
Jakarta
Kediaman anak pertama Mahardika yang dulu selalu aman dan damai, pagi ini kembali riuh dengan rengekan anak perempuan berusia 5 tahun yang tak lain cucu perempuan tuan besar Yusuf Rangga Mahardika dari sang anak pertama, Arsenio Galih Mahardika. Anak perempuan yang sangat dimanja oleh ayah dan ibunya itu kembali meminta sesuatu yang tak masuk akal.
Tuan besar dan nyonya besar yang tadi malam menginap dikediaman itu sungguh di buat pusing dengan tingkah aneh sang cucu yang mereka dapat dari hasil perselingkuhan sang anak.
Anak perempuan yang terlahir di tengah - tengah prahara rumah tangga anaknya dan mantan istrinya yaitu ibu dari Aslan itu selalu ingin menjadi dominan dimanapun dia berada. Tidak seperti Aslan yang selalu menurut dan tak banyak tingkah walau dia seorang anak laki - laki, itu pendapat mereka setelah kepergian Aslan dan ibunya.
“Kamu itu masih TK, Nadira!” seru sang kakek dengan nada kesalnya.
“Tapi teman - teman aku semuanya memiliki itu, Kek. Dan Dira maunya juga punya tapi maunya yang lebih bagus!” rengeknya sambil menarik baju sang ibu.
“Mih, beliin ya.”
Dira, gadis manis yang sangat mirip dengan sang ibu itu terus merengek hingga membuat sang nenek geram.
“Urus anakmu itu, Ranti. Menyusahkan saja!” ketusnya sambil berlalu mengajak sang suami kembali ke kamar mereka.
Sang ayah yang tak tahu harus bagaimana bersikap hanya terdiam tak ingin menimpali keinginan sang anak. Dia lebih memilih fokus membaca berita lewat tab yang dipegangnya.
“Mas, bantuin dong!” geram Ranti menarik lengan baju sang suami sedikit keras.
Galih melemparkan tab yang ada di tangannya ke meja makan, “Dira, Papa kemarin baru saja beliin kamu tablet yang terbaru dan itu juga cukup fantastis harganya jika untuk anak seusiamu, sayang. Dan sekarang kamu mau ponsel yang jelas - jelas kamu belum membutuhkannya, jadi buat apa beli, nanti, oke?” ujar sang ayah menasehati.
“Tapikan Pah…”
“Dira!” pekik Galih sang ayah. Dira seketika menundukkan kepalanya dan mulai menangis.
“Kamu…”
__ADS_1
Galih mengusap wajahnya kasar, “Urus anakmu itu!” serunya pada sang istri.
Wanita bernama Ranti itu mengusap punggung sang anak, agar gadis kecil itu menghentikan tangisnya. Namun bukannya berhenti, justru tangisnya semakin keras.
“Dira, stop!” satu peringatan lolos dari sang ibu namun masih tak membuat anak itu menghentikan tangisnya.
“Dira!” geram sang ibu.
“Aku mau itu, Mah!” pekiknya sambil terus menangis.
Ranti yang tak bisa melakukan apapun hanya bisa menghela nafasnya saja. Dulu saat pertama kali dibawa ke rumah ini setelah kepergian istri pertama sang suami membuatnya berpikir akan dijadikan ratu oleh Galih, sama seperti saat mereka masih menjalin hubungan di belakang istri pertama Galih. Tetapi setelah satu tahun lalu dia mengalami keguguran dan tak lagi bisa mengandung, suami dan kedua mertuanya mulai menampakan penyesalan kenapa dulu lebih memilih dirinya dibanding mempertahankan ibunya Aslan.
Secara penampilan, Ranti memang lebih pandai bersolek daripada Sasi. Dia juga terlahir dari keluarga yang cukup berada tidak seperti Sasi yang memang terlahir dari kedua orang tua yang cukup sederhana dan sangat polos. Justru kepolosan Sasi lah yang dulu membuat Galih tertarik bahkan mati - matian memohon kepada kedua orang tuanya agar mau menerima Sasi. Namun setelah syarat yang kedua orangtuanya berikan terkabul yaitu melahirkan anak laki - laki, justru Galih lah yang mendustai pernikahan dan mengkhianati Sasi kurang lebih hampir 2 tahun lamanya.
“Nanti Mama akan bicara dengan Papa, jadi stop nangisnya. Kamu akan nyusahin Mama kalau gini terus!” ujar Ranti geram dengan sikap Dira. Padahal jika dikaji dia dan suaminya lah yang membuat Dira bersikap seperti itu. Tak pernah menegur ketika melakukan kesalahan serta tak pernah menganggap semua hal yang dilakukan Dira hanyalah kenakalan anak - anak saja. Sesungguhnya sedari kecil anak - anak harus diajarkan tentang tanggung jawab dan menegur mereka jika mereka melakukan kekeliruan, itu lah tanggung jawab sebagai orang tua sesungguhnya.
“Tapi Mama janji, Papa pasti mengabulkan?” tanya Dira dengan lelehan air mata yang masih menganak sungai.
“Kenapa sih, semenjak adik meninggal. Papa, Nenek dan Kakek sering galak sama Dira, Ma?” Ranti memejamkan kedua matanya mendengar pertanyaan sang anak yang tak bisa di jawabnya.
Sungguh bukan ini yang dia mau, tapi apa boleh dikata karena ulahnya sendiri dia harus kehilangan calon pewaris keluarga Mahardika.
“Ma?” panggil Dira yang tak mendapat jawaban atas pertanyaannya.
“Mereka nggak gitu, sayang. Perasaan kamu saja. Nyatanya dua bulan lalu Ayah beliin kamu tablet yang sama dengan teman - temanmu, bahkan lebih bagus dan mahal kan?” Dira, anak kecil itu mengangguk kecil mengiyakan jawaban sang ibu. Karena memang itu kenyataanya. Galih memang selalu mengabulkan keinginan istri dan anaknya ini tapi selepas kejadian satu tahun lalu itu, Galih menjadi dingin dan tak terlalu banyak bicara, bahkan kartu kredit milik Ranti pun semuanya diambil.
“Semua karena wanita itu, coba saja dia memilih uang untuk kesejahteraannya pasti anak laki - laki itu tetap disini. Dan aku nggak perlu bernasib seperti sekarang, dasar wanita sok suci!” gumam Ranti dalam hati.
Tak ingin sang anak terlambat ke sekolah dan kembali mendapat amarah sang suami, Ranti segera membenahi penampilan anaknya dan mengantarkannya ke sekolah.
__ADS_1
***
Di sebuah perusahaan seorang pria tengah berjalan dengan gagahnya sambil memasukkan tangannya di salah satu saku celana kasualnya. Pria yang terkenal dingin dan tak terlalu banyak senyum dan tawa menghiasi wajahnya itu tengah menuju ruangan sang petinggi perusahaan.
“Pak Rudi, ada?” tanyanya pada wanita cantik yang tengah sibuk dengan dokumen dihadapannya.
“Selamat siang, Tuan Sakha. Pak Rudi ada ditempat, dan sedang menunggu Anda.”
“OK!” singkatnya.
Kaki jenjang itu melangkah kembali masuk kedalam pintu yang telah dibuka oleh wanita yang merupakan seorang sekretaris itu.
“Hai, Om!” sapa pria bernama Arsakha itu.
“Oh, hai keponakan batu gurun ku!” seru pria paruh baya itu sembari bangkit dari duduknya.
“Stop!” seru Sakha.
“Why?” tanyanya sambil mengerutkan kedua alisnya karena sang ponakan tak mau menyambut pelukannya.
“Aku bukan batu gurun!” tegasnya.
Pria paruh baya itu menggeleng, “Oke! batu es saja, kalau begitu.”
Pria berusia 34 tahun itu merotasikan bola matanya kesal.
“Terserah, Om!” serunya.
“Oke, ada apa kamu kesini? Dan tumben sampai membuat janji segala?”
__ADS_1
“Aku mau menanyakan sesuatu dan tolong berikan jawaban yang pasti jangan berbelit - belit.”
Tuan Rudi menggelengkan kepalanya, “Tergantung pertanyaan itu, jika mudah dijawab ya Om jawab dengan cepat, secepat kereta taksaka,” ujarnya sambil meletakkan punggungnya di sofa mewah yang ada di ruangan itu.