MAHLIGAI KEDUA

MAHLIGAI KEDUA
Bab 13 - Kedatangan Satu Keluarga


__ADS_3

Tiga hari berlalu dan Nathan tidak lagi memberi kabar kepada Sasi. Sasi yang hanya menunggu hanya bisa bersabar. Bukan mengharapkan lebih hanya saja Sasi merasa berhutang banyak pada pria itu.


Hari ini dilalui Sasi seperti biasa dia bekerja dan Aslan bersekolah. Setelah kata cerai itu berwujud nyata dengan akta cerai yang didapatnya. Sasi merasa lebih nyaman dan tak lagi merasa terbelenggu dengan sang mantan suami. Tetapi sayangnya Sasi tidak tahu jika Galih sedang melakukan upaya agar Aslan bisa kembali padanya padahal sebelumnya Galih sudah berjanji secara lisan dan tertulis tidak akan mengganggu ibu dan anak itu. Apalagi hingga membuat kehidupan mereka tidak nyaman.


Galih yang masih tidak mengetahui siapa dibalik keberanian Sasi menggugat dirinya terus mencari tahu hingga kedua orang tuanya di buat jengkel dengan tindakan Galih.


Kedua orang tuanya yang merasa gagal atas kemenangan Sasi secara mutlak terhadap Aslan dan sudah bercerai secara sah dari anaknya merasa tidak ada lagi pintu rujuk untuk keduanya. Padahal kedua orang tua Galih sedang mengusahakan kedua mantan istri dan suami itu agar bisa kembali bersama.


Mereka yang tidak lagi bisa memiliki cucu karena rahim Ranti yang sudah diangkat berharap Aslan bisa kembali ke keluarga itu. Namun tampaknya semua itu tidak akan mungkin terjadi, apalagi jika mereka tahu siapa dibalik keberanian Sasi melakukan tindakannya itu.


Di Jakarta. Tepat di kediaman besar Suryabrata ibu dan anak yang beberapa hari lalu bertemu dengan Sasi sedang terlibat pembicaraan cukup serius. Hingga sang suami yang sedari tadi membaca koran sedikit menebalkan telinga agar mendengar dengan baik apa yang sedang anak dan ibu itu bicarakan.


“Tapi apa kau yakin? Dia mau menerimamu dengan semua kekuranganmu?”


“Aku tidak pasti, Ma. Hanya saja aku percaya jika wanita itu mampu menjadi pendampingku. Karena tanpa aku duga dia membuat hatiku berdebar setelah sekian lama.”


“Kamu berdebar? Dia bagaimana?”


“Pah!” seru sang istri yang melihat sang suami hanya menguping tanpa memberikan saran atas pembicaraan mereka.


Tuan besar Banu Suryabrata menurunkan koran yang dipegangnya dan menatap sang istri dengan senyum mengembang.


“Ada apa sih, sayang?” Pria paruh baya itu mendekat dan memeluk sang istri dari samping.


“Nggak usah peluk - peluk! Sudah tahu lagi genting begini malah asyik sendiri!” kesalnya.


Sang anak yang tidak tahu diuntung itu hanya bisa menelan tawanya agar tidak meledak. Dirumah ini siapa yang akan berani dengan wanita perkasa yang satu ini. Wanita yang selalu berada di samping tuan Banu disaat susah maupun senang hingga tetap menjadi keluarga yang disegani di kalangan masyarakat dan para pengusaha.


“Kita akan ke Jogja besok. Bawa perhiasaan saja. Tidak mungkin kita bawa yang aneh - aneh,” pungkasnya.


Tuan Banu yang masih tidak mengerti apa yang sebenarnya ibu dan anak itu diskusikan memberanikan diri untuk bertanya.


“Kalian ini sedang membahas apa?” tanyanya.


“Ya ampun! Dari tadi ngapain terus duduk disitu!” seru sang istri. Nathan yang mendengar sang ayah di bentak oleh sang ibu hanya bisa mengulum bibirnya menahan tawa.


Wanita terkuat sejagat raya itu berdiri dari duduknya dan berjalan menuju tangga.

__ADS_1


“Loh, Mah! Mau kemana?” teriak sang suami.


“Ke Dubai!” jawabnya kesal.


Nathan yang tidak bisa mengendalikan dirinya langsung tertawa lepas bahkan terbahak. Sedangkan sang ayah menatapnya nyalang dan menaikkan satu sudut bibirnya.


“Awas kau!”


“Ha ha!”


“Ati - ati jatahnya di potong!” ujar Nathan menertawai sang ayah yang kini sudah berlalu mengejar sang ibu.


***


YOGYAKARTA


Satu minggu berlalu begitu saja. Sasi yang masih tidak mengetahui kabar Nathan hanya bisa pasrah. Justru kini dia sedang menghitung berapa hutangnya kepada pria itu. Dia yang menyadari jika mungkin Nathan berubah pikiran karena jati diri Sasi pasrah akan nasibnya.


“Apalah aku ini. Tapi jika aku tidak membayar hutangku padanya lalu bagaimana aku bisa mengucapkan terima kasihku padanya.”


Sasi terus bergumam di sela - sela istirahatnya. Malam yang sudah cukup larut masih tidak bisa membuatnya terlelap karena resah memikirkan Nathan yang tidak memberi kabar lagi padanya.


Sasi tertawa akan nasibnya yang aneh. Tak ingin terus berpikir macam - macam Sasi memilih memejamkan matanya karena pagi - pagi dia harus bekerja dan mengurus keperluan Aslan anaknya.


Pukul 06.00 pagi Aslan yang sudah siap dengan seragam sekolahnya sudah duduk di meja makan siap menyantap jatah sarapan paginya sedangkan Sasi masih sibuk dengan kegiatannya mencuci baju.


“Mah, Aslan pamit ya?”


Sasi mencuci tangan yang terdapat busa sabun dan meraih tangan Aslan. Anak itu mencium dengan sayang punggung tangan sang ibu yang sudah bekerja keras untuknya.


“Hati - hati ya!” Aslan mengangguk dan berlalu keluar dari rumahnya.


Baru saja akan menghampiri teman - teman yang sudah menunggunya. Kedua mata Aslan menangkap sosok yang beberapa waktu lalu mengantarnya pulang saat insiden Candra yang terserempet.


“Itu Om Nathan ‘kan?” gumamnya.


Pria yang keluar dari mobil MPV hitam itu berjalan pelan dan berdiri di hadapan Aslan.

__ADS_1


“Assalamualaikum!”


“Waalaikumsalam!” jawab Aslan.


“Mau sekolah?” Aslan mengangguk.


“Ada apa, Om kesini pagi - pagi?” tanya Aslan.


Aslan yang melihat dua paruh baya berjalan bersama menuju dimana dia dan Nathan berdiri langsung turun dari sepedanya.


Dua paruh baya itu memandang Aslan dengan senyum mengembang. Mereka tidak menduga apa yang Nathan katakan memang benar adanya.


“Apa Ibumu, ada di rumah?” Aslan kembali mengangguk.


“Mama sedang mencuci baju, Om. Mau bertemu Mama?”


Nathan dan kedua paruh baya itu mengangguk. Sadar jika para tetangga sedang melihatnya mengobrol dengan mereka. Aslan meminta kawan - kawannya agar berangkat lebih dulu. Perlahan Aslan memutar sepedanya dan kembali masuk ke area kontrakannya.


“Assalamualaikum, Mah!” teriak Aslan yang sebelumnya sudah meminta tamunya itu duduk di karpet yang berada di ruang tamu.


Sasi yang mendengar suara Aslan langsung bangkit dari duduknya dan berjalan masuk ke dalam.


“Kok belum berangkat?” tanya Sasi sambil melihat jam dinding yang ada di ruang makan yang jadi satu dengan dapur itu.


“Ada tamu.”


Sasi mengernyit mendengar ada tamu pagi - pagi seperti ini. Tetapi bukan itu poinnya kenapa Aslan dengan sangat lirih mengatakannya.


“Siapa?” tanya Sasi tak kalah berbisik.


“Om Nathan. Serta dua orang bapak dan Ibu - ibu.”


Sasi langsung mendekat ke arah Aslan agar apa yang didengarnya tadi bukan sebuah kekeliruan. Dia menyembulkan kepalanya dan mengintip di sebalik tirai yang langsung terhubung dengan ruang tamu.


Mata Sasi membola. Dia terkejut mendapati siapa yang bertandang ke kediamannya yang sangat sederhana ini.


“Astaga untuk apa mereka datang beramai - ramai begitu! Jangan - jangan Ibu itu tahu jika aku memiliki perjanjian dengan Mas Nathan. Aduh!”

__ADS_1


Sasi terus mengusap hidungnya karena gugup. Hatinya terus bergumam tentang apa yang dilihatnya dan apa yang harus dilakukannya.


__ADS_2