MAHLIGAI KEDUA

MAHLIGAI KEDUA
Bab 45 - Bak bunga bangkai


__ADS_3

Kicau burung milik ayah mertua membuat Sasi mengerjap. Setelah solat subuh tadi, Nathan yang entah kerasukan jin dari mana, tiba - tiba menjadi ganas hanya karena gemas mengingat Sasi yang marah padanya tadi malam. Tanpa aba - aba, Sasi yang berniat turun ke lantai bawah langsung didekap sang suami dan langsung membantingnya ke ranjang. Sasi yang tidak siap bahkan hampir kehabisan nafas kala Nathan menciumnya dengan penuh semangat perjuangan.


“Mas, gemas. Melihatmu marah seperti tadi malam, dan gara - gara itu, kamu membiarkan suami kamu ini tidur tanpa dekapan hangat istrinya. Pagi ini, kamu harus bayar lunas. Karena membiarkan, suamimu, ini tidur dengan hati yang kesepian.”


Ungkapan Nathan itu kini terngiang di telinganya membuat Sasi merinding, bahkan tubuh polosnya yang tercetak pertempuran subuh tadi membuatnya menarik kembali selimut yang di pakaikan oleh Nathan.


Klek


“Selamat pagi, Sayang.”


Nathan datang dengan membawa segelas susu hangat dan roti panggang. Ia berjalan mendekat ke arah sang istri dan meletakkan nampan itu di nakas samping tempat tidur.


“Baru, bangun?”


Sasi memejamkan matanya kala tangan Nathan mengusap pipinya lembut. “Mas, udah mandi?”


“Sudah, mana bisa turun belum mandi, Sayang. Kamu capek?” Sasi mengangguk kecil sambil memajukan bibirnya.


“Badan aku rasanya remuk,” lanjutnya.


Nathan terkekeh, berdiri dan mencari daster milik istrinya yang ia buang sembarangan tadi.


“Pakai, Sayang.” Sasi mengambil dasternya dan memakainya di bantu oleh Nathan.


“Mau, mandi sekarang?”


“Iya, Mas. Aslan sudah berangkat?”


“Sudah, baru saja.”


Sasi meletakkan kepalanya di pundak sang suami dan kembali memejamkan mata. Entah, kenapa tubuhnya rasanya lelah bukan main. Padahal jika di ingat Nathan yang lebih mendominasi permainan sedangkan dia hanya menikmati setiap langkah dan pijakan yang suaminya lakukan.


“Masih ngantuk?”


“Mungkin karena kita tidur terlalu malam juga, Mas.”


“Tidak, karena rutinitasnya kini berbeda, Sayang. Jadi lelahnya juga berbeda.”


“Yuk, Nathan mengulurkan tangannya.”


“Apa?” tanya Sasi tak paham akan maksud suaminya.


“Mas, gendong. Mandi, udah siang.”

__ADS_1


Sasi mencebik , “Memangnya aku anak kecil.”


Sasi menggeser posisinya dan mengayunkan kakinya untuk turun ke lantai dan memakai sandalnya.


“Gendong belakang, ya? Tapi jangan ikut masuk, bukan mandi malah adegan 21 lagi nanti.”


Nathan tertawa geli mendengar perkataan sang istri. Tahu saja jika ia memiliki seribu akal untuk melakukan jalan - jalan sehat dengan melewati lembah serta bukit mengagumkan itu.


Nathan berjongkok, ” Ayo!”


Sasi menunduk dan melebarkan kakinya serta mengaitkan kedua tangannya di leher Nathan. Perlahan Nathan berdiri dan membawa sang istri ke kamar mandi. Hanya sepuluh langkah, ia tiba di bibir pintu kamar mandi.


Sasi diturunkan dan ia biarkan masuk kedalam sendirian. Sedangkan dirinya yang masih terngiang teriakan sang istri subuh tadi menggelengkan kepalanya sambil terus bernyanyi sambil terkikik geli. Jika dikatakan ia bagai ABG yang sedang jatuh cinta, mungkin lebih dari itu. Kebahagiaan yang didapatkan Nathan sekarang lebih dari sekedar ungkapan cinta itu sendiri. Seakan Tuhan sedang menjawab doa - doanya, ia meminta istri, tapi Allah memberinya seorang bidadari.


“Pengalaman kami, membuat kami saling memperbaiki diri, dan ini lah hasilnya.”


Nathan bergumam sambil melihat wajahnya di cermin. Dia meraih kemejanya dan mulai mengancingkan satu demi satu hingga membalut tubuh gagahnya itu.


________


Siang, di kediaman mewah salah satu anggota dewan sedang terdengar kegaduhan dari sebuah ruangan. Adu pendapat pun terdengar dari mulut beberapa orang.


“Lalu, bagaimana? Kenapa bisa seperti ini?” teriaknya pada kedua bawahannya.


Sang tuan besar menarik nafas kasar. Ia tidak tahu kenapa pekerjaannya yang cukup rapi dan lama tak pernah terendus tiba - tiba mulai ada yang membukanya.


“Kenapa, Anda, tidak mendekatkan kembali saja, Nona, dengan anak, si Suryabrata, itu?” tutur yang lain.


“Mana mungkin, aku sudah sangat membuat keluarga itu murka. Bahkan pemilik P.T Berlian Jaya saja langsung menarik investasinya di pemilihan ketua dewan waktu itu.”


Dua bawahannya itu menggigit bibir mereka bersamaan. Jika mereka tahu keluarga Suryabrata cukup berpengaruh, dulu mereka tidak akan meremehkan keluarga itu. Bahkan akan menghalangi niat ketuanya itu untuk membatalkan pernikahan.


“Lalu, bagaimana sekarang, Pak. Karena saya dengar, Jendral Fatih Akmal ternyata adalah teman baiknya.”


Pria dengan setelan jas yang sudah sangat berantakan itu, menatap sang bawahan hingga kedua bola matanya hampir saja keluar.


“Maksudmu, Wakil Kapolri?” mereka berdua mengangguk.


Pria itu menjerit dalam hati. Jika tahu begini, lima tahun lalu dia tidak akan meremehkan si Suryabrata itu. Dia mengira setelah ayah tuan Banu meninggal, pria itu tak lagi eksis di dunia politik dan hanya fokus berkecimpung di dunia bisnis saja. Namun pada kenyataannya, dari awal ia memang tak mengenal pria itu dengan baik. Kini dia sungguh menyesal. Tapi meski begitu, tuan Banu juga bukan tipe orang yang mudah tergiur dengan harta.


“Tetap waspada. Jangan sampai lengah, atur sedemikian rupa masalah di bawah. Untuk di atas aku yang akan selesaikan. Bagaimanapun para petinggi itu memang seharusnya tahu tentang masalah ini. “


Dua orang bawahannya itu segera undur diri agar bisa segera menyelesaikan tugas mereka.

__ADS_1


“Sial!”


_______


Di perusahaan milik Mahardika juga sedang terjadi sebuah ketegangan antara tuan besar serta seseorang yang datang kepadanya cukup tiba - tiba. Pria yang biasanya datang karena undangannya, hari ini datang karena sebuah informasi yang cukup membuatnya tercengang. Bahkan tuan Yusuf hampir melemparkan vas yang ada di mejanya karen saking kesalnya.


“Sejak kapan, kau tahu?”


“Sudah beberapa hari ini…”


“Kenapa, kau tidak langsung kirimkan saja, data - data ini!” Seru tuan Yusuf kesal bukan main.


“Aku di ancam, dan setelah ini aku tidak akan lagi melakukan ini untuk Anda.”


“Apa maksudmu, siapa yang mengancammu?”


“Tentu saja pengacara, Tuan Sakha. Mereka mengatakan jika aku masih terus menggali semua tentang mantan menantu serta cucu Anda, saya akan dikirim ke luar dari kota ini.”


Tuan Yusuf mencengkram pinggiran meja bersamaan dengan rahang yang sangat mengeras terlihat urat - urat yang menonjol disana. Dia sungguh terkejut, dia tak menyangka jika mantan menantunya bisa menikah dengan seorang Nathan Arsakha.


“Bagaimana mereka bisa bertemu dan menikah,” benaknya.


Klek


Tiba - tiba pintu terbuka dan menampilkan Galih yang kebingungan melihat ayahnya yang terlihat sangat kesal.


“Ada apa ini?” tanyanya.


Tuan Yusuf menggeser tubuhnya dan kembali duduk di singgasananya.


“Ada apa, Galih?” tanya sang ayah.


“Siapa dia?”


“Kau boleh pergi, aku akan menghubungimu kembali nanti.” Pria itu menunduk hormat dan berlalu keluar dari ruangan itu.


“Siapa dia, Yah?”


“Bukan siapa - siapa.”


Galih hanya bisa menautkan kedua alisnya mendengar penuturan sang ayah. Dia tak berani bertanya karena jika ia menggali lebih dalam, ia akan mendapat murka dari ayahnya itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2