MAHLIGAI KEDUA

MAHLIGAI KEDUA
Bab 52 - Rem Blong


__ADS_3

Nathan mengangkat pan*tatnya dan menghampiri sang istri yang masih nampak berpikir disana.


“Apa, buku - buku ini lebih menarik dari suamimu yang sedang bekerja?”


Sasi menatap buku - buku yang berserakan di meja. Dia pun mengamati satu persatu dan sedetik kemudian ia baru menyadari jika ia telah larut dengan buku- buku itu tanpa memperdulikan suaminya yang sedang bekerja. Tapi dia melakukan ini agar tidak bosan dan mengganggu pekerjaan Nathan. Lalu, dimana kelirunya?


“Bukan gitu, Mas. Aku hanya ingin tetap tenang agar tak mengganggumu bekerja. Atau justru hal yang aku lakukan, mengganggumu?”


Nathan menghela nafas, fiks pesonanya telah dikalahkan oleh buku - buku itu. Padahal niatnya mengajak Sasi ke kantor agar wanita itu melihat bagaimana kerennya saat ia bekerja. Tapi sayangnya semua itu tidak terjadi. Sungguh kasihan.


“Tadi, Mas, mengatakan mengasah kemampuan? Untuk apa?”


Nathan dengan wajah memelasnya menggeleng dan kembali duduk disinggasananya.


Sasi yang tak mengerti ada apa dengan prianya itu hanya mengedikkan bahu dan kembali mengambil buku untuk ia baca. Sedang Nathan hanya bisa menangis dalam hati melihat sang istri kembali berkutat dengan buku - buku itu.


“Sepertinya, besok aku harus rombak semua desain ruangan ini. Agar semua buku di pindahkan saja ke kamar, eh.. tapi kalau ke kamar?” Senyum licik terbit di ujung bibirnya. “Benar, aku taruh di kamar saja semuanya.”


Nathan mengangguk - anggukan kepalanya dan kembali meraih pena yang sempat ia letakkan tadi. Tak lama seorang OB datang membawa pesanan Sasi dan beberapa camilan yang sengaja Juwi pesan agar teh itu tak kesepian.


Sore akhirnya datang dengan semburat jingga yang indah di ufuk barat. Sasi yang lelah akan huruf dan angka yang ia lihat kini sedang tidur di kamar yang biasa Nathan gunakan untuk ia beristirahat. Tadi, tanpa sengaja setelah sholat ashar, sang istri ketiduran dan langsung tergeletak begitu saja di sofa. Nathan yang tak ingin tubuh sang istri sakit karena tertidur di sana akhirnya membawa tubuh lunglai itu ke dalam kamar miliknya.

__ADS_1


Sasi yang begitu nyenyak sampai tak menyadari jika kini ada seorang pria yang menciumi seluruh wajahnya dengan sangat gemas. Tapi rasa penasaran dengan sikap sang istri sekeluarnya dari rumah sakit tadi masih bergelayut di pikirannya.


“Apa sih, yang kamu pikirkan? Apa dia tidak senang, akan peluang yang Lintang katakan, tapi kenapa? Bukankah selama ini dia paling antusias akan kesembuhanku. Bahkan, Papa dan Mama, saja sudah menyerah dan pasrah.” Benak Nathan terus bergumam sambil terus mengusap kening sang istri.


“Aku akan tanyakan, dan kuharap jawabanmu tidak membuatku merasa bersalah.” Lanjutnya lirih.


***


Satu minggu berlalu. Aslan yang meminta untuk di ikutkan les memanah dan berkuda akhirnya diapresiasi oleh sang eyang dan papi sambungnya. Tadinya kedua pria beda masa remaja itu berpikir jika Aslan hanya akan berkutat dengan pelajaran tanpa mau mengambil atau melakukan hobi yang lain. Tapi tanpa mereka duga, Aslan tiba - tiba meminta untuk dibelikan alat panah. Sedang untuk kegiatan musik Aslan meminta Drum lengkap dengan ruangannya.


Tapi semua yang Aslan minta ini tidak luput dari izin yang telah ia dapat dari ibunya. Sasi yang lebih dulu berbicara dengan sang ibu mertua akhirnya membuat Aslan berani mengutarakan semua keinginannya pada eyang kakung dan papinya.


“Eyang, bangga. Akhirnya kamu mau meminta sesuatu yang bisa membuat salah satu kartu yang ada di dompet Eyang akhirnya kembali di gesek.” Tutur tuan Banu.


“Memangnya selama ini, kartu itu tak pernah digunakan?” tanya Nathan sambil menyeruput susu hangatnya.


“Memangnya mau di gunakan untuk apa? Mamimu tidak pernah mau menggunakannya. Untung saja Aslan meminta sesuatu, jadi, Papa, bisa gunakan kartu itu sekarang. Jika hanya jalan - jalan dan keperluan sehari - hari dan kebutuhan, mamamu, semua sudah ada ditangannya. Jadi kartu, Papa, ‘kan nganggur.”


“Kasih saja untuk, Sakha, kalau begitu.”


“Enak saja, lalu mau kamu kemanakan kartu - kartumu itu?”

__ADS_1


“Aku taruh di brangkasku. Karena tidak mungkin, Sasi, menggunakan. Dia sudah aku berikan dan cukup untuk memborong satu mall.” Ujar Nathan menyombongkan diri. Namun sayang, senyumnya langsung pudar seketika saat sang ayah membalas ucapannya.


“Cih! Satu mall. Memang kapan kau akan membiarkan istrimu itu belanja? Kemana - mana saja dibuntuti olehmu.”


“Ish, kaya, Papa, nggak aja.” Kesal Nathan.


Aslan dan para dua wanita yang sedari tadi melihat kedua pria punggawa kediaman itu saling membanggakan diri merotasikan kedua mata mereka kecuali Aslan. Bocah 9 tahun itu justru sedang terdiam dan memikirkan sesuatu.


“Papi, memangnya kalau kita sudah menikah, kita harus punya uang banyak agar istriku nanti bahagia, ya?”


Nathan menelan kue itu bulat - bulat dan memandang ke arah Aslan. “Bukan hanya uang, Sayang. Tapi, iman dan kecerdasan menangani setiap masalah juga harus kamu asah dari sekarang. Kamu laki - laki, tidak boleh lemah. Kamu harus jadi perisai terutama untuk diri sendiri, agar istri dan ibumu selamat.”


“Tapi, Papa Galih juga kaya dan berpendidikan. Bahkan Kakek dan Nenek juga bukan orang miskin. Lalu, kenapa mereka justru menelantarkan aku dan Mama malah memilih tetap bersama dengan wanita itu?”


Tuan Banu, Nyonya Anggi serta sepasang suami istri itu menelan makanan mereka susah payah. Tak tahu harus menjawab pertanyaan Aslan dengan jawaban seperti apa. Karena memang anak itu cukup tahu apa yang terjadi dengan kedua orang tuanya dan bagaimana keluarga Galih memperlakukan Sasi hingga terasingkan di tempat dimana kedua ibu dan anak itu tak memiliki siapapun.


“Jika kekayaan, bisa membuat semua orang bahagia, kenapa justru, Papa Galih, menyakitiku dan Mama hingga seperti itu. Bahkan aku pernah melakukan mogok makan hanya karena ingin pulang menemui, Mama.”


Aslan menggigit bibirnya karena mengatakan hal yang seharusnya ia simpan sendiri. Sedang Sasi sudah memusatkan kedua netranya pada anak semata wayangnya.


“Maksudmu?”

__ADS_1


Aslan menundukkan pandangannya dari sang ibu sambil mengigit bibirnya dan terus bergumam menyalahkan mulutnya yang tak bisa ia kendalikan.


__ADS_2