MAHLIGAI KEDUA

MAHLIGAI KEDUA
Bab 32 - Bullying


__ADS_3

Sudah satu minggu Nathan melakukan perjalanan bisnisnya. Hari ini pria itu tengah berada di Palembang untuk mengunjungi salah satu anak cabang dari perusahaannya,


“Bagaimana, Tuan Sakha?” tanya sang direktur keuangan.


Nathan yang sedang melihat data perkembangan perusahaannya serta penghasilan selama kurun waktu 6 bulan ini mengangguk dan tersenyum kecil melihat surplus yang tertera di sana.


“Bagus, usahakan terus begini.”


Sang direktur keuangan mengusap dadanya lega. Dia bersyukur jika semua terkendali dengan baik hingga kunjungan rutin sang penguasa nomor satu di Suryabrata grup itu tiba.


Setelah berbincang dengan sang direktur dan beberapa staf yang ikut masuk ke dalam ruang meeting. Nathan berpamitan karena harus kembali ke hotel. Karena sore Nanti dia akan melanjutkan perjalanannya ke Batam.


“Kita makan siang dulu, Tuan?” tanya sang asisten.


“Boleh. Cari yang nyaman, Rid,” sang asisten mengangguk sambil terus melihat ponselnya. Mencari dimana letak restoran dengan tempat yang bersih dan nyaman.


“Bagaimana, kalau kita ke daerah sungai Musi, Tuan. Ke restoran seafood yang biasa , Tuan dan Nyonya Anggi kunjungi. Jika bertandang kemari?”


“Bukannya cukup jauh?”


“Tidak apa, Tuan. Anda, juga tidak memiliki kegiatan lagi setelah ini.”


Nathan mengangguk mengiyakan ucapan Farid. Sang supir yang diberi kode pun segera melajukan mobilnya berbelok menuju ke restoran tersebut. Sepanjang perjalanan pemandangan jembatan Ampera menjadi pemandangan khas kota Palembang. Siapa yang belum melewati jembatan yang menghubungkan seberang ulu dan ilir yang dipisahkan oleh sungai Musi ini rasanya tak pas jika berkunjung kesana tidak menikmati keindahan itu.


“Lain kali aku akan ajak, Sasi, kesini.” Gumam Nathan dalam hati yang sedang menikmati pemandangan yang tercetak di hadapan kedua netranya.


***

__ADS_1


Sore di kediaman Suryabrata kini cukup riuh. Aslan yang pulang penuh dengan luka dan sangat kotor membuat eyang putri dan ibunya mengusap dada. Apalagi setelah Aslan tidak mau mengatakan apa yang sesungguhnya terjadi.


Nyonya Anggi yang geram langsung menghubungi kepala sekolah tersebut dan meminta keadilan untuk cucunya tersebut. Namun saat sang eyang mengomel panjang lebar, Aslan menepuk pelan tangan snag eyang dan meminta menyudahinya. Kini mertua dan menantu itu sedang duduk berdampingan dengan Aslan berada di hadapan mereka.


“Sekarang, katakan pada, Eyang. Apa alasan kamu tidak memperbolehkan, Eyang, mencari orang tua bocah - bocah itu?” Tatapan tajam nyonya Anggi layangkan pada bocah 9 tahun.


“Bu.. bukan be.. begitu, Eyang. Hanya saja, Aslan tidak suka jika dibilang tukang mengadu. Aslan lebih suka jika menanganinya semuanya dengan cara, Aslan, sendiri.”


Sasi sang ibu yang mendengar itu justru tersenyum. Dia lega karena Aslan yang dulu dan sekarang tidak berubah walau kedua mertuanya sangat memanjakan anaknya itu.


“Tapi, Sayang…”


Sasi menyentuh pa*ha sang mertua agar menghentikan ucapannya. Nyonya Anggi hanya bisa mende*sah melihat Sasi melarangnya berbicara.


“Apakah, sebelum ini memang ada masalah, Nak?” Aslan menggeleng.


“Lalu, apa baru terjadi sekarang - sekarang ini?” Aslan mengangguk.


“Oke, Mama akan kasih kamu kesempatan untuk menanganinya sendiri. Tapi, jika mereka sudah melewati batas. Jangan lupa minta pertolongan dewan guru atau siapapun yang lebih dewasa disana. Janji?”


“Janji, Ma. Aslan janji.”


Sasi bangkit dari duduknya dan memeluk anak semata wayangnya itu. Sasi selalu mengajarkan Aslan untuk melakukan apapun yang memang masih dalam batas kemampuannya untuk dilakukannya sendiri. Namun, jika sudah sangat berlebihan Aslan pasti akan meminta bantuannya.


“Sas, kamu yakin?”


“Tenang saja, Ma. Kita awasi dari jauh saja. Kita lihat bagaimana dia menyelesaikan ini.”

__ADS_1


Ibu mertuanya hanya bisa mengangguk menyetujui sikap Sasi walau hatinya cukup berat membiarkan Aslan menangani bullying yang sedang menimpanya.


“Apa, bagian dalam tubuhmu ada yang sakit?” tanya Sasi.


“Nggak ada, Ma. Hanya pipiku saja yang sakit.”


Sasi mengangguk lalu mengusap pipi Aslan sayang. Memang terlihat sedikit lebam disana. Sasi dengan lembut terus mengusap pipi Aslan hingga tanpa sadar anak itu tertidur di pelukan sang ibu.


“Sas, dia tidur.”


Sasi tersenyum kecil. Dia luruskan tubuhnya dan meletakkan kepala Aslan di pangkuannya dengan perlahan.


“Sas, bawa ke dalam saja,” pinta sang ibu mertua.


“Siapa, yang kuat gendong, Mah.”


Nyonya Anggi terpaku melihat tubuh Aslan. Setelahnya pun dia tertawa saat melihat badan bongsor yang anak itu miliki.


“Nggak ada yang kuat,” ujar sang mertua. Mereka pun akhirnya tertawa bersama sambil menggelengkan kepala.


________


Malam hari, tepat pukul 9. Tuan besar Suryabrata yang baru saja datang dari luar langsung menuju ke ruang kerjanya. Dia duduk di singgasananya sambil memijat kening dan sesekali menelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.


Dia mengulurkan tangannya membuka laptop yang ada di atas meja kerjanya dan melihat sebuah email dari seseorang.


Email yang berisi rekaman cctv dari sekolah Aslan membuat urat - urat di kepalanya keluar karena menahan amarah yang menggebu di dadanya.

__ADS_1


Apalagi saat melihat cucunya hanya terdiam dan tidak berkutik saat tiga kakak kelasnya menghajar dengan menampar pipi Aslan hingga beberapa kali. Namun, di video terakhir ada hal yang membuat tuan Banu menarik ujung bibirnya melihat ketiga orang itu tiba - tiba menegakkan tubuhnya dengan raut wajah takut terlihat di ketiga bocah itu.


“Apa yang, Aslan, katakan,” gumamnya sambil melihat gerak - gerik ketiga bocah itu dengan Aslan yang tetap berdiri kokoh walau tubuh dan wajahnya sudah mendapat hantaman beberapa kali.


__ADS_2