MAHLIGAI KEDUA

MAHLIGAI KEDUA
Bab 29 - Aku tahu, dia siapa


__ADS_3

Nathan yang masih tertawa menjadi pusat perhatian para pengunjung food court yang ada di lantai 4 mall tersebut. Mereka bahkan saling berbisik mengatakan jika pria itu sangat tampan apalagi dengan tawa yang tersungging di wajahnya. Namun seorang di belakang meja Nathan dan Sasi mulai berceloteh yang membuat Nathan mengeraskan rahangnya.


“Iya, ganteng. Tapi sayang, istrinya norak.”


Kata yang terlontar begitu lancarnya dari mulut wanita berpakaian kurang bahan itu membuat Nathan berdiri dan ingin menghardiknya. Sasi yang tidak paham ada apa dengan sang suami hanya melihat Nathan berdiri dan mulai berkata tajam pada wanita di belakangnya.


“Tidakkah, Anda mengaca jika penampilan Anda, lebih mengerikan daripada istri saya!” Sarkas Nathan.


Wanita yang berpakaian sedikit menampilkan paha mulusnya itu seketika membulatkan matanya menatap Nathan. Dia yang datang beberapa saat setelah Sasi dan Nathan memesan minuman. Dari dia duduk ia sudah mulai berbisik bersama dengan teman sebelahnya sambil menelisik penampilan istrinya yang tengah memakai gamis dan hijab yang menutupi hampir seluruh tubuhnya. Nathan sengaja tertawa sedikit keras karena dia tidak ingin sang istri mendengar perkataan wanita itu.


“Jika, Anda tidak meminta maaf pada istri saya. Saya, akan melaporkan perilaku Anda atas pencemaran nama baik!” hardik Nathan. Wanita itu seketika bangun dari duduknya dan berseloroh.


“Anda, jangan sembarangan berbicara. Mana buktinya?” Wanita itu berkata sambil berkacak pinggang dengan sombongnya.


Sasi yang cukup familiar dengan suara itu memegang kedua tangannya berharap jika wanita itu bukan seseorang yang dikenalnya. Dia pun mulai membujuk Nathan agar sang suami bersabar dan tak membuat suasana semakin riuh.


“Mas, sudah ya. Malu, semua lihatin. Mas.”


“Tidak apa, Sayang. Wanita bermulut tajam seperti orang itu memang sesekali harus diberi pelajaran. Mas, yakin tidak kamu saja yang menajdi bahan gunjingannya di tempat umum.”


Sedangkan wanita yang berada di sampingnya mulai melihat Nathan sambil menelisik wajah serta guratan ketampanan yang dimiliki pria itu. Matanya pun langsung membulat, saat salah satu nama petinggi sebuah perusahaan yang sedang menaunginya terlintas di pikirannya begitu saja.

__ADS_1


“Astaga, dia, Pak Sakha!” jeritnya dalam hati. Wanita yang merupakan salah satu staf di bagian marketing itu seketika menarik tangan temannya dan berbisik agar segera meminta maaf. Namun, karena kesombongan yang sudah dimilikinya membuatnya tinggi hati dan arogan. Merasa menjadi istri seorang pengusaha dan keluarga terhormat membuatnya lupa diri.


Sedangkan para pengunjung yang melihat Nathan membela Sasi terus - terusan. Membuat mereka merasa kagum dan terharu.


“Mas, sudah ya. Kita mendingan turun ke bawah cari, Aslan, Mami, dan Papa. Yuk!”


Sasi menarik tangan Aslan tanpa mau membalik badannya. Namun karena Nathan masih kesal, dia menarik sang istri agar berhadapan dengan wanita itu.


“Lihat, istri saya yang baik dan cantik ini. Tidak tersinggung bahkan marah. Jadi Anda yang tidak punya urat malu ini harusnya sadar.”


Sasi yang tak berani mendongak hanya terus menunduk. Dia meremas kedua tangannya sambil menggigit bibirnya. Degup jantungnya pun mulai berpacu tidak beraturan. Dia enggan memandang ke depan karena dia takut jika wanita di hadapannya ini adalah seseorang yang berada di pikirannya saat ini.


“Jadi ini istrinya, Pak Sakha, yang bikin heboh kantor beberapa hari lalu. Semoga, Pak Sakha nggak mengenaliku. Kalau sampai tahu siapa aku, mampus aku!" teriaknya dalam hati.


Sasi yang tak ingin dikenali oleh wanita tersebut langsung menggeser tubuhnya dan menarik tangan Nathan agar menjauh dari sana.


“Sayang,” panggil Nathan pada Sasi yang terus menyeret tangannya hingga mereka keluar dari food court tersebut.


“Kenapa, sih!”


Nathan kesal karena Sasi memilih kabur daripada memenjarakan wanita itu.

__ADS_1


“Sudah lah, Mas. Kemana wibawamu sebagai seorang CEO. Jangan gara - gara aku, kamu nanti di cap jelek oleh orang - orang.”


Nathan membuang nafas kasar. Dia tak paham, kenapa istrinya memikirkan pendapat orang lain ketika melakukan hal yang baik dan benar. Dia sungguh tidak suka dengan sifat Sasi yang seperti ini.


“Sekalipun, aku seorang Presiden. Ketika istriku dihina aku harus berada di garda depan, Sayang.”


Sasi menghela nafasnya. “Iya, Mas. Sasi tahu, hanya saja…”


Sasi melipat bibir dan menghentikan ucapannya. Dia takut jika berkata yang sebenarnya justru akan membuat Nathan semakin kesal.


“Karena dia, istri mantan suamimu? Bukan begitu!”


Sasi mendongak menatap tak percaya jika sang suami tahu siapa wanita itu sebenarnya.


“Ma.. Mas, tahu si.. siapa dia?”


Nathan mengangguk. Dia menarik Sasi ke dalam pelukannya dan mengusap punggung itu perlahan.


“Aku tahu dia, aku tahu mantan suamimu bahkan keluarganya dan seluruh harta yang mereka miliki.”


Di dalam pelukan itu Sasi mulai berpikir sehebat apa sebenarnya suaminya ini. Hingga dia tahu dengan sangat baik keluarga mantan suaminya itu. Karena yang Sasi tahu, keluarga Mahardika juga merupakan keluarga yang cukup tersohor. Namun karena dia bukan dari kalangan atas, yang dia tahu keluarga mantan suaminya itu masuk kedalam jajaran keluarga kaya yang cukup diperhitungkan. Tapi sepertinya sekarang, apa yang selama ini dia sangka tidak begitu kenyataanya.

__ADS_1


__ADS_2