
Pembicaraan antara pria paruh baya serta sang keponakan itu berjalan cukup serius karena baru kali ini sang keponakan ingin mengetahui tentang keluarga lain dan yang lebih mencengangkan pria matang itu menanyakan hal diluar kebiasaannya.
“Sebenarnya untuk apa kamu menanyakan semua hal ini? Apa keluarga itu bermasalah denganmu?” tanya sang Om.
Pria matang itu menggeleng cepat, “Kenal saja tidak untuk apa aku bermasalah dengan mereka, Om pikir aku tukang buat rusuh,” ujarnya sambil menenggak minuman kaleng itu.
Pria paruh baya di depannya terbahak mendengar omelan sang ponakan yang seperti celoteh anak balita itu.
“Lalu, ada apa?” tanyanya kembali.
“Tidak ada, hanya ingin tahu saja. Dan memastikan sesuatu.”
“Apa yang ingin kau pastikan? jangan - jangan .. “
“Jangan - jangan, apa?” tanya Sakha
“Kau mau merebut istri Galih, ya?”
Byur
Air soda yang barusan dia ingin tenggak tersembur hingga membasahi celananya.
“Om yang benar saja, ish basah celanaku!” pekiknya.
Pria berusia setengah abad itu tertawa keras melihat keponakan kesayangannya terkejut dan membuat insiden lucu seperti itu.
“Lalu apa?” tanyanya masih dengan tawa menghiasi wajahnya.
“Rumor yang aku dengar pria bernama Galih ini memiliki dua istri, dan aku ingin tahu siapa istri pertamanya,” ujar Sakha.
“Istri dua? Kamu yang benar, dari mana berita itu?” tanya sang om penasaran.
“Cari tahulah, makanya aku mau memastikan secara luas dan bertanya pada Om,” ketusnya.
“Setahu Om, keluarga Mahardika hanya membuat pesta pernikahan satu kali saja, jika memang benar dia punya istri dua bukankah ada dua pernikahan?”
Sakha mengangguk setuju, sepertinya dia harus sedikit bekerja ekstra agar mendapatkan info sebanyak mungkin. Karena jika di lihat anak laki - laki itu sangat mirip dengan anak pertama keluarga Mahardika. Sebelum dia tahu segala sesuatunya dengan baik dia tidak akan bisa mengambil sikap.
__ADS_1
“Lalu, untuk apa kamu kesini?”
“Jadwal rutinku bukan, dua minggu sekali aku akan kesini,” sinis Sakha.
Pria bernama Rudi itu mengangguk seraya kembali berdiri dari duduknya menuju singgasananya untuk kembali meneruskan pekerjaannya. Memiliki dua anak dan semua perempuan membuat tuan Rudi mau tak mau harus tetap bekerja di usianya yang cukup senja itu. Karena kedua anak perempuannya belum ada yang mau ikut andil di bawah naungannya. Semua ingin menjalankan bisnis mereka masing - masing.
“Lalu bagaimana, sudah dapat apa di kota pelajar?”
“Dapat apa maksud, Om?”
“Hei, mau sampai kapan seperti ini? Carilah pendamping kembali Sakha,”
“Siapa yang mau dengan pria seperti ku? Uang ku bisa menjamin mereka hingga tua? Tapi anak?” tanya Sakha membuat sang om terdiam.
“Sudahlah, aku pamit. Masih banyak yang harus aku kerjakan,” sang paman mengangguk mempersilahkan Sakha pamit dan beranjak dari ruangannya.
“Semoga ada wanita yang tulus mau menerimamu segenap hatinya, cukuplah ada yang mengurusmu dan memiliki tempat berbagi di hari tua mu, itu akan membuat ayah dan ibumu tenang menjalani hidup mereka,” gumam tuan Rudi menatap pintu yang telah tertutup itu.
***
Surya yang sedang bersinar cerah dengan sedikit condong ke arah barat menjadi penanda bergantinya waktu siang menjelang sore. Sasi si wanita kuat dan pantang menyerah itu tengah mendorong motornya yang macet di tengah jalan karena mati dengan tiba - tiba. Tangan kecilnya mulai mengotak atik motor itu saat dia berteduh di bawah pohon di pinggir jalan utama Jogja - Solo. Cukup lama dia memperhatikan kondisi motornya namun sepertinya mau tak mau dia harus membawa kendaraan roda dua itu ke bengkel karena sudah beberapa kali mencoba motor kesayangannya tetap tidak mau hidup.
“Huh”
Helaan nafasnya kembali memberikan dia kekuatan agar tetap berpikir positif tentang rencana Tuhan padanya. Dengan segenap kekuatan dia kembali mendorong motornya, Kurang lebih sekitar 200 meter lagi ada bengkel motor yang bisa membantunya.
“Panasnya, padahal udah jam 3 loh!” gerutu Sasi sambil sesekali mengusap lelehan keringat yang sudah membasahi kaos di balik jaketnya.
Tin tin
Dari arah belakangnya sebuah mobil SUV berhenti tepat di belakang Sasi. Sasi yang mengira bahwa dia menghalangi jalan mobil itu, menepikan motornya agar mobil besar itu bisa lewat namun pikirannya salah ketika mobil itu justru berhenti.
Seorang pria mungkin sekitar umur 40 tahun keluar dari dalam mobil tersebut dan menghampiri Sasi.
“Kenapa, Mbak?” tanyanya.
Sasi menatap pria dihadapannya dari atas hingga bawah, tak ada tampilan orang jahat atau sejenisnya. Namun untuk apa orang seperti bapak itu menanyakan kenapa, padanya. Sasi merasa sedikit aneh.
__ADS_1
“Mbak,” panggil pria itu menyadarkan Sasi dari lamunannya.
“Oh ya, Pak. Motor saya macet, tapi nggak tahu kenapa, sudah saya coba cari masalahnya dimana tapi tampaknya saya tetap harus bawa motor ini ke bengkel,” ujar Sasi panjang lebar.
Pria yang tengah berdiri menatap Sasi itu tidak menanggapi pertanyaan Sasi justri dia mengambil ponsel dari saku celananya dan terlihat menghubungi seseorang.
“Oke saya tunggu sekarang, cepat ya!” perintahnya pada seseorang di seberang sana.
“Sudah Mbak, tunggu sebentar ya, bantuan segera datang.”
Sasi yang mendengar kata bantuan menarik kedua alisnya membuat kerutan di keningnya. Untuk apa orang ini membantunya kenal saja tidak. Pikiran Sasi mulai tak nyaman, dia takut jika orang ini akan meminta hal lebih darinya.
“Maaf, Pak. Saya bisa membawa kendaraan saya sendiri, kurang lebih 200 meter lagi ada bengkel kok. Saya bisa kesana sendiri,” ucap Sasi merasa tak nyaman.
“Nggak apa - apa, saya juga ikhlas kok tolong Mbak. Jadi jangan berpikir yang tidak - tidak, saya tidak memungut bayaran ataupun meminta imbalan yang lain,” tuturnya.
Sasi yang tidak serta merta percaya begitu memilih tetap pada argumennya. Tapi sebelum dia bersuara sebuah mobil pick up berhenti di depannya.
“Ada apa, Pak Yudi?” tanya sang supir pick up pada pria itu.
“Tolongin Mbak ini, periksa motornya jika memnag tidak bisa di betulkan disini bawa saja ke bengkelmu ya,” pintanya. Pria dengan seragam bengkel bertuliskan salah satu merek oli itu mengangguk dan langsung mendekat ke arah Sasi.
“Bisa saya lihat Mbak?” Sasi yang tadinya ragu mau tidak mau mengangguk mengiyakan bantuan pria itu.
“Silahkan Mas,” Sasi menyingkir dari motornya dan beralih duduk disisi trotoar jalan tepat di bawah poihon.
Pria dengan kemeja batik itu melangkah mendekati Sasi, “Kalau begitu saya pamit ya, semua akan diurus Mas ini,” ujarnya.
“Tapi, Pak. Bayarannya bagaimana?”
“Saya bayar ke Bapak, atau ke Mas ini langsung?” lanjut Sasi.
“Itu gampang!” Seru pria itu.
Sasi yang masih tak mengerti dengan segala kebetulan ini terus menerka siapa pria itu, sebelum ini sepertinya dia tidak pernah bertemu dengannya.
“Ada orang sebaik itu zaman sekarang?” gumam Sasi sambil melihat mobil itu memutar berbalik dari arah tujuan Sasi.
__ADS_1