MAHLIGAI KEDUA

MAHLIGAI KEDUA
Bab 36 - Keisengan Nathan


__ADS_3

Sasi yang kalut, takut jika suaminya mengalami hal buruk langsung turun ke lantai dasar hanya dengan memakai baju tidurnya. Dilihatnya kedua mertuanya tengah menenteng sebuah tas kecil dan menuju ke pintu keluar.


“Ma, Pa!” teriaknya.


Dua paruh baya itu langsung menoleh dan menatap Sasi yang tampak ketakutan.


“Kenapa, Sayang?” tanya sang ibu mertua.


“Mas, Mas Nathan…”


“Nathan? Kenapa, dia?” tanya keduanya sambil saling menatap satu sama lain.


Sasi yang baru sadar jika hanya mendengar nama Nathan di sebut tanpa alasan yang tepat menoleh ke belakang mencari Hana. Sasi celingukan dan tak melihat Hana disana.


“Ta .. tadi Hana mengatakan jika…”


Sasi terdiam karena dia juga tidak tahu suaminya kenapa.


“Jika, Apa, Sayang?” Suara bariton yang sudah hampir dua minggu tak ia dengar secara langsung tiba - tiba muncul dari arah dapur.


“Mas!” Sasi terkejut melihat Nathan sudah datang dan masih mengenakan jasnya.


“Sakha!” seru sang ibu. Wanita itu kini paham kenapa menantunya ketakutan tanpa alasan jika bukan karena ulah anaknya, Siapa lagi?


“Mas, nggak apa - apa? Baik - baik saja?”


“Memangnya, kamu mengharapkan apa dari kondisiku?”


“Tapi, tapi tadi Hana…”


Hana yang di suruh untuk membuat Sasi terkejut langsung datang ke hadapan para tuan dan nyonya itu.


“Maaf, Nyonya Muda. Tadi, Tuan Sakha meminta saya membuat Anda terkejut,” cicitnya takut.


Tuan Banu dan sang istri merotasikan bola matanya malas. Pantas ketika datang sang anak tidak langsung menuju ke lantai atas melainkan berdiam di dapur, ternyata ini alasannya.


“Lalu, Mama dan Papa, bawa tas mau kemana?”


Tuan Banu dan sang istri menghela nafas, “Kami akan ke Jogja. Ada kasus bunuh diri di hotel satu jam lalu.” Ujar papa mertuanya


Mata Sasi terbelalak mendengar hal yang cukup membuat bulu kuduknya merinding, “Bu.. bunuh diri?” Keduanya mengangguk.

__ADS_1


“Sakha, jaga istrimu dan Aslan selagi kami pergi,” titah sang papa.


“Baik, Pah. Aku akan selalu menjaga istriku yang panikan ini,” ucap Nathan sambil memeluk Sasi dan tertawa geli.


Kedua pria paruh baya itu berpamitan dan langsung menuju ke dalam mobil mereka. Sasi pun ikut mengantar hingga ke halaman depan dan tak lupa mencium pipi mama mertuanya dan mengucapkan hati - hati. Keduanya bertolak ke Jogja menggunakan jet pribadi yang digunakan oleh sang anak tadi sore.


“Yuk!” Nathan memeluk pinggang sang istri namun Sasi menghindar.


“Kenapa?”


“Mas Nathan, tidur di kamar tamu! Ake kesel!”


Sasi berjalan cepat dan sedikit berlari menaiki tangga. Namun apa daya kaki jenjang dan lebarnya langkah sang suami mengalahkan langkahnya yang kecil. Gerakan secepat kilat Nathan gunakan untuk menghalau sang istri agar tak berhasil menutup pintu.


“Mas, awas, ih! Sasi kesel sama, Mas Nathan!”


“Maaf, Sayang. Bercanda,” pungkasnya.


“Nggak ada, Mas Nathan, jahat. Bercandanya juga nggak lucu!”


“Oke, oke! Nanti, Mas, akan belajar bercanda yang lucu, ya. Tapi sekarang maafin dulu, ya, Sayang?”


“Gimana? Maafin, ‘kan?” rayu Nathan karena dia tidak ingin kehilangan momen indah yang sudah ada di otaknya bahkan sebelum pesawatnya lepas landas.


Sasi menghela nafas. Mana mungkin dia bisa mengabaikan orang yang sudah sangat ia rindukan ini. Sasi melepas genggaman pada daun pintu dan berjalan masuk kedalam kamar. Dia dudukan bongkahan sintalnya itu ke sisi ranjang dan mengambil satu bantal untuk ia taruh di atas pahanya.


Nathan yang masih melihat Sasi memajukan bibirnya, kesal. Mencoba mendekat dan duduk tepat di sisi sang istri.


“Masih marah?” tanya Nathan.


“Sasi, nggak marah. Tapi kesel!”


Nathan langsung mencium kepala sang istri dan menghirup rakus bau tubuh istrinya, “Mas kangen. Habisnya, Mas pulang nggak disambut, ngapain sih di kamar terus?” rengeknya membuat Sasi tersenyum.


“Tadi, Sasi dan Mama di bawah nunggu, Mas, datang. Tapi setelah adzan isya’ dan suamiku ini belum datang juga, ya udah aku balik ke kamar. Sholat isya’ di kamar. Selepas mengaji, Sasi lihat ponsel, kaget kok udah jam 8.”


“Lalu, Mas, baru saja datang atau sudah dari tadi?” lanjut Sasi bertanya.


“Mas, datang saat kamu masih mengaji tadi. Karena tidak ingin mengganggu. Akhirnya, Mas, putuskan melihat Aslan, ternyata dia sedang belajar. Pas mau ke ruang kerja, Papa. Papa udah keluar duluan dengan wajah panik.”


“Karena kabar tadi ya, Mas?” Nathan mengangguk.

__ADS_1


“Kok, bisa, Mas?”


“Belum tahu, Sayang. Kita tunggu kabar dari, Papa dan Mama, saja.” Sasi mengangguk kembali dan melepas bantal yang di pegangnya.


“Mas, belum mandi, ‘kan?” Nathan mengangguk.


“Bersih - bersih dulu, habis itu istirahat, ya?”


“Siap, Mas, mandi dulu, ya. Tapi…”


Sasi menunggu kata - kata lanjutan dari mulut Nathan sambil melebarkan kedua matanya.


“Tapi, kamu jangan tidur dulu. Ada yang, Mas mau kasih.”


“Iya, mandi, gih.”


Nathan mengecup bi*bir sang istri sebelum akhirnya berdiri dan berjalan ke kamar mandi sambil melepas jasnya dan menaruh ponsel di nakas. Di dalam kamar mandi Nathan memasuki bathup yang sebelumnya sudah disiapkan sendiri air hangat yang kini memenuhi tubuhnya.


Nathan memejamkan mata sambil mengingat sebuah pesan yang dibacanya beberapa saat lalu. Dia kini bertanya pada dirinya apakah pendapat seseorang itu benar atau kini dia sudah memantapkan hatinya. Nathan terus mencari wajah yang ia harap akan terus muncul ketika ia memejamkan mata tanpa melihat wajah orang lain. Setelah beberapa saat memejamkan matanya, akhirnya Nathan membuka matanya.


“Maaf, dia kini satu - satunya. Bahkan aku tidak bisa menghilangkan rasa debar di hatiku saat bersamanya, Maaf.” gumamnya.


Sasi yang sedang merapikan sprei terkejut kala mendengar getar yang cukup kencang dari ponsel yang ternyata milik suaminya.


“Siapa, ya? Telepon atau pesan, nih. Getar terus.”


Sasi melihat layar ponsel Nathan dan melihat sebuah nomor tanpa nama sedang memanggil. Namun, Sasi ragu untuk mengangkatnya karena dia takut mengganggu privasi suaminya. Tak lama getar itu berhenti dan menampilkan sebuah pesan yang tidak bisa dibaca secara lengkap karena ponsel Nathan terkunci.


“Kenapa, Sayang?”


Sasi terkejut dan hampir saja menjatuhkan ponsel milik suaminya. Dia buru - buru menoleh dan meletakkan ponsel yang hampir saja pesan yang ada disana terlihat oleh kedua matanya.


“Maaf, Mas, ada telepon dan pesan kayaknya penting deh. Karena hampir beberapa kali.”


“Dari?” Sasi menggeleng.


“Buka saja atau kalau ada telepon angkat saja, Sayang. Tidak apa - apa,” ujar Nathan sambil berjalan mendekat ke Sisi sang istri.


“Tidak, Mas. Bagaimanapun kamu punya privasi yang tidak bisa aku ganggu, ‘kan? Selama kamu melakukan hal yang baik dan tidak memainkan kesetian hubungan kita, bagiku itu sudah cukup.”


Nathan yang mendengar kata – kata itu merasa sedikit sakit di dadanya. Bahkan hal seperti ini istrinya tetap menjaga perasaan Nathan dan tak ingin terlalu ikut campur akan urusannya. Jika wanita seperti ini masih dia sia - siakan. Apa bedanya dia dengan Galih?

__ADS_1


__ADS_2