MAHLIGAI KEDUA

MAHLIGAI KEDUA
Bab 40 - Kekalutan Sakha


__ADS_3

Nathan menghela nafas dan menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya. Dia sudah menduga. Jika apa yang ia rasakan tentang Farid beberapa hari ini. Saat tak sengaja beberapa kali ia menyebut nama sang istri wajah Farid mendadak pias.


Tadinya ia berpikir mungkin Farid hanya mengenal Sasi karena memang yang ia tahu jika Farid satu kampus dengan Galih. Tapi melihat wajah Farid yang terkejut kala ia menyebut nama Galih membuatnya yakin jika memang ada sesuatu antara Farid dan istrinya itu dulu.


“Apa, aku harus tanyakan ini pada, Sasi?” tanyanya pada diri sendiri. Dia meremas rambutnya merasakan sedikit ada yang tak nyaman dalam hatinya.


Tak ingin terus - terusan berpikir yang tidak - tidak. Nathan memilih menyudahi pekerjaannya dan segera menanyakan hal ini pada sang istri. Karena bagaimanapun kedepannya, Farid dan Sasi pasti akan sering bertemu. Dia hanya ingin Farid tau, bahwa wanita yang ada di hatinya itu kini miliknya dan akan terus menjadi miliknya.


“Juwi, saya akan pulang. Tolong! Kirimkan saja, semua pekerjaan ke rumah, ya?”


“Ta .. tapi, Pak. Anda…”


Sekretaris Nathan yang bernama Juwita itu lemas seketika melihat Nathan berlalu dan menghilang. Padahal satu jam lagi Nathan mempunyai agenda pertemuan untuk membahas tender pembangunan apartemen yang akan di bangun di daerah Jakarta Utara.


Sambil menunduk dan melihat layar komputernya wanita itu menjambak rambutnya karena kesal. Karena setelah ini jelas - jelas ia akan mendapat omelan dari klien karena tingkah atasannya itu.


“Kamu kenapa?” Tanya Farid yang keluar dari ruangannya.


“Tuan Sakha, pulang. Padahal satu jam lagi ada meeting bersama PT. Angkasa.”


Farid menghela nafas ringan. Dia tahu Nathan tidak akan tinggal diam setelah mengetahui jika dirinya mengenal Sasi jauh sebelum atasannya itu bertemu dengan Sasi. Jauh dilubuk hati Farid juga sedang bertanya - tanya, kenapa justru bukan dirinya malah Nathan yang bertemu dengan wanita itu dan hingga menjadi pasangan suami istri.


Selama Nathan berada di Jogja, Fardi memang tidak pernah tahu menahu apa saja yang dilakukan atasannya itu disana. Karena tugas yang diembankan oleh tuan Banu padanya membuat Farid tak pernah memikirkan hal lain selain pekerjaannya selama menggantikan posisi Nathan. Jika bukan tuan Banu yang memberitahu padanya lewat sebuah pesan singkat, Farid tidak akan tahu jika atasannya itu menikah.


“Semoga saja, Sasmitha tidak mengatakan semua kebenarannya. Jika, iya. Semua pasti akan menjadi canggung.” Benak Farid terdiam menatap pintu atasannya yang tertutup hanya separuh itu.


Sepanjang perjalanan Nathan melamun, dia bingung darimana ia akan bertanya tentang masa lalu istrinya itu. Bahkan saking tegangnya terdengar beberapa kali tarikan nafas dari hidung mancungnya itu.


Setelah berjibaku dengan ramainya jalan utama. Kini Nathan telah sampai di kediamannya. Tanpa menyapa sang ibu yang sedang ada di halaman bersama dengan para maid, Nathan langsung masuk kedalam rumah begitu saja.

__ADS_1


“Sayang,” Sasi berdiri dan mengibaskan kedua tanganya.


“Kenapa, Ma? Mama, mau masuk? Nggak apa - apa biar aku sama, Bu Rina, yang teruskan ini.” Ucap Sasi yang mengira jika papa mertuanya lah yang datang.


“Bukan, Mama. Tapi kamu yang harus masuk.”


Sasi mengerutkan dahinya mendengar ucapan mama mertuanya. “Kena…”


“Mah!” teriak Nathan dari dalam rumah.


“Sas, ngumpet!”


“Bu Rina, cepet umpetin Sasi, cepet!”


Sasi yang tidak mengerti hanya menurut dan bersembunyi mengikuti bu Rina.


“Mah!” Seru Nathan sambil celingukan karena tak melihat sang istri dimanapun.


“Istriku, mana, Ma? Dikamar, di dapur, di ruang baca juga nggak ada.” Wajah kebingungan Nathan membuat sang ibu menduga - duga, jika pasti ada hal penting yang membuat anaknya pulang di waktu yang tak biasanya ditambah wajah paniknya mencari istrinya seakan - akan istrinya kabur ke Arab.


“Istrimu, pergi.”


Setelah mengatakan itu nyonya Anggi kembali berjongkok untuk menata tanah - tanah itu untuk tanamannya yang baru.


“Pe…pergi?” Nathan tergagap. Ia mulai berpikir yang tidak - tidak. Karena selama di kediaman ini Sasi tak pernah keluar rumah kecuali dia yang mengajaknya.


“Mama, jangan bercanda, dong!”


“Nggak, siapa yang bohong. Makanya kalo punya istri itu jangan dikurung terus. Kaburkan, jadinya.”

__ADS_1


Sang ibu tidak melihat jika bulir - bulir keringat di dahi sang anak sudah mengalir deras. Rasa cemas membuat degup jantungnya sedikit kencang dan mulai membuat nafasnya kian memburu.


“Mama, bohongin, Sakha. Nggak mungkin, Sasi, pergi tanpaku.”


Nada lemah yang terdengar dari mulut sang anak sontak membuat sang ibu menoleh. Dia terkejut melihat wajah pucat anak semata wayangnya itu.


“Kamu, kenapa?” tanya sang ibu mulai ikut panik. Sedangkan bu Rina dan Sasi yang berada di belakang gazebo hanya saling menggeleng tak mengerti.


“Mah, jangan bercanda dong. Ponsel istri Sakha, juga di tinggal gitu ajah di kamar. Kenapa, Mama, izinin Sasi pergi tanpa Sakha.”


Sang ibu yang mulai melihat gelagat aneh sang anak. Langsung mengkode sang menantu agar keluar dari persembunyian. Bu Rina yang melihat itu langsung mengajak Sasi keluar.


“Kenapa, Mas?”


Suara lembut nan merdu bagai hujan di gurun pasir membuat Nathan yang terduduk di lantai langsung mendongak menatap dimana sumber suara itu.


“Sayang,” ujar Nathan.


Dia berlari dan langsung memeluk Sasi. Dia dekap wanita itu dan mengusap surainya lembut. Namun tanpa mereka semua duga, Nathan tiba - tiba menari Sasi dengan kasar dan membawanya masuk kedalam rumah.


Nyonya Anggi yang melihat sinar mata sang anak sama seperti beberapa tahun lalu itu langsung memegang dadanya dan berteriak memanggil bu Rina, agar mengikuti kemana Nathan membawa Sasi.


“Sakha, Mama, yang salah. Jangan tarik, Sasi seperti itu, Nak!”


“Sakha!” teriak sang ibu.


Sedangkan Nathan, bagai tuli dan buta ia tetap menarik tangan Sasi kasar hingga mereka sampai di kamar tak menyadari jika sang istri sudah menahan rasa takut didadanya.


\_\_\_\_\_\_\_\_

__ADS_1


Kira - kira ada apa dengan Sakha, ya?


__ADS_2