidak sadar jika konsep makan malam dadakan itu berada di ruang makan utama kediamannya.
“Masa, Mas, nggak kenal tempatnya, sih? Coba lihat lagi deh sekitarnya, masa rumah sendiri nggak kenal.”
“Nathan membulatkan kedua matanya mendengar penuturan sang istri.”
“Itu di ruangan rumah kita?”
“Iya, Mas. Aku dan Bu Rina, tadi yang mencetuskan ide itu. Papa, minta koki membuat steak dan tiba - tiba saja terpikirkan untuk membuat makan malam romantis buat, Papa dan Mama.”
“Tunggu aku pulang. Aku akan memberikan makan malam romantis untuk kita. Lebih dari indah dari paruh baya itu.”
Sasi tertawa mendengar penuturan Nathan. dia tidak mengira jika suaminya itu akan cemburu dengan apa yang dilakukan kedua mertuanya. Sesampainya di kamar tanpa menutup telepon Sasi meminta izin untuk menunaikan ibadah sholat isya’. Nathan pun mengizinkan dan menunggu sang istri sambil mengerjakan tugas - tugasnya.
Di tempat lain, seorang wanita tengah memandang langit dengan tajam. Dia kecewa dengan dirinya sendiri kenapa kala itu lebih memilih memutuskan pertunangannya daripada memilih bertahan.
Tadi pagi, saat dia ingin mengantar sang anak ke sekolahnya. Ada surat yang dikirim atas namanya. Karena rasa penasaran dia kembali mematikan mesin mobil dan membaca isi surat itu dengan seksama.
“Kenapa, kita harus seperti ini sekarang, Sakha. Aku kira kamu akan menungguku seperti katamu waktu itu. Tapi kenapa, kau memilih menikah diam - diam. Apa dia hanya sekedar pengganti atau kau sungguh - sungguh mencintainya.”
Wanita itu bergumam sambil meremas da*danya karena rasa sakit yang tiba - tiba datang kala mengingat isi surat itu. Surat yang dikirim atas nama Tuan Banu untuknya.
Lelehan air mata yang tak bisa dihentikan hanya dengan tarikan nafas itu, terus terjun bagai Niagara.
__ADS_1